Perjalanan Menuju Tuhan dalam Kisah 5 Menara




'Hidup itu dapat kau ketahui setelah kau jalani, bukan saat kau pikirkan. Jalani saja dulu baru pada akhirnya kita paham mana yang baik, mana yang tidak ,seperti saat bapak tawar menawar kerbau tadi'


Itu adalah salah satu penggalan kalimat yang cukup menguncang nurani saya ketika menonton film 5 menara. Perbincangan yang sederhana antara Alif dan bapaknya di pinggir danau Maninjau telah menampilkan sebuah benturan antara alam imajinasi dan realitas, sebuah dealektika antara materialisme dan pandangan yang bersifat profan bahkan mungkin spritualitas.



Atau antara perjalanan menuju Tuhan dan keduniawian.

Kisah film 5 menara yang diangkat dari sebuah novel yang katanya merupakan perjalanan hidup sang penulis Ahmad Fuadi tentu telah mengalami reproduksi dan representasi kembali dalam dunia material. Ketika kata berubah menjadi visual pastinya membawa satu masalah, sebab fantasi yang dibentuk oleh kata telah lenyap dan berganti dengan sosok-sosok berbeda dari ralitas itu sendiri, sekali lagi demi pemuasan hasrat tontonan.

Contoh yang paling sederhana,adalah ayah alif apakah memang tampan seperti David Chalik?

Tapi tentu itu tidaklah menjadi soal yang terlalu penting, bahkan mungkin menjadi keabsahan karena kita berada pada sebuah masyarakat yang mementingkan citra tontonanya bahkan penonton Islam sekalipun, tetap butuh ketampanan untuk melengkapi citra kesucian dan kesempurnaan.

Tapi yang perlu diapresiasi dalam film ini telah mencoba menjadikan islam dan kesucianya menjadi sesuatu yang manusiawi, sederhana, bahkan mungkin mampu mengucang nurani orang-orang seperti saya yang sedang melakukan sebuah upaya perjalanan menuju alamat Tuhan. .



Setiap schen film ini seolah ingin menarik kita pada satu ruang bahwa setiap orang tidak bisa melepaskan kondisi kulturalnya dan cara mereka mencari jalan Tuhan, Baso yang besar tradisi keislaman gowa, Alif dengan kekentalan keislaman padangnya, raja dan kedua sahabat mereka lainya punya karakter berbeda dan cita-cita berbeda juga melakukan perjalanan menuju menara mereka yang akan mengantarkan mereka menjadi bagian dari 'penyeru islam'menuju berbagai pelosok dunia agar menjadi orang-orang 'besar'.Termasuk memberikan saya ruang untuk memilih apakah menjadi Hatta atau Hamka, menjadi Habibie atau Ibnu Batutah, memilih menara Eifel atau menara pondok pesanteren Madani. Atau mungkin kita memilih sosok kyai pemilik pondok pesanteren atau menjadi Ikang Fauzi yang setiap hari menyerukan prodak onclinic dilayar kaca kita.

Semua toh adalah perjalanan yang mesti kita lalui yang tentu saja akan mengalami berbagai benturan, rintangan tapi dengan sprit 'man jadda wajadah' semuanya semoga bisa terlewati.

Posting Komentar

0 Komentar