'Senja, Teluk dan Jembatan Yellow Bridge'


Kalau anda penikmat Novel sepotong senja untuk pacarku karya Seno Gumira Aji Darma. Maka senja dimaksud mas seno itu 'ada di palu'. Kota yang menjadi Tanah kelahiran saya, dimana  saya dibesarkan! Tidak percaya ? coba datang ke kota palu, lalu pada sore hari berkunjunglah ke pantai Talise  sekitar pukul 16.30 sampai dengan 18.00 (setengah lima sampai jam enam sore).

Dari Pantai ini, anda bisa menyaksikan secara langsung  dari balik celah-celah gunung gawalise yang kokoh, saat  fajar tua sedang menampakan dirinya diatas udara, lautan yang biru berubah warna menjadi ke-emasan, sebuah 'Maha Karya Semesta yang Sulit dilupakan'!

Teluk, Gunung Gawalise dan Sepotong Senja Kampung Saya




Aroma jangung bakar, deru kenderaan dan kesibukan para pemancing yang berdiri dibibir teluk adalah potret senja hari di pantai talise. Menoleh kekiri dan kanan, banyak pemuda pemudi yang sedang sibuk bercengkarama duduk diatas kursi-kursi plastik atau gazebo-gazebo kecil yang disediakan ratusan warung kaki lima di sepanjang bibir teluk, sajian yang disediakan terdiri atas aneka minuman dan panganan, kebanyakan terlihat memesan STMJ (saraba telur madu dan jahe)atau menghangatkan diri dengan suguhan'kopi Bintang', kopi khas kota palu yang pekat.

Gazebo di Bibir Teluk
Sementara menu panganan faforitnya selain 'jangung bakar aneka rasa' ada stik pisang keju yang rasanya mampu mengoyang lidah.

Saraba dan Stik Pisang Keju Pantai Talise

Saat senja benar-benar tua dan sebentar lagi gelap tiba, dan jam   telah menunjukan pukul 18.10 suara azan maghrib mengalun perlahan bersama angin yang mulai mereda. Sebentar lagi sebuah atraksi akan dimulai. Jangan meningalkan tempat sensasi berikutnya akan anda alami. Yaitu ketika Warna Jingga beralih bersama satu persatu jajaran lampu merkuri disepanjang lingkaran teluk, dimulai dari belakang hotel palu golden lalu perlahan menjalar seperti sebuah 'lingkaran api'pertunjukan sirkus, nyalanya terus bergerak melingkar menuju titik yang sempurna ketika dihadapan anda bukan lagi jingga tapi parade lampion raksasa teluk palu.


Teluk palu, Jembatan Yellow Bridge Kota Palu  dan Fantasi Lingkaran Cahaya

Sementara itu alunan musik para pengamen bersama harmonika dan biola tak jarang datang menghampiri, memainkan beberapa lagu romantis yang bisa anda regues dari mereka. Kali ini bukan gunung gawalise yang nampak kokoh dan anggun, tapi sebuah jembatan lengkung yang berwarna kuning. Sebuah jembatan yang mengigatkan saya akan jembatan Yellow bridge in Cincinnati di kota cicianti Ohio Amerika serikat.

Saat yang tepat beranjak, ketika puas menikmati pemandangan bebas dari hamparan keindahan teluk dan lingkaran lampion yang indah itu. Pukul 20.30, sebentar lagi sebuah atraksi berbeda akan disuguhkan dari ritme kehidupan sebuah kota teluk.

Cukup berdiri diatas jembatan yang kedua sisinya sengaja dibuat terbuka, anda bisa menikmati suasana fantastis 'ketika pesawat'melintas, sementara anda sedang berada diantara pertemuan sungai palu dan teluk. Kembali lagi saya dipaksa berimajinasi mengenang satu persatu adegan film romantis korea.

Selamat menikmati Senja di Kota Teluk....

Posting Komentar

3 Komentar

  1. Kaili Ngataku, Palu Kana Ku Tora....

    BalasHapus
  2. Bagus critanya dik Rakhmad. Sangat puitis..! Membacanya seolah ruhku terbang ke daerah ini. Pikiran dan imajiku terbawa merasakan Sarabba dan pisang kejunya. KUharap suatu hari kan kuinjakkan kakiku di sana.

    BalasHapus
  3. Anonim4:15 PM

    amazing ' ditunggu bukunya
    kemasan yg fresh

    BalasHapus