Semoga Rambu Jalannya Tidak Salah..

Aku melihat kalian dilayar kaca.Ada sebuah mobil yang katanya menjadi simbol dari prodak imprealis yang benar-benar menjadi merah lalu hitam, Tak lama kemudian, mobil itu menjadi puing yang terlupakan.


Demikian pula galon-galon gas yang pernah jadi selebriti serupa 'bom atom dimasa lalu', kalian jarah dan katanya kalian bagikan kepada masyarakat. Adapula batu yang beterbangan yang mungkin hinggap sesekali dikepala mereka yang berbaret, tapi tidak sedikit yang meleset menghajar orang-orang yang mungkin sekedar lewat.

Tak ada yang salah dari apa yang sedang kalian perjuangkan. Aku bukan seorang yang ingin menghukumi keberanian dari logika yang kalian anut. Karena aku juga sama seperti kalian marah, meradang, atas pemerintahan kita yang demi alasan stabilisasi ekonomi,memberikan keadilan, menjaga APBN dan melindungi perekonomian dalam negeri harus mengorbankan kita rakyat kebanyakan.

Padahal soalnya sederhana, pemerintah sendiri yang tidak pernah mampu menjaga BBM bersubsidi kepada yang berhak, tak pernah serius membangun dewan energi nasional untuk mempersiapkan industri migas dalam negeri dan tata regulasinya, selain berbagai soal yang mereka tidak pernah siapkan untuk melakukan antisipasi situasi global, maka solusinya lagi-lagi kita yang dikorbankan! kita yang kebanyakan, kita yang paling mudah diajak percaya!

Tapi terlepas dari semua hal itu, kemarahan kita, kebencian kita dan berbagai aksi kongkrit yang ingin kita lakukan kita juga mesti menghitung agar apa yang kita lakukan bukan hanya didasarkan oleh kemarahan itu saja, bukan karena marah kita lantas membakar, bukan karena marah kita lantas melepari pria-pria berbaret dan berseragam itu. Kita harus meluruskan tujuan kita, bahwa apa yang kita lakukan demi cita-cita besar dan demi keinginan untuk rakyat kebanyakan!

Jangan pula hanya karena 'kemarahan' rambu jalan kalian, kemudian diubah oleh mereka yang memiliki keinginan sesaat. Mereka yang senantiasa menjadikan kita yang kebanyakan sebagai bidak, sementara mereka berlindung dibalik benteng dan kuda mereka.Sementara kalian menjadi musuh oleh yang kebanyakan diluar tembok kampus kalian, lalu kitapun berlalu seperti mobil dan gas yang kemudian berubah menjadi puing yang terlupakan!



abang,,,,

Posting Komentar

2 Komentar

  1. menurut abang, rakyat yang manakah yang mereka bela? karena selama ini 'atas nama rakyat'. dan pemerintah seperti apakah yang tidak mereka sukai? karena selama ini sepertinya pemerintah selalu salah di mata mereka (IMHO)

    BalasHapus
  2. rakyat yang menurut mereka sama seperti pikiran mereka, kita sekalipun tak boleh menghukumi apa yang perjuangkan sebuah catatan mesti tetap kita buat bagai mereka yang 'marah'agar tidak mengorbankan siapapun demi kemarahan mereka

    BalasHapus