Federasi Indonesia Mungkinkah?

Buku; Federalisme Untuk Indonesia
Terbayang tidak akhirnya indonesia menjadi sebuah Negara federasi? Sebuah Negara yang didalamnya terdiri beberapa Negara Bagian? Apakah itu bukan merupakan sebuah tindakan Makar?

Bukankah Negara kesatuan adalah sebuah konsep yang sudah fainal dari 'para pendiri bangsa dan negara ini'?

Itulah sejumlah pertanyaan yang dijawab dari sebuah buku yang terbit di tahun 1999, dengan judul 'Federasi untuk indonesia' yang lahir dari sebuah seri diskusi oleh beberapa tokoh seperti Adnan Buyung Nasution, Harun Alrasid, Ichsanul Amal, Andi Mallarangeng, Y.B Mangunwijaya  dan Yusril Ihza Mahaendra. 

Harun Alrasyid
Karena buku Federasi untuk Indonesia lahir dari sebuah 'dinamika diskusi'maka cara penyajianya tetap bernuansa diskusi dimana berbagai komentar, makalah presentasi, dan pembicaraan setiap tokoh serta notulensi dikumpulkan menjadi satu, lalu dibagi berdasarkan tema-tema diskusi dalam bab-bab khusus.

Secara umum buku dengan tebal 198 halaman ini dibagi atas tiga bagian pertama; Hubungan Pusat -Daerah, kedua ; Pengalaman beberapa Negara tentang Federasi dan ketiga; Ekonomi, Politik dan Hukum sistim federal.

Sebagai pembaca, ini merupakan sebuah pengalaman menarik bagi saya menyimak bagaimana 'kegalauan' sejumlah tokoh tersebut dimasa transisi dari orde baru menuju reformasi. Kehadiran mereka dalam diskusi tersebut juga merupakan bagian dari reaksi  pada paruh tahun 1998.  

Perbincangan dalam buku ini, dimulai oleh Harun Alrasyid yang memaparkan kemungkinan bagi federasi bagi indonesia. Menurut Profesor Senior Hukum Tata Negara Universitas Indonesia ini, federasi untuk indonesia adalah sebuah kemungkinan.Harun kemudian membagi priodesasi perjalanan republik indonesia pasca berbentuk Negara Kesatuan sampai pada era Reformasi.

Indonesia menjadi Negara Federasi tahun 2045

Y.B Mangunwijaya memaparkan kemungkinan terwujudnya "Negara Federasi" yang menurut ramalan beliau akan terjadi di paruh tahun 2045. Kristalisasi kekecewaan akan konsep Negara Kesatuan akan semakin memuncak di paruh tahun 2028 oleh generasi yang merasa konsep sentralistik yang diterapkan tidak lagi menjadi sebuah 'kesepakatan'.

Romo Mangunwijaya
Tak jauh berbeda dengan Harun Alrasyid Romo Mangunwijaya juga melihat 'perlunya' tafsir baru akan Indonesia masa kini dan masa akan datang. Bahwa apa yang menjadi 'konsensus' yang diajukan pada masa 'juanda' tidak lagi menjadi hal yang sifatnya kontestual di masa saat ini. Bahwa Juanda berangapan pentingnya sebuah Negara Kesatuan dimana 'Jakarta' menjadi sumber utama karena kurangnya kapasitas SDM daerah, 'itu tafsir masa lalu' menurut Romo Mangunwijaya.

Tapi hal yang berbeda diajukan oleh 'Alfian Mallarangeng' dan 'Ryaas Rasyid' yang pada masa itu menjadi tim 7 yang menjadi embrio lahirnya era otonomi daerah. Dalam Pandangan Ryass Rasyid bahwa esensi persolan yang dirasakan setiap daerah adalah soal 'keadilan kue pembangunan dimana jawa menjadi begitu sentralistik dibandingkan bumi belahan timur'. 

Maka saat keadilan pembangunan dan otonomi seluas-luasnya terjadi, tanpa perlu menambahkan kata  'F' yang ditakutkan hanya akan menjadikan indonesia sebagai Negara yang terpecah belah. Belum lagi pada persoalan mekanisme sebuah Negara Federasi yang menurut Ryaas Rasyid adalah proses panjang dan menakutkan.

Federasi  mungkinkah bagi Indonesia?
Setelah membaca buku ini saya bukanya menemukan jawaban justru menambah tanda tanya. Benarkah indonesia menjadi sebuah Negara Federasi pada tahun 2045 seperti ramalan sang Romo? atau 'mungkinkah indonesia' akan menjadi federasi ?









Posting Komentar

1 Komentar

  1. Kemungkinan Federalisasi Indonesia akan terjadi dimana jika pada waktu semua daerah mengharapkan sebuah perubahan besar, akan kekecewaanya pada sistem sentralisasi, sentralisasi kini sedikit buyar dengan adanya desentralisasi yang di lalui dengan hak otonomi daerah, maka lambat laun dari desentraliasi akan berubah menjadi Federaliasi, sesuatu yang mungkin bsa sja terjadi bagi Indonesia ketika kepemimpinan berpuncak pada kepercayaan kolot (konservativ) dimana bahwa pemimpin harus jawa, kepercayaan ini harus di akhiri dan di singkirkan dengan mengakomodir kepemimpinan dari luar pulau jawa.Menurut pandangan pribadi, Saya sendiri adalah penganut paham kebebasan dalam leadersip universal artinya saya sangat ingin Indonesia menganut paham kepemimpinan umum dimna setiap daerah di beri kesempatan untuk memimpim bangsa ini dengan sistem kolektiv, bukan sistem yang selama ini di anut, sistem kolektiv adalah memberi kesemptan bagi setiap daerah untuk memberi dan mempersilakhan adanya perwakilan dalam pemilihan daerah untuk menjadi kepala negara/presiden, dalam bbrapa fase ada sistem eleminasi yang di hasilkan melalui serakaian tes intelektualitas dan jiwa kemimpinan berdasarkan kemampuan memimpin yang adil dan bisa di terima seluruh lapisan masyarakat Indonesia, dari eleminasi tersebut akan lahir satu pemimpin entah itu dari daerah mana atau provinsi mana, yang di rasa sanggup dan mampu mempin secara umum bagi seluruh daerah/provinsi di NKRI, dan finaliasi akhir dari eleminasi dengan hasil voting/pemilu tersebut akan di jadikan sebagai pemimpin negara/presiden.

    BalasHapus