'Ibumu Lebih Hebat dari Kartini'!


Kartini
Nak, hari ini hari kartini. Hari dimana kaum perempuan di Negeri kita, merayakan kelahiran seorang Raden Ayu dari Jepara Jawa Tengah. Nama lengkapnya Raden Ajeng Kartini. Lahir 21 April 1879 dari kalangan priyayi dan menjadi istri seorang bupati rembang. Oleh sejarah dominan, Kartini dikenal sebagai 'pelopor kebangkitan perempuan pribumi' karena kumpulan korespondensinya (surat menyurat) dengan Rosa Abendanon seorang sahabat belandanya, yang dianggap mampu mengubah cara pandang penjajah atas perempuan pribumi. 

Rosa Abendanon
Kelak kumpulan surat menyurat ini diterbitkan menjadi buku, pada tahun 1911 oleh Rosa Abendanon yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. 'Door Duisternis tot Licht' yang arti harfiahnya "Dari Kegelapan Menuju Cahaya". Buku itu lebih populer dimasa ini dengan judul 'Habis Gelap, terbitlah Terang'.

Dari catatan literatur, pada perjalananya keluarga Van Deventer seorang Tokoh politik etis Belanda terinspirasi mendirikan Yayasan Kartini di semarang. Setelah itu dilanjutkan dengan mendirikan Sekolah kartini yang dalam pandangan sejarah lazim, dijelaskan menyebar keberbagai daerah dan menjadi tonggak bagi kemajuan 'pemikiran kaum wanita negeri ini'.
Van Deventer

Itulah sejarah singkat menggapa 'Kartini', menjadi simbol dari perempuan indonesia dimasa lampu dan masaku saat ini. Sejarah yang tentu saja bisa benar bisa tidak. Tapi aku tidak mau mengajakmu bersafari mengenai perjalanan sejarah kartini, atau lebih jauh lagi menyangkut berbagai perdebatan tafsir historis sosok Kartini. Biarlah perjalanan sejarah yang akan menjelaskan pada masamu nanti.

Kalaupun kau tertarik untuk mengenal perjalanan sejarah kartini yang 'mungkin lebih kaya prespektif'? Ananda bisa bertanya kepada 'uncle dedy de gode'. Salah seorang sahabatku yang memiliki pengetahuan luas menyangkut perjalanan Tokoh-tokoh Negeri ini, tentu sekali lagi harus aku peringatkan mungkin pengetahuan yang diajarkanya 'akan sangat berbeda dengan tafsir umum'.

Lewat catatan ini, sebenarnya aku hendak mengajakmu lebih mengenal ibumu. Jujur dalam pandanganku, 'Ibumu lebih hebat' dari sosok Kartini yang keturunan priyayi itu. Bagaimana tidak, saat usia 12 tahun Kartini baru bersekolah di ELS (Europese Lagere School) dan saat itu baru 'belajar bahasa penjajah', pada usia yang sama Ibumu telah menggajarkan bahasa langit.

Ibumu yang baru saja kelas satu SMP, dimana kawan sebayanya sedang asik bermain karet telah memilih jalan senyap yang mungkin tak terpikirkan oleh anak perempuan semasanya. Nun jauh di desa lelebata, kecamatan lamuru kabupaten bone. Kampung nenekmu yang sering kau kunjungi, diatas tikar tipis di sebuah Musholla sekolahnya, dia telah mengajarkan puluhan putra-putri generasi umat ini untuk membaca Al-Quran.

Ali dan Mama
Ibumu yang berhati mulia itu, telah memilih menjadi pintu bagi bagi perjalanan cahaya.Betapa sabar dia mengajak anak-anak kampungnya untuk mengeja satu persatu, 'huruf demi huruf, dari deretan alfabet hijaiyah', agar mereka dapat mengenal kitab Maha Sempurna yang membawa 'jalan terang bagi umat manusia'.

Ali ridha anakku, betapa Ibumu telah lebih maju dibandingkan Kartini yang hanya mampu berkorespondensi sesama manusia dalam 'bahasa bumi, kaum penjajah'. Sementara ibumu telah menggajarkan generasi pelanjut umat untuk berkorespondensi dengan 'Tuhan Seru Sekalian Alam'! Meneruskan ajaran suci, kepada anak-anak kampunya agar mereka memiliki tuntunan dalam kehidupan agar 'terang selalu digapai'!

Anakku tersayang, aku ayamu sungguh iri pada ibumu. Karena pada waktu seusianya, Aku belum lagi mampu membaca Al-Quran dengan sempurna. Sementara Ibumu, sudah mengajarkanya dengan sungguh baik dan selalu menjadi bahan perbincangan dikampungmu 'guru menggajiku itu k endang', begitu ucapaan puluhan remaja belia saat bersalaman di waktu pernikahanku. Saat usia itu, apakah Kartini sudah bisa mengaji ? Aku tidak tau!

Aku membayangkan kini betapa banyak siswa-siswanya dulu, yang mungkin telah menjadi ibu dan juga akan menggajarkan anak-anak mereka untuk bisa membaca kitab Tuhan tersebut. Pasti banyak pula yang kini telah menjadi guru, bahkan 'guru Agama' yang meneruskan apa yang dilakukan ibumu. Mereka menyebar diberbagai tempat, mungkin keberbagai penjuru tanah Air. Dan Taman pengajian SMP itu kini tetap berdiri tanpa perlu bantuan seorang Van Deventer dan sejarah kolonialnya, sejarah para Penjajah! 

Selamat hari kartini!

Posting Komentar

1 Komentar