Sepekan Rindu Pada Ali

Nak, sudah sepekan kita pisah lagi. Kau sering marah-marah lagi, sebagaimana disampaikan ibumu di ujung telpon subuh tadi. Tidak mudah memang bagi usiamu untuk memahami kehidupan yang kita jalani. Kini aku paham kau mengenaliku dengan baik, memanggilku dengan lengkingan suara 'papapapapaapa' dibibir pintu rumah untuk menunjukan ada rindu buatku. Aku bahagia untuk semua itu.

Tapi beginilah hidup kita nak, kita mesti berjarak tapi bukan senyap. Jujur kadang aku rindu hidup normal sebagaimana orang kebanyakan, tapi masih banyak yang belum tuntas dari perjalananku. Setidaknya seperempatnya saja mesti aku selesaikan. Setelah itu, mungkin kita akan selalu bersama. Tak ada yang lebih membahagiakan dari seorang ayah 'ketika melihat putra lelakinya terus tumbuh menjadi lelaki dewasa'. Itu impianku nak, menyaksikan dirimu perlahan tapi pasti menjadi lelaki  yang mampu bertangung jawab atas hidupmu sendiri.

Tak apalah aku terus berikisah tentang perpisahan kita, mungkin kelak kau akan bosan. Tapi aku sudah bertekat akan mengakhiri berbagai kisah tentangmu ini saat kau telah mampu membaca, saat itulah aku berharap semua tentang diriku, tentang kehidupan dan hari-hari yang aku jalani saat ini dapat kau baca. Setidaknya menjadi kompas bagi perjalananmu nanti 'karena aku paham bahwa kelak kau punya pilihan hidup sendiri'!

sekedar rindu pada ali...




Posting Komentar

0 Komentar