Palu Coin A Chance, sebuah Gerakan Indonesia Tanpa Pemerintah ?

Nak, kelak ketika kau besar jangan pernah berharap pada siapa-siapa untuk urusan hidupmu. Apalagi berpikir untuk menjadi beban pemerintah, yang pada masaku kini 'Presidenya terlalu banyak mengeluh' karena merasa telah menangung beban berat akan nasib kita orang kebanyakan.

Demikian pula segelitir Wakil Partai yang duduk di Parlemen, mereka itu semuanya sama saja, tetap tidak pernah bisa mewakili kita, karena mereka telah terlanjur mewakili partai yang jasnya berbeda-beda.

Tapi anehnya, mereka selalu membawa-bawa nama kita orang-orang pinggiran ini, sebagai atas nama mereka. Misalnya saja baru-baru ini, saat protes kenaikan BBM terlanjur terbakar. Mereka berlomba-lomba berganti Wajah, menolak kenaikan BBM dan tanpa malu 'berebut mikrofon dilayar kaca untuk menegaskan seolah-olah itu merupakan buah perjuangan mereka dan partai mereka'! Tapi sudahlah tak perlu kita membahas hal itu lagi, rakyat seperti kita ini sudah terlalu capek dengan tindakan yang mereka buat.

Saatnya berpikir apa yang bisa kita buat bagi diri kita sendiri, orang-orang disekitar kita, atau yang lebih besarnya lagi untuk ' orang kebanyakan'tanpa mesti menjadi beban lagi untuk PEMERINTAH !
Untuk itulah aku berceloteh lagi untukmu, mengajakmu melihat sebuah 'usaha bagi orang kebanyakan'yang dilakukan oleh segelitir orang tanpa perlu memakai jas partai apalagi menjadi beban PEMERINTAH.

Mereka memulai hal kecil, dengan filosofi yang indah 'recehmu ngak remeh', terang salah seorang dari mereka yang sering kujumpai.Namanya Pak Bakrie dia adalah dosen yang sebentar lagi menjadi doktor dari salah satu perguruan tinggi terbaik negeri ini. Beliau bersama beberapa kawan-kawanya yang lain, mengumpulkan receh dari 'sesama orang kebanyakan' dan menyalurkannya kepada mereka yang membutuhkan.

Kagum rasanya melihat apa yang mereka lakukan Nak, terus terang aku sungguh cemburu akan perbuatan baik yang mereka mulai. Mereka tidak hanya menghujat tapi mereka berbuat, mereka tidak hanya menyusun rencana, tapi mereka bertindak. Malu rasanya bapakmu ini melihat kebaikan-kebaikan yang mereka lakukan.

Sepekan sekali atau dalam beberapa waktu tertentu, lewat jejaring sosial mereka menjadwalkan pertemuan dan mengumpulkan koin yang mereka dapatkan lantas disalurkan untuk berbagai keperluan sekolah anak-anak kurang mampu. Mereka mendata kebutuhan per-anak, lantas mengumpulkan secara swadaya dari mana saja, dan berapa saja bagi anak-anak kurang mampu itu.Dengan kotak celengan mirib tabunganmu mereka bergerak. Celengan itu dipasang dibeberapa kantor kawan-kawan mereka sendiri, sebahagian di rumah-rumah, atau dijalankan secara bergilir. Selain itu mereka juga menjual beberapa kaos atau barang-barang lainya untuk menambah pundi-pundi koin mereka, juga buku-buku pelajaran yang dibagikan oleh sekelompok orang yang peduli, atau apa saja yang berguna bagi anak-anak yang membutuhkan.

Mereka sendiri tak menuntut gaji dari apa yang mereka lakukan itu, selain keyakinan bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebuah hal yang baik bagi sesama. Mereka secara berkelanjutan terus melakukan kebaikan-kebaikan kecil itu. Dari pak Bakrie aku mendapatkan banyak cerita tentang siswa yang mereka bantu selama ini,ternyata betapa banyak anak-anak dengan kemampuan luar biasa yang mesti terhambat oleh berbagai kebutuhan pendidikan. Memang oleh pemerintah sekolah dari kelas 1-9 gratis, tapi toko sepatu, buku pelajaran, baju sekolah, tak pernah mengenal kata gratis dan disinilah yang mereka berusaha mengalang kebaikan bagi sesama bukan untuk apa-apa, selain meyakinkan bahwa masih ada yang peduli bagi sesama.

Tak perlu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), BPK atau lembaga auditor lainya karena mereka secara transpran melaporkan apa yang mereka terima dan apa yang telah mereka salurkan. Mereka juga tak berharap pada pemerintah dengan ribuan retorika komitmen pendidikanya, atau yayasan dengan berbagai label sumbangan yang senantiasa menjadikan anak-anak kurang mampu itu sebagai objek dari penghasilan mereka, para kaum muda itu telah melakukan hal-hal kecil bagi sesamanya, daerahnya dan negaranya tanpa PEMERINTAH ada atau tidak! mereka juga senyap dari mikrofin TV atau berbagai klaim tentang apa yang telah mereka perbuat. Aku yakin mereka orang-orang baik yang tak perlu muncul menunjuki dirinya sebagai orang-orang yang baik. Kelak kau perlu banyak belajar dari mereka nak....

Tingkatkan recehmu....bunyikan kerincingmu....suarakan kepedulianmu... salam krinciiiiiiiiiinggg............

Posting Komentar

2 Komentar

  1. Anonim10:08 AM

    Ma kasih Abang Rahmad, terharu sekali membacanya...saya yakin ini adalah tulisan dari hati nurani....walau aku tak pandai merangkai kata, namun bisa merasakan energi dari tulisan ini. Semoga tulisan ini juga bisa menjadi energi buat yang lain...Salam Kerincing...Make a chance for a better change...

    BalasHapus
  2. Anonim9:28 AM

    semoga semakin banyak hati yg tersentuh utk membantu adik-adik diluar sana..
    bagikan sedikit yg kita miliki utk masa depan yg labih baik digenerasi kita
    amin
    bagus banget tulisannya bang

    BalasHapus