Potret

Beberapa hari lalu 'istri saya mengirimkan sebuah potret' lewat blackberry messenger. Foto itu bukan foto biasa, sebuah potret tentang 'masa lalu' ketika jalanan adalah kawan dan perlawanan atas 'pemerintah' adalah doa yang kami rapalkan setiap hari.   

Saya tertegun menatap diri saya sendiri beberapa tahun silam, ketika  'speaker toa'  ditangan yang selalu menjadi senjata 'pemberontakan' untuk menolak patuh kepada para penguasa-penguasa yang tuli! Itulah Makassar yang selalu punya kisah untuk melawan. Saya kembali beromantisme pada masa-masa itu, saat pakaian lusuh selalu menemani dan lapar selalu berkarib dengan diri.


foto maman
Ali senang berlama-lama menatap foto ini; begitu keterangan caption foto yang di tulis istri saya. Ada rasa haru yang menyergap diam-diam dalam batin saya. Ketika saat itu, 'keberanian benar-benar pada puncak serta kegelisahan' akan nasib bangsa selalu berputar-putar didalam benak. 

Tapi sebagai seorang Ayah saya tidak berani memimpikan ketika Ali Ridha putraku akan menjalani masa yang sama. Berkarib dengan matahari kemarahan dan nasib sunyi manusia-manusia yang gelisah. Apalagi harus saya akui  diriku tak memiliki ketegaran dan kekokohan yang sama, keteguhan matahari tak lagi tegar di diriku dan protes kepada para penguasa tuli telah berubah menjadi sekedar usulan.

Semoga saja, keteguhan itu bisa kembali dengan sebuah potret masa lalu. Mungkin itulah pesan istri saya lewat gambar ini, gambar yang diambil oleh sahabat amang!

Posting Komentar

0 Komentar