'Pentas Teater Mendiang Republik'

Tak terasa sudah sepekan di bandung kembali. Menikmati kesejukan Paris Van Java-nya Indonesia, menyelami berbagai bait sejarah dari perjalanan Negeri ini dan  seperti biasa memasuki 'ruang kelas perkuliahan' bersama 'tugas yang mulai menumpuk'.

Sepekan ini aku  menikmati dua pentas  seremonial yakni seminar Ilmuwan Politik se Indonesia yang bertajuk "Reformasi Birokrasi' dan malam tadi menyaksikan Pentas teater 'Mendiang Republik' karya Teater Epik yang merupakan gabungan  Mahasiswa-Mahasiswa Institut Teknologi Bandung.

Sebagaimana judul tulisan diatas, kali ini aku tidak ingin bercerita tentang Seminar Para Ilmuwan politik tersebut yang seperti lazimnya 'teoritis dan membosankan'. Aku terlalu lelah membahas mereka dan apa yang mereka bicarakan.

Aku lebih tertarik membahas bagaimana pentas teater yang ditampilkan oleh para anak-anak muda tersebut dan pesan yang mereka akan usung lewat 'Mendiang Republik'. Sudah lama rasanya tidak menyaksikan pentas teater 'menikmati bagaimana sebuah pesan dikelola lewat gerak, lakon,  musik dan tentu saja Panggung'.

Begitu tiba di  gedung Teater Tertutup Taman Budaya Bandung (Dago Tea House) aku dan Ardi kawanku tertegun menyaksikan ratusan orang  mengantri 'untuk menonton pertunjukan tersebut'.
Sungguh jauh dari bayanganku selama ini dari sebuah pertunjukan teater yang terkadang sepi pengunjung.

Diantara mereka yang mengantri sebahagian aku kenal sebagai dosen tempatku kuliah di Unpad karena tempat pementasanya memang dibelakang kampusku, dosen-dosen ITB dan kebanyakan adalah para Mahasiswa.

Jangan membayangkan para penonton yang datang adalah para seniman gondrong dengan kaos oblong yang mengendarai motor atau naik angkot. Sebahagian besar mereka yang ingin menyaksikan pertunjukan tersebut bermobil mewah, berpakaian rapi dan tentu saja parfum mahal.

Saat mengikuti antrian tiba-tiba saja  aku berpikir 'apakah para kelas menengah ini benar-benar tertarik untuk mengikuti pentas teater yang menurutku mengusung tema yang sedikit berat dan pasti jauh dari kesan glamor dan pop, sebagaimana penampilan para penontonya ini begitu semarak'?
Baru saja sekelumit pertanyaan tersebut mulai bermain dikepalaku kami sudah sampai di meja penjualan tiket dan pertanyaanku semakin bertambah ketika 'panitia menginformasikan bahwa tiket sudah habis terjual'! Bayangkan tiket  'reguler' seharga Rp.35.000 dan VIP yang dibandrol Rp.50.000 tersebut tidak lagi tersedia? Karena sudah dipesan jauh hari sebelumnya.

Ingatan masa silamku segera bermain, dahulu di Unhas harga sebuah tiket pertunjukan paling mahal Rp.15.000 dan penontonya hanya berkisar puluhan, harga tiket pementasan ini jauh lebih mahal dibandingkan harga tiket sebuah film di bioskop apalagi jika dibandingkan dengan sebuah pentas teater dikampus merahku.

Ardi yang tidak ingin aku kecewa kemudian dengan sedikit deplomasi mengajukan tawaran kepada panitia apakah kami bisa dimasukan kedalam daftar tunggu yang bisa jadi diantara para pemesan tiket ada yang berhalangan dan kami bisa mendapatkan kursi. Benar saja ternyata sterategi kawanku itu berhasil, setelah memanti sekitar satu jam saat pertunjukan sudah hampir dimulai 'panitia menemui kami dan memberikan dua tiket'.

Saat memasuki gedung pentas tersebut, lagu indonesia raya sedang berkumandang. Layar pertunjukan masih tertutup dan ketika lima menit kemudian pementasan dimulai setelah sebelumnya dua orang MC menjelaskan siapa pihak penyelenggara acara tersebut.
Layarpun terbuka, para pemeran yang terdiri dengan berbagai lakon hadir dan menyanyikan lagu-lagu dari berbagai daerah salah satunya 'indonesia tanah air beta'!
Ceritapun mulai mengalir ketika seorang kakek membuka kisahnya ; 

'Aku telah melalui masa yang panjang dalam hidupku bersama Indonesia, aku menyaksikan perjuangan kemerdekaan ketika Merdeka begitu penting untuk melepaskan dari keterjajahan kolonialisme dan Aku juga menyaksikan ketika setelah itu beberapa tahun lalu pekik 'Merdeka' melawan keterjajahan dari seorang penguasa juga diteriakan.

Sorot lampu berpindah, para tokoh perjuangan kemerdekaan mulai hilir mudik di frame-frame foto berteriak melawan kolonial. Tak berlama disana, kecerian kembali dipentaskan menyongsong pembangunan, kali ini lakon petani, guru, penggusaha dan yang lainya  tetap terpasung oleh tali dan sejumlah perbincangan tentang 'pancasila'.

 Layar kembali pekat, teriakan mahasiswa dengan 'jas merah kembali membahana seisi panggung ' Apakah kita benar-benar Merdeka'? senyap dan menghentak 'sorot garuda tiba-tiba hadir dalam bayangan' dengan latar seseorang yang berkata 'saya siap menangung semua kesalahan', bau dupa cina segera mengisi penciuman para penonton lalu beberapa penari muncul dengan kain hitam dan sosok wanita yang menjadi simbol ibu pertiwi tampil dengan muram berkebaya merah putih.

Pembatas panggung tersobek perbicangan kakek dilanjutkan dengan sejumlah jokes yang mulai membuat penonton tertawa, apalagi kalau bukan 'meniru gaya seorang pemimpin yang kini berkuasa'.
Ini sebuah parodi, pikirku. Tak beberapa lama penonton kemudian diantar pada perbincangan beberapa lakon disebuah warung kecil yang terdiri dari seorang wanita pemilik warung yang ternyata asisten kakek sang pencerita, sepasang mahasiswa, dua wakil generasi pop dan seorang ustadz serta Preman.

Perdebatan terjadi karena sang preman meminta jatah dari pemilik warung, sang mahasiswa marah dan dua lakon anak 'gaul tersebut terlibat cek-cok akibat tak mendapat jawaban dimana letak jalan merdeka' panggung menjadi kacau lalu sang kakek tersungkur 'layar menampilkan denyut jantung diantara tensimeter'.

Lilin bermunculan lalu 'ibu pertiwi' hadir dengan wajah sedih tanpa jawaban setelah perdebatan yang tak berujung.  Klimaks dibangun ketika jawaban menjadi meracau dan Merdeka tak sempat terdefinisikan. Lalu pentonton bertepuk tanggan layar terbuka dan pentas selesai!

Jujur saja, awalnya aku begitu menikmati pentas ini. Tapi saat memasuki parodi kekinian dan berbagai perdebatan dan jawaban yang dimunculkan kesan dangkal begitu terasa. Terlalu banyak 'pesan yang mereka ingin usung oleh plot-plot dalam Mendiang Republik'!

Sehingga mereka lupa bahwa Pentas ini bertajuk 'Mendiang Republik' yang gagal ditunjukan dari jalan cerita yang ada, bahkan aku justru diantar pada jalan 'Merdeka'. Mungkin lebih tepat judul pentas ini bertajuk 'Mendiang Kemerdekaan'!Karena materi yang diantarkan pada perbincangan tentang kemerdekaan bukan tentang Republik itu sendiri, bukan tentang bangsa tapi 'makna kemerdekaan yang berbeda dalam setiap anak bangsa termasuk sosok generasi pop yang tampil dipentas dan kursi penonton dengan dandanan glamor, parfum mahal dan tentu saja 'mobil mewah mereka di tempat parkir'.

Akhirnya aku mendapatkan jawaban dari pertanyaan mengapa 'pentas ini penuh sesak dan tiket habis' karena ini kisah mereka, kisah para penonton beserta isi kepalnya...





 





Posting Komentar

0 Komentar