Negara Bukan Perusahaan: Mengapa saya menolak Capres dari Pengusaha ?


Sampul Buku Negara Bukan Perusahaan
Kelas pengusaha seakan berlomba-lomba terjun ke kancah perpolitikan nasional. Alasan yang sering mereka kemukakan adalah karena mereka pengusaha, mereka jadi tahu cara mengelola perekonomian dan menyejahterakan rakyat.
'-Paul Krugman-Negara Bukan Perusahaan-'

Buku kecil itu saya dapatkan dari seorang Junior dikomunikasi Unhas, namanya Darmadi kalau tidak salah setahun yang lampau. Tak tau alasan apa Madi memberikan buku tersebut. Mungkin karena Saya Pemimpin Redaksi sebuah Majalah yang banyak membahas soal ekonomi dan Investasi.

Buku tipis dengan tebal 34 halaman tersebut, diterjemahkan dan diterbitkan kembali oleh penerbit Marjin Kiri. 'A Country Is Not a Company' itu judul buku yang kemudian dalam terjemahan indonesia menjadi 'Negara bukan perusahaan'. Untuk beberapa lama saya tak menyentuh buku tersebut, sampai kemarin ketika hendak menulis sebuah artikel untuk Majalah, saya kemudian mulai menekuni lembar demi lembar karya Paul Krugman.

Paul Krugman
Hasilnya dalam waktu beberapa jam, saya bisa menyelesaikan baris demi baris karya peraih nobel ekonomi tahun 2008 tersebut. Saya kemudian menjadi begitu tertarik akan pandangan-pandanganya dan mulai membaca kembali setiap kalimat yang diuraikanya. Utamanya menyangkut 'kritik krugman soal watak para pengusaha yang cenderung menyamakan antara Negara dan Perusahaan'.

Negara bukan Perusahaan

“Pelajaran yang didapat dari mengelola bisnis tidak akan berfaedah untuk merumuskan kebijakan ekonomi. Negara bukanlah perusahaan besar. 'Kebiasaan berpikir yang membentuk seorang pengusaha bukanlah kebiasaan berpikir yang membentuk seorang ekonom,” tulis krugman dan saya kemudian bersepakat atas pandanganya.

Apalagi jika membaca uraian lanjutan krugman dalam kisah ulat kaki seribu, krugman menulis ; 'seekor ulat kaki seribu adalah binatang yang sangat luar biasa hebatnya mampu mengkordinasikan fungsi organ kakinya yang banyak dengan otak yang begitu kecil, tapi pada suatu saat ulat kaki seribu tersebut mendapatkan pertanyaan di kepalanya bagaimana bisa Ia dengan kemampuan otak yang kecil tersebut dapat mengkordinasikan kakinya yang banyak? hasilnya pada saat dia mulai berpikir maka pada saat itu juga Ia tak bisa berjalan'!

Sebuah anologi yang sempurna pikir saya. Pengusaha bergerak dengan Insting mereka bukan oleh sistim, rata-rata pengusaha sukses untuk mencapai tangga kesuksesanya bukan ditentukan oleh seberapa hebat managemen yang dijalankan, 'tapi seberapa mampu mereka menangkap setiap peluang dan kesempatan'.

ilustrasi
Bagi Profesor Amerika dari Universitas princenton ini, 'kesuksesan seorang pengusaha adalah kesuksesan yang sifatnya individual dan jika mereka gagal maka hanya dirinya dan mereka yang menjadi bagian dari perusahaanya yang akan menderita faktor kerugianya sementara hal tersebut berbeda jauh dengan Negara'!

Lebih jauh Krugman mencontohkan hal yang sederhana;
para mahasiswa yang ingin terjun dalam dunia bisnis biasanya memilih jurusan ekonomi, tapi hanya sedikit yang meyakini bahwa ilmu ekonomi yang mereka simak dalam ruang-ruang kuliah itu pada akhirnya akan terpakai. Mereka memahami suatu kebenaran mendasar: apa yang mereka pelajari dalam ilmu ekonomi tidak akan banyak membantu mereka dalam menjalankan bisnis.

Pada bagian lainya Krugman menulis;
Pengusaha hanya memimpin perusahaan-perusahaan tertentu saja, namun perumus kebijakan ekonomi itu memimpin begitu banyak hal yang terkait ekonomi sebuah negara, ekspor-impor, inflasi, pengangguran, lapangan kerja, suku bunga, dll . Inilah yang menyebabkan perbedaan pemikiran antara seorang pengusaha dengan ekonom yang akan mengelola negara.

Tampilnya Pengusaha Menjadi Penguasa

Banyak diantara Partai Politik yang hari ini berkuasa atau mereka yang kedepan berpotensial untuk menjadi 'penguasa baru' dipimpin oleh mereka yang berlatar belakang pengusaha. Apa motif dibalik terjunya para pengusaha tersebut untuk tertarik untuk terjun ke dunia politik ? Atau benarkah mereka ingin mengabdikan dirinya lewat dunia politik setelah mengalami kemapanan dalam bisnis mereka?

Sebenarnya jika dianalisis dengan pendekatan yang disampaikan oleh Krugman diatas, maka jawaban pertama menyangkut motif dibalik terjunya sejumlah pengusaha ke arena politik lebih disebabkan oleh cara pandang mereka menyangkut Pemerintahan yang lamban dan dihuni oleh para birokrat,politisi atau jenderal adimistratur yang tidak bisa mempercepat laju ekonomi.

Mereka berpandangan ketika para pengusaha yang tampil menjadi Pemimpin Politik segalanya akan 'lebih cepat lebih baik'! Padahal belum tentu, karena Negara bukanlah perusahaan yang dibangun hanya dengan kepentingan motif keuntungan semata, ada banyak fariabel dan aturan dalam Negara yang sangat berbeda dari berbagai logika bisnis dan kesempatan yang dipahami oleh para pengusaha sebagaimana disampaikan Krugman diatas.

Persoalan lambanya pemerintahan dalam mengelola perekonomian, dalam pandangan saya lebih disebabkan oleh faktor gagalnya partai politik dalam melahirkan kepemimpinan politik. Tim ekonomi yang lemah, dan cara 'Pandang kepemimpinan menyangkut orentasi Negara' adalah sejumlah faktor yang mempengaruhi berbagai persoalan yang kini kita hadapi.

Kedua, mahalnya akses menuju kekuasaan akibat model demokrasi langsung yang buruk seperti saat ini, telah 'menutup pintu' bagi sejumlah mereka yang memiliki kapasitas dan keberpihakan politik yang jelas mesti tersungkur dari 'panggung utama kekuasaan'. Dalam keadaan seperti ini, para pengusahalah yang paling berpotensial untuk mendapatkan kesempatan karena merekalah yang memiliki akses terhadap 'sumber-sumber kapital' yang sama artinya menjadi sangat berpotensi menjadi 'Penguasa politik'!

ilustrasi
Jika dilihat kebelakang 'rata-rata'para pengusaha yang kini tampil melakukan pencitraan diri baik untuk kepentingan 'Partai Politik' ataupun ingin maju sebagai capres 2014' juga bukan merupakan sosok-sosok yang bersih atau setidaknya 'perusahaan yang mereka pimpin tidak pernah terlibat kasus yang merugikan publik'.

Menolak Capres Pengusaha?
Mengapa saya menolak capres dari kalangan pengusaha? Pertama, soal terbesar adalah motif rata-rata pengusaha yang terbiasa berpikir pada 'keuntungan' atau pada basis of social structure' yang selalu berpegangan kepada 'cara berpikir profit' dan mengesampingkan pada proses dan tujuan dari dimensi 'pembangunan'.

Kedua, rata-rata pengusaha yang saat ini terjun kedalam 'pemerintahan' atau partai politik mayoritas dilatar belakangi demi kepentingan memperluas akses mereka terhadap kekuasaan dan lagi-lagi bertujuan untuk mengamankan kepentingan pribadi dan bisnis mereka dari pada memikirkan kepentingan rakyat banyak.

Ketiga, kelompok pengusaha sebagaimana para artis sebenarnya berprinsip 'aji mumpung' mumpung mereka memiliki sumberdaya yang dapat menyebabkan mereka masuk kedalam kekuasaan baik 'modal atau popularitas' maka akses kekuasaan menjadi lebih mudah. Inilah alasan mengapa 'para pengusaha yang rata-rata memiliki media utamanya TV nasional ' tampil percaya diri masuk kedalam partai politik. Karena para pengusaha yang mengusai media yang mampu terus melakukan pencitraan dan berpeluang untuk dikenal oleh publik, demikian pula para artis yang sering tampillah yang akan berpotensi untuk dikenal oleh publik. Maka tak heran jika julia perez sekalipun pernah berniat mencalonkan diri sebagai 'bupati'!







Posting Komentar

1 Komentar

  1. Mantap . . .
    sangat menambah ilmu pengetahuan bang. . .
    sudah memojokkan mereka yang rakus menguasai akses informasi dan eksploitasi SDA.
    Jadi menurutta bagaimana sosok capres esok yang dibutuhkan oleh Indonesia?
    makasi

    BalasHapus