'Kelas Diskusi ITB'



Gerimis menyambut Saya dan Ardi di bibir Pintu Gerbang Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB). Hujan adalah kawan akrab di kota ini, seperti kemarin dan kemarinya lagi.

Demikian pula Saya dan Ardi yang selalu bersama 'mengakrabi perjalanan pencarian lapis demi lapis, Petanda dan Penanda Semesta sembari memahami perjodohan-perjodohan Ilahi atas setiap langkah manusia dimuka bumi'. Bukankah dunia hanyalah perjalanan diantara banyak terminal-terminal kehidupan yang kita lalui?

Demikian pula hari ini, saat saya sedang berjalan menyusuri kampus dimana seorang Proklamator Indonesia pernah menuntut ilmu? 'Selamat datang dikampus para teknokrat indonesia'! bisik saya dalam hati, setiap kali melintas dikampus yang dahulu dimasa Belanda bernama Technische Hooge School tersebut.


Soekarno di ITB sumber foto :indoprogress.com/2011/08/31/
Selalu saja ada penasaran setiap melintas atau masuk di kampus ini. Saya senang berimajinasi bagaimana Soekarno dimasa lalu menjejalkan langkah demi langkah di kampus ITB  sembari berpikir untuk melakukan 'Revolusi'  membebaskan bangsa  dari kolonialisasi Belanda. 

Bagaimana pula kisah Habibie yang selalu saja menjadi Representasi 'Manusia Cerdas Indonesia', Sri Bintang Pamungkas yang menjadi pelatuk bagi gerakan Reformasi atau Djuanda Kartawidjaja yang terkenal dengan 'Deklarasi Djuanda' yang saya pelajari  dari buku-buku Tata Negara saat SMA dulu,  sosok yang kemudian hari pemikiranya  berpengaruh besar bagi 'Konsep Negara Kepulauan dan Hukum Perairan Negeri ini'.
Sumber Foto ://danangprobotanoyo.multiply.com
Ada juga manusia seperti Fariz RM sang musisi dan komposer hebat atau Salahuddin Wahid yang merupakan adik kandung Gusdur. Serta sederet nama-nama hebat lainya yang banyak berkontribusi pada masa lalu dan saat ini yang kita kenal luas.

Lamunan itu kemudian  ditutup oleh sosok-sosok yang membuat saya tersenyum karena ITB ibarat 'Ibu juga melahirkan Abu Rizal Bakirie, Jero Wacik, Hatta Rajasa, Aming atau Sudjiwo Tedjo'.





Diskusi;  Filsafat, Sains, Spritualitas dan  Imajinasi 

Kedatangan saya kali ini ke- ITB  untuk mengikuti kelas diskusi dwi mingguan yang digelar oleh Forum Studi Kebudayaan ITB yang dipelopori oleh Yasraf Amir Piliang dan beberapa tokoh-tokoh filsafat dan kebudayaan kontemporer yang dahulu namanya hanya saya baca dari buku-buku yang menjadi sumber 'Kajian Pelataran di Baruga Unhas'.


http://salmanitb.com
Kali ini tema diskusi yang diangkat adalah 'Imaji dan Imajinal' dengan pembicara Alfathri Adlin.

Namanya pertama kali saya kenal lewat buku 'Spiritualitas dan Realitas Kebudayaan Kontemporer' beberapa tahun silam, sebuah kumpulan tulisan yang mengulas posisi spiritualitas dalam kebudayaan dalam peradaban kontemporer dimana Alfathri Adin menjadi editor dan salah satu penulisnya.

Karya: Alfahri Adin dkk

Sebagaimana tulisan-tulisanya Alfathri Adin atau kalau boleh saya singkat (Aa') memang senantiasa berkutat pada empat hal yakni Filsafat-Sains- Kebudayaan dan Spritualitas.

Pada pembahasan Imaji dan Imajinal  beliau memulainya dengan mengulas perbedaan antara 'Imaji dan Imajinal' ; 
'jika Imaji adalah proses rekayasa dari produksi gagasan manusia secara aktif,
maka Imajinal (al- khayal) adalah ketika yang Ilahi berbicara pada bentuk yang kenali menusia'



Aa, melanjutkan perbincanganya dengan berbagai hal menyangkut bagaimana bentuk-bentuk Imajinasi dan Imajinal dengan menguraikanya dari sudut pandang filsafat, sains dan spritualitas.

Lengkap dengan beberapa contoh-contoh untuk mengantar saya ke beberapa ingatan pada masa lalu, menghadirkan kembali berbagai film-film fantasi seperti Star Wars, membawa kenangan akan  novel-novel karya Jules Verne dan Wels yang menjadi peletak dasar  kehadiran piring terbang dan kisah para Alien di belahan planet lain.

Saya juga dibawa  berpetualang kedalam imajinisasi bentuk-bentuk reproduksi  manusia sebagaimana Aa menjelaskan :

Sumber Foto; http://3.bp.blogspot.com
Film adalah sebuah karya visual yang mampu mereproduski antara yang nyata di alam realitas menjadi sesuatu yang tergabung dalam alam imajinasi contohnya ; binatang-binatang dalam film alien yang merupakan pengabungan dari bentuk bentuk binatang yang kita kenali menjadi sesuatu yang baru..

Itulah kekuatan imajinasi didalam pikiran manusia, Ia menjadi sesuatu yang bisa merangkai banyak
hal dalam waktu bersamaan. Demikian pula saya, selama beberapa menit mengikuti kelas diskusi ini pikiranku berpetualang keberbagai dimensi, menjelajahi kehidupan para filsuf  dalam film Agora diera Romawi, memasuki perdagangan para budak  dalam kisah  Madagascar yang diceritakan melalui 'film Amazing Grace', lalu melompat  berpetualang di dunia 'solaris' tempat lautan misteri di suatu planet yang mampu mewujudkan seluruh impian Imajiner setiap orang.



Pada akhirnya Imajinasi saya  berhenti sejenak, ketika melihat poteret diriku dimasa kecil, saat bermimpi menjadi seorang Astronot.

Sains dan Spritualitas

'Seorang pemikir atau Saintis yang meragukan dulu semua hal, lalu mengosongkan pikiranya sesaat untuk mencari 'kebenaran' dan mencarinya dengan 'jujur' rasanya lebih baik daripada seorang pelaku jalan spritual yang melakoni latihan pengosongan diri namun merayakan obsesi spritualnya serta bukan mencari kebenaran tapi pembenaran'

Saya tertarik pada pandangan Aa' diatas. Apalagi ketika beliau melanjutkan tentang dimensi-dimensi yang saling terhubung, misalnya saja mengapa 'pikiran' senantiasa di identikkan dengan 'Bumi' hal tersebut bukan sekedar metafor belaka 'bahwa segala yang ada di bumi dengan segala rupanya bisa mengalami sebuah proses penambahan atau pembentukan baru, misalnya saja dengan daya kreasi manusia bisa membelah gunung untuk jalan, mengubah tanah kritis menjadi produktif dan berbagai hal lainya tapi "Jiwa' senantiasa identik dengan 'langit' ia tak bertepi, luas dan penuh misteri.

Inilah metafor sempurna antara sains dan spritualitas . Sesuatu yang ada dalam diri kita sendiri. Saya kemudian diantarkan pada seseorang yang 'Setahun ini' mengajak saya memasuki dimensi yang sama dengan apa yang dijelaskan oleh kelas ini.  Beliau yang 'Menuntun' untuk mengambil jeda dari 'kekuatan akal semata'.
sumber foto ; http://www.naqsdna.com
Beliau  yang mengajak saya 'mengenali berbagai tanda-tanda Tuhan dan setia' memaknai 'setiap jalan kehidupan' sebagai sebuah perjalanan yang telah ditetapkan oleh Ia yang Berkehendak dan tak Terjangkau, kecuali dengan mengenalinya dengan baik'!

Saya teringat dengan sosoknya dan tiba-tiba merasakanya hadir dikelas itu mengantikan Alfathri Adin sembari berkata dengan lembut kepada saya ;

'Ananda, Ada sesuatu  titipan pancaran Ilahiyah yang disemayamkan dalam diri kita, kadang kita lupa bahwa Ia bersama kita dan merupakan wujud asli dari sesuatu Permulaan. Dia tak terbatas oleh waktu, apalagi sekedar jasad dan pikiran yang terbatasi oleh  gerak yang senantiasa melekat pada aturan semesta'!

Mungkin sekali lagi Ilahi sedang menunjukan sosoknya dalam bentuk yang saya kenali...



Posting Komentar

1 Komentar

  1. teringat diskusi beberapa tahun silam mengenai alam khayal.
    "Segitiga bersisi empat".
    heehee..

    BalasHapus