CATATAN DARI PANGGUNG KEPANGGUNG

Resensi ini ditulis oleh Sasliansyah Arafah
Penulis dan Penggiat Komunitas Beranda Baca Makassar


Sebuah napak tilas pertunjukan di panggung politik. Buku Negeri Panggung Sandiwara, Sebuah kumpulan Esai Komunikasi Politik, mencoba mengangkat dari ingatan kita tentang cerita yang diperankan oleh politisi negeri ini, bersandar pada teori Dramaturgy yang diperkenalkan Erving Goffman, seorang professor Sosiology yang sangat dihormati di Universitas Barkley, dalam bukunya ‘The presentation Of self in everyday” disini Goffman melihat bahwa Citra, Lakon Dan Kuasa menjadi bagian dalam berbagai arena sosial, khususnya arena politik.

Ada panggung depan dan panggung Belakang, tempat para aktor menampilkan dirinya secara berbeda, Rahmat. M. Arsad, Mencoba Masuk Keruang pertunjukan, menyaksikan secara langsung apa yang dilakukan oleh para aktor di dua tempat yang berbeda ini, dengan pendekatan kritis, rekaman kejadian berhasil ditampilkan secara “telanjang”, membuka sekat yang seolah memisahkan kedua ruang ini, yang ternyata membuat banyak pihak khususnya para aktor “tersengat” ketika diperlihatkan apa yang telah mereka lakukan.

Secara mendalam. Lalu Lintas Komunikasi Politik yang ditampilkan para aktor berhasil dicatat, di buat menjadi sebuah mozaik, tentang negeri dan para aktornya yang memilih peran mereka, ataupun yang terpaksa memilih perannya, karena hasrat akan eksistensi, hsarat akan kuasa, hasrat akan pengakuan, menjadi segalanya di panggung tempat mereka harus tampil.

Bagi Rahmat, yang berlatar belakang Akademis magister Komunikasi, Menarik mengamati perilaku para aktor di panggung, saat mereka berusaha memainkan perannya sebaik mungkin, mengikuti tuntunan skenario, dan tentu saja keinginan untuk memberikan kesan, saat mereka tampil di Front Stage (panggung depan) inilah riuh penonton memberi jalan bagi mereka untuk menikmati “ekstase panggung” yang seolah membuat mereka lupa, dan akhirnya melakukan akting yang tidak sesuai dengan skenario yang telah dibuat, dan akhirnya membuat kekacauan di panggung pertunjukan yang telah dibuat, sekali lagi ini terjadi pada panggung politik.

Dibuka dengan lakon Nyanyian si Burung Nazar (hlm 3), Sahabat-sahabatnya memanggilnya Nazar, Padahal nama sebenarnya adalah Muhammad Nazaruddin. Mungkin akibat sapaan akrab kawan-kawannya itu, Nazaruddin benar-benar bermetamorfosis menjadi sosok burung Nazar. Nazar Bendahara Demokrat, tiba-tiba menjadi terkenal, tapi sedikit yang tahu siapa sebenarnya si burung Nazar. Namun Kini Nyanyian Nazar selalu riuh rendah akan komentar ada yang bertepuk tangan, ada yang miris, adapula yang meringis. Banyak yang berharap agar Nazar segera bersuara menyelesaikan lagunya, agar pentas segera usai, karena sudah terlalu panjang dan sering pentasnya dibahas, didiskusikan, dan menjadi bahan perdebatan.

Membicangkan Nazar di panggung adalah membincangkan tentang kekuasaan sebuah rezim, rezim yang telah menentukan anggota tim dramanya, menjadi pemenang dalam sebuah kontestasi politik, memberi hak kuasa mereka untuk mengatur skenario yang akan dimainkan, namun ternyata skenario tidak berjalan dengan baik dan berakhir dengan kisah tragis pada Si Nazar, yang terperangakp di dalam sangkar sendiri.

Belum lepas dari itu, Rahmat, dalam bagian kedua tentang kuasa, menulis tentang seratus hari pertunjukan di atas panggung, “ Seratus Hari, SBY Mabuk Kekuasaan”. SBY dan orang-orang terdekatnya terlalu mabuk akan kemenangan yang mereka peroleh di masa pemilu Legislatif dan presiden. Padahal kita juga tidak amnesia, proses kemenangan SBY dan Demokrat di penuhi berbagai catatan buruk, mulai dari kasus Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang bermasalah, hingga indikasi kecurangan di berbagai tempat (hal 43)

Sebenarnya apa yang terjadi saat ini dengan kepemimpinan politik SBY, lebih disebabkan sejak awal masyarakat Indonesia telah dihegemoni dan dibentuk dengan pola pendekatan Mass Marketing Of Politic yang penuh kamuflase politik dengan menampilkan citra baik, melalui berbagai teknik persuasi politik, antara lain melalui iklan politik, retorika politik, dan propaganda. Hasil hegemoni itulah kabinet SBY naik ke tampuk kekuasaan politiknya (hal 43). Kali ini dalam lakon kekuasaan rezim, Rahmat, secara tegas melihat bahwa rezim berkuasa telah mengambil panggung secara paksa dengan cara-cara yang sebenarnya tidak masuk dalam skenario sistem demokrasi.

Pada halaman lain ada juga lakon oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS), partai yang secara jujur diakui oleh Rahmat, sebagai partai yang diidolakan, yang kini semakin hari semakin jauh dari cita-cita idealnya, yang disebabkan oleh beberapa faktor, pertama, ketidaksabaran meniti apa yang menjadi, tahapan grand strategy partai menuju empat mihwar, karena kehendak berkuasa yang sudah begitu besar dari sekelompok orang yang berada di PKS, Lompatan yang terlalu cepat tanpa mempersiapkan pra kondisi mengahadapi setiap medan membuat culture shock pada tingkat kader lapis bawah. Kedua perbedaan pandangan dan ketiga kegagalan mempertahankan ciri khas sebagai partai kader (hal 65-67).

Inilah yang kemudian membuat ramainya “Pengakuan Kader PKS” seperti pada kasus Yusuf Supendi dan Ali Arifin, Kedua orang ini menjadi korban dari skenario di panggung politik, yang tidak mengikuti urutan penceritaan, yang telah menjadi kesepakatan bersama, atau mungkin juga “tertendang” dari panggung, ketika menggugat teman-teman seperjuangan di Internal Partai (hal 65). Belum lagi saat berbenturan dengan dinamika lingkungan mereka, misalnya saja seorang aktivis lembaga kemahasiswaan yang juga kader PKS. Ketika banyak aktivis lembaga yang buka partisan bertanya mengapa PKS justru menyepakati berbagai kebijakan yang tidak populer bagi kalangan mahasiswa?( seperti memberikan dunkungan kepada SBY-Boediono, pendukung koalisi yang berbusa-busa setelah diancam) Maka jawaban apa yang akan mereka berikan? Mereka hanya bisa frustasi dan mendapatkan jaw "aban retoris yang seragam dari murabbinya “sudahlah itu sudah keputusan Syuro. Yang menurut Rahmat di buku ini, mereka inilah para pejuang sesungguhnya, yang mengorbankan semua yang dimiliki PKS dan belum tentu semua yang dimiliki oleh elit PKS dapat dikorbankan bagi mereka (hal 65).

Di sudut panggung yang lain, ada kelompok mahasiswa, disini kritik menjadi tradisi, kritik memberi inspirasi pada perjuangan, sebagai seorang mahasiswa yang pernah merasakan haru birunya dinamika gerakan mahasiswa di Makassar, Ada sebuah Tipologi dan karateristik Gerakan Mahasiswa Makassar (GMM) yakni “daya tekan sekaligus daya dorong isu), ketika aktivis mahasiswa Makassar turun ke jalan, maka daya tekannya bagi sejumlah kampus di Indonesia timur akan segera bergerak, ketika mahasiswa Makassae berani rusuh, maka tunggulah letupan emosi dari berbagai kampus lain, termasuk kampus-kampus yang berada di Jawa akan membangun resistensi yang sama (hal 155).

Namun di balik heroiknya panggung mahasiswa ini, ada berbagai kritik yang kemudian diarahkan kepada meraka, pertama, adalah adanya konflik antar lembaga kemahasiswaan, secara internal, membuat citra buruk bagi mahasiswa Makassar. Media dan masyarakat melakukan over-generalis bahwa mahasiswa ketika melakukan aksinya akan cenderung membuat keonaran, kekacauan dan ujung-ujungnya mempermalukan identitasnya, sebagai kalangan kelas menengah terdidik. Kedua karena identik dengan kekerasan maka suara mahasiswa tidak lagi disimak secara jernih.

Maka menjadi penting bagi gerakan mahasiswa untuk merefleksikan kembali model gerakan yang selama ini dilakukan. Kekerasan yang terjadi pada aksi mahasiswa selama ini salah satunya disebabkan mundurnya kultur wacana dan diskusi sebelum turun ke jalan, Budaya lingkar studi sudah mulai memudar, hal ini karena tidak berperannya lembaga mahasiswa baik ekstra maupun internal dalam membangun budaya wacana (hal 156). Selain itu hal penting lainnya yang memicu kekerasan mahasiswa pada saat aksi adalah terlalu reaksionernya pihak kepolisian dan cenderung bersikap represif, sehingga resistensi dari mahasiswa muncul dalam bentuk perlawanan, yang mengakibatkan eskalasi masalah menjadi semakin besar, yang pada kenyataannya hal ini bisa dihindarkan apabila pihalk kepolisian mengadakan pendekatan yang lebih baik.

Ada satu lagi yang menggambarkan dengan tepat Buku Negeri Panggung Sandiwara Ini yang, diciptakan oleh Ian Antono dan Taufik Ismail :

Dunia ini panggung sandiwara
Ceritanya mudah berubah
Kisah mahabarata atau tragedi dari yunani
Setiap kita dapat satu peranan
Yang harus kita mainkan
Ada peran wajar dan ada eran berpura-pura
Mengapa kita bersandiwara
Peran yang kocak bikin kita terbahak-bahak
Peran bercinta bikin kita mabuk kepayang
Dunia ini penuh peranan
Dunia ini bagaikan jembatan kehidupan
Mengapa kita bersandiwara

Posting Komentar

0 Komentar