'Islam Tak Membakar Buku'


Irshad Manji
Saya awalnya tidak terlalu tertarik pada polemik Irshad Manji. Karena mungkin, saya belum mengenalnya secara baik apalagi membaca karya-karyanya secara luas. Persentuhan saya dengan perempuan asal Kanada tersebut baru dimulai ketika menyaksikan pembubaran diskusi peluncuran buku Irshad oleh sekelompok orang di Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, itupun hanya melalui media masa.


Selanjutnya saya kemudian tergerak untuk melakukan 'googling'atas perempuan berdarah campuran India dan Mesir tersebut. Hasil pencarian tersebut bermuara pada sebuah situs www.irshadmanji.com yang memuat berbagai wawacara dirinya dengan sejumlah media massa luar Negeri, Promo event buku 'Allah, Liberty and Love' dan membaca salah satu karya Irshad "The Trouble with Islam Today" yang telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan bisa di unduh secara gratis.

Apa yang saya temukan setelah membaca tulisan-tulisan Irshad, mendengar dan menyaksikan berbagai video rekaman wawancaranya ? Pertama, gagasan-gagasan Irshad bermuara pada tawaran 'kebebasan akan ijtihad'. Hal ini tergambar dengan jelas dalam bagian pertama buku Irshad 'Beriman Tanpa Rasa Takut', Irshad mengawali tulisanya dengan kalimat; “Di kelas-kelas hari Sabtuku, aku didoktrin: Kalau kau orang yangberiman, kau jangan berpikir. Kalau kau berpikir, maka kau bukan orangyang beriman.”Inilah awal dari gagasan pribadi Irshad yang kemudian menyebut dirinya sebagai Muslim Refusenik?

Masih kata Irshad dalam surat terbukanya; 'AKU HARUS jujur pada kalian semua. Hubunganku dengan Islam kurangbegitu menyenangkan. Hidupku bergantung pada fatwa yang dikeluarkanoleh orang-orang yang mengklaim diri sebagai wakil Allah'. Pandangan Irshad ini bermula dari penggalan pengalaman pribadi Irshad dan hasil diskusinya dengan sahabat saudinya yang mesti berhadapan dengan 'polisi agama'hanya karena memakai pakaian warna merah pada hari Valentine yang kemudian dilanjutkan oleh Irshad dengan peryataan; 'Sejak kapan Tuhan Yang Maha Pengasih melarang hamba-Nyaberbahagia—atau bersenang-senang?*

kedua, dari penelusuran saya yang 'masih sangat terbatas' atas sumber literatur yang dijadikan oleh Irshad, nampaknya Ia menjadikan karya Tariq Ali dan Keren Amstrong dan sejumlah pemikir 'modernis islam' dan 'Peneliti barat sebagai sumber referensinya'. Inilah dasar menggapa Irshad bahkan secara terus terang menyediakan satu bab khusus 'Terima kasih atas Peradaban Barat' yang menurutnya 'memiliki sikap sopan terhadap kaum muslim'.
Buku Irshad Manji

Ketiga, setelah menelusuri karya Irshad. Saya kemudian berhepotesis bahwa pandangan-pandangan Irshad mayoritas dilatarbelakangi perjalanan spirtualitas personal dari pergulatan kehidupan pribadinya. Bukankah spritualitas adalah sesuatu yang personal? Itulah Islam yang coba Irshad Manji munculkan, Islam yang digugat Irshad sejak kecil saat keluar dari madrasah, dan meneruskan berlajar tentang Islam dari sumber perpustakaan yang menurut saya pada akhirnya membentuk tiga sudut pandang; Barat yang diwakili kebebasan, timur yang kaya akan cinta dan Allah yang Maha Penggasih atas semua kaumnya.

Irshad Manji telah memilih menjadi jembatan bagi dialog dua peradaban dan menjadikan 'islam dalam sudut pandang pribadinya' sebagai titian siratal mustaqin bagi ummat manusia. 
 
Islam Tak Membakar Buku

'Islam tak membakar buku', mungkin itulah hal yang paling tepat untuk melihat polemik yang kini terjadi antara Irshad manji dan mereka yang mengguatnya. Bagi saya tidak ada yang luar biasa yang menjadi tawaran dari gagasan-gagasan 'spritualitas' Irshad Manji yang kemudian dijadikanya sebagai buku.

Sebagai seorang muslim saya tak perlu tersinggung, marah apalagi sampai membakar karya-karyanya. Karena saya selalu berpandangan biarlah 'agama, cinta dan kebebasan'menjadi milik setiap orang secara personal. Berbagai peristiwa pelarangan bedah buku, pengharaman karya-karyanya justru adalah hal yang lebih menakutkan. Apa yang ditakutkan setelah membaca karyanya? Apakah kita sedemikian takutnya bahwa Iman kita akan goyah setelah membaca bukunya?

Bagi saya ketakutan tersebut adalah ketakutan yang tak berdasar. Sesungguhnya masih banyak yang lebih menakutkan, melalui sejumlah tayangan KAFIR yang ada dilayar kaca rumah kita dengan atas nama islam serta surban yang sesungguhnya menyimpang jauh dari Aqidah, Jual beli ayat di panggung politik, serta segala yang berpenampilan Islam yang sebenarnya jauh dari ajaran Islam itu sendiri.
Dalam masa moderen saat ini, dimana sumber penggetahuan dapat diakses dengan bebas 'menjadi hal yang lucu' jika ada yang masih tertarik untuk menghambat kebebasan berpikir apalagi sampai mencoba membakar buku ditengah era new media yang tak memiliki sekat dan batas lagi.

Iman dan Homoseksualitas

Penolakan Irshad Manji
Berbagai perdebatan yang hari ini menjadi hangat kepermukaan menyangkut Irshad Manji pada intinya lebih bermuara pada kehidupan pribadinya yang 'kata berbagai sumber adalah seorang lesbian'. Saya tidak sepakat pada prilaku lesbian, tapi menjadi tidak adil jika kita tidak membolehkanya untuk memberikan pandangan-pandangannya terhadap 'agama yang dipahaminya'.

Bukankah dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Buhari ada seorang pelacur dari Bani Israil yang kemudian mendapatkan ampunan hanya karena memberi minum se-ekor anjing yang kahausan? Bukankah dari hadis tersebut dapat terlihat bahwa sifat Rahman dan Rahim senantiasa dimilikiNya pada setiap ummatnya?

Selanjutnya, bukankah yang dibicarakan oleh Irshad Manji bukanlah persoalan kehidupan personal lesbian? Atau mengganjurkan prilaku lesbian? Justru menjadi hal yang 'mencurigakan' jika karya 'Irshad Manji yang 'jauh dari kesan luar biasa'tersebut dipolemikkan oleh segelintir orang atas nama Iman dan Islam yang sungguh jauh dari proporsionalitas dari perdebatan berkarya.


Posting Komentar

1 Komentar

  1. Satyasedjati10:28 PM

    Mudah-mudahan semakin banyak orang seperti anda yang mampu meletakan sesuatu pada tempat dan porsinya masing-masing. itulah adalah langkah awal orang benar dan mencari kebenaran. Wassalam.

    BalasHapus