Fiksi Sains dan Fantasi; Petualangan Imaji yang Membentuk Dunia


Buku; Fiksi  Sains & Fantasi
Beberapa hari lalu saya sempat menjenguk beberapa toko buku di kota Bandung. Hasilnya saya membawa oleh-oleh, salah satunya buku yang berjudul 'Fiksi Sains dan Fantasi'; Sinema dan Sejarah.

'A cinematic History of Sci-fi & Fantasy', merupakan judul asli dari karya 'Mark Wilshin' yang diterbitkan kembali oleh 'Kelompok Penerbit Gramedia' pada tahun 2010 yang lalu .

Setelah kelas 'Diskusi ITB' kemarin saya mulai membacanya, apalagi setelah mendengar penjelasan 'kang Alfathri Adlin' tentang 'reproduksi kebudayaan visual'. Niat saya untuk segera pulang selain untuk menyelesaikan tugas 'paper kuliah' (hehehe) adalah membaca buku ini.

Tak perlu lama membaca ulasan Sinema dalam sejarah, karena tebalnya cukup 31 halaman dengan kalimat-kalimat yang mudah dimengerti. Tapi jangan kira 'pengetahuan' yang terkandung didalamnya hanya sejumlah itu, ada banyak 'hal baru' yang saya dapatkan ketika mulai menekuninya lemabar demi lembar.

Fantasi Sinema dan Kelahiran Sains Moderen
Sebagaimana semua anak komunikasi dan para 'penggiat sinematografi' ketahui, apalagi mereka yang pernah mengambil mata kuliah 'film' pasti sudah akrab dengan nama 'Lumire bersaudara' yang terdiri atas ' Louis Jean dan Auguste Marie Louis Nicholas' dimana keduanya dikenal sebagai penemu, perintis, dunia penyutradaraan dan pembuatan film.
Georges Milies

Pada bagian awal buku ini , nama 'kakak beradik lumire' memang sedikit disinggung. Tapi hanya sebagai pembuka Justru saya dipertemukan dengan beberapa sosok yang tidak saya kenali sebelumnya.Salah satunya yang paling berkesan adalah sosok; Georges Milies dengan karyanya 'A Trip to the Moon' (1902) yang menjadi fiksi sains bisu paling terkenal.

Walau bukan yang pertama, karena sebelumnya Mc Cuntcheon sudah membuat film berjudul X-Ray Mirror (1899) tapi karya 'George Milies' yang kemudian dianggap pionir bagi dunia 'film fiksi' karena Milies menggabungkan 'trik fotografi serta lukisan pemandangan dan yang paling mengejutkan Miles juga menambahkan trik 'aksi sulap'.
 Maklum saja ternyata sang sutradara adalah 'seorang Pesulap prancis'.

Miles menekankan pada aspek cerita dari sebuah film yang kemudian dibangun dengan fantasinya yang didapatkan atas tafsir bebasnya dari novel 'Jules verne' dan 'H.G Wells 'yang terbit pada awal abad ke 19. Novel Verne tersebut bercerita tentang perang antar planet, mahluk-mahluk diluar bumi dan robot dimasa depan.

Film :'A Trip to the Moon'
Miles dengan keahlian sulapnya mengembangkan novel fiksi sains kedalam film 'A Trip to the Moon', dimana 'sang pesulap'menceritakan sosok para astronot-astronot sebagai pria tua dengan topi tinggi yang terbang ke-bulan dengan kapsul luar angkasa yang terbuat dari baja.

Selaian berhayal tentang kapsul luar angkasa dari baja, 'Pesulap Miles'kemudian memperkenalkan teknik penyuntingan Stop Motion dan Lap-dissolves serta transisi yang didapatkanya dari berbagai trik sulap selama ini.

Siapa yang menyangka 'banyolan fiksi Sang Pesulap' pada kemudian hari menjadi cikal bakal sebuah 'Maha Karya sains luar biasa yang kita Kenal dengan sebutan Roket'?

Roket
Penemuan Roket yang memacu kreasi lanjutan dengan abad satelitnya yang kini kita nikmati tak bisa dilepaskan dari 'kontribusi Miles', karena dialah yang mengantar dunia saintis untuk berani melakukan inovasi dan modernisasi bagi berbagai pengembangan dunia astronomi bahkan abad Informasi yang kita nikmati saat ini.

Demikian pula bagi dunia sinematografi saya tidak bisa membayangkan sebuah film tanpa transisi, tentu membosankan ? Atau apa jadinya film The Matrix tanpa 'pelambatan waktu' dan Stop motion? tentu kita tak bisa melihat peluru-peluru yang melambat yang diarahkan kepada Neo yang menjadi daya pukau kisah The Matrix?

Fantasi, Mitos, dan Legenda

Ridley Scott Sang Penemu Alien
Beberapa kali menonton film yang bertema Alien mengantarkan saya kepada pertanyaan sejak kapan Alien menjadi terkenal? Sebelumnya memang kita mengenal berbagai mitos mahluk menyeramkan seperti 'zombie', 'darakula' atau 'vampire di film-film cina'. Pada halaman 10 buku ini, pertanyaan saya tersebut kemudian terjawab. Ternyata kisah Alien yang kita kenal saat ini bermula dari film yang berjudul yang sama 'Alien'.

Adalah Ridley Scott yang membawa imajasi Alien tersebut pada tahun 1979 kepada para penonton.Seiring dengan perkembangan 'imajinasi' dan kemajuan teknik visualisasi Alien-alien juga bermetamorfosis kedalam berbagai rupa dan bentuk. Kita bisa menyaksikan aksi para alien tersebut dalam berbagai film fiksi seperti Independence day (1996), The Day Earth stood still atau close Encounters of the Thrid Kind.

Lantas bagaimana dengan film yang bercerita tentang para Superhero? Kisah para superhero tentu tidak bisa dilepaskan dari sejumlah komik Marvel. Kita masih bisa menghapal dengan baik sosok seperti bintang American Football Flash Gordon yang melawan Ming The Mercilless (1936-1980), Superman (1978-...), Batman (1989-...) X Man (2000-2003) atau Spiderman (2001-2004) yang mengantarkan pada petualangan fantasi pada masa kecil.

Super hero : Marvel
Selain Alien dan para Superhero buku ini juga mengajak kita berpetualang ke berbagai penjelasan akan mitos-mitos dan legenda yang kemudian diangkat menjadi sebuah film. Misalnya saja, The Seventh Voyage Of Sinbad (1985) yang diangkat dari dongen petualangan Sinbad, Excaibur (1981) yang menceritakan kisah perjuangan raja Arthur serta tak lupa Lord of The Rings yang ternyata bermula dari sebuah novel karya Tolkien yang kemudian diadaptasi oleh Peter Jackson.

Pada bagian akhir buku ini, saya kemudian diantar kedalam penjelasan berbagai 'film Anime' seperti Nausicaa of the Valley of the wind (1984), Film Ghost In The shell (1995-2004) atau Spirit away (2002) yang kemudian hari memenangkan Academy Award karena mampu mengguah penonton dengan kisah perjuangan seorang gadis kecil untuk membebaskan ayahnya. Film Sprit Away juga memiliki kisah penutup yang sangat indah karena menceritakan 'penghapusan dunia imajinasi oleh keserakahan dunia orang dewasa'!

Pada bagian kisah gadis kecil tersebut saya kemudian menarik nafas untuk jeda sejenak, sembari bertanya 'mengapa sains dan dunia sinema kita saat ini terkesan monoton dan menjemukan'? Perlahan saya mencoba menerka dan menjawabnya sendiri ;
'Mungkin karena kita telah mengunci imajinasi dan fantasi pada kotak kenangan dunia masa kanak-kanak saja'! 

selamat membaca....


Posting Komentar

1 Komentar

  1. Tau George Milies pertamakali dari buku “Hugo” kemudian diperkenalkan lebih lanjut oleh Pai ^^ Sayang banyak karya Milies yang habis terbakar ._.

    BalasHapus