' Anas urbaningrum dalam Pentas Politik Nasional'

Ini merupakan salah satu Paper kuliah saya untuk mata kuliah ‘Teori Politik Klasik dan Kontemporer’. Dari pada sekedar  berakhir menjadi bahan perkuliahan dan hanya dibaca oleh dosen pengasuh mata kuliah (kalau dibaca), maka saya menyunting beberapa bagian agar tidak terlalu menjemukan dan dapat menjadi bahan bacaan bagi siapapun. Semoga bermanfaat.

Anas urbaningrum adalah tokoh muda yang melejit, Ketua Umum Partai Demokrat pemenang pemilu 2009 dengan  jumlah suara 21.703.137 atau sama dengan 20,85% dari total keseluruhan suara Partai Politik peserta pemilu 2009 yang jumlahnya 44 partai politik (Data KPU 2009).


Memenangkan kontestasi pemilihan Ketua Umum Partai setelah mengalahkan dua pesaingnya Marzuki Ali ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dan Andi Alfian Malarangeng menteri pemuda dan olahraga. Tahun 2010, Mantan Ketua Umum Penggurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia 1997-1999 resmi duduk sebagai ketua Partai demokrat sekaligus menjadi Ketua Partai Terbesar di usia 40 tahun.

Karir Anas Urbaningrum yang cemerlang kini sedang diuji seiring dengan tudingan korupsi oleh mantan berdahara umum Partai Demokrat Nasaruddin yang mengaku dibalik dana pemenangan Anas pada kongres ke II Demokrat di kota bandung merupakan hasil dari dana  suap wisma atlet.

Ada apa dengan karir Politik Anas Urbaningrum? Bagaimana Analisis Hubungan antara pencapaian Anas Urbaningrum dalam kontestasi politik partai demokrat dan serangan atas karir politiknya baik sebagai elit partai politik maupun aktor politik dalam pentas nasional?Analisis yang digunakan adalah pendekatan  elit dan aktor politik? Tiga hal inilah yang akan dibahas dalam paper yang berjudul;’Anas Urbanungrum dalam pentas politik Nasional’.

Kata kunci : Karir politik Anas Urbaningrum, Pencapaian Partai Demokrat, Kontestasi politik pemilihan ketua umum Partai demokrat, Kasus Anas Urbaningrum dan Analisis Aktor dan Elit Politik.

Perjalanan Partai Demokrat dan Anas Urbaningrum ibarat dua sisi mata uang yang sama.  Partai Demokrat adalah Partai yang masih terbilang muda namun dapat meraih simpati pemilih yang cukup besar dalam dua priode pemilihan umum pada tahun 2004 maupun tahun 2009.

Partai yang lahir 9 September 2001 (bertepatan dengan hari lahir pendirinya Susilo Bambang Yudhoyono) mampu meraih suara 422,425 suara atau  8.99 % Pada tahun 2004 yang menempatkan Demokrat dalam 5 besar Partai Pemenang Pemilu kala itu dan menjadi pemenang utama  pada tahun 2009  dengan jumlah suara 21.703.137 atau setara dengan 20,85% yang sekaligus berhasil mengantarkan Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Presiden untuk kedua kalinya.

Patut diakui perjalanan Partai Demokrat memang luar biasa, baru berusia 3 tahun mampu menjadi 5 (lima) besar Partai Pemenang dan di Usia ke 8 (delapan) keluar menjadi pemenang mengalahkan sejumlah partai yang tergolong mapan seperti Golkar, PPP ataupun PDIP.  Demikian pula karir Anas urbaningrum pria kelahiran  15 Juli 1969 yang baru saja lepas dari menjadi ketua Penggurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) 1997-1999 langsung dipercaya menjadi Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Bahkan Anas termasuk ke dalam anggota tim seleksi parpol peserta pemilu (Tim 11) dan anggota tim revisi Undang-undang politik (Tim 7). Karirnya di KPU terbilang singkat yakni dari tahun 2000 – 2005. Setelah dari KPU, Ia langsung bergabung ke Partai Demokrat  dan dipercaya menjadi Ketua Bidang Politik dan Otonomi Daearah DPP Partai Demokrat dan pada saat Pemilu Legislatif 2009 Anas terpilih menjadi anggota DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Timur dengan perolehan suara terbanyak yang akhirnya mengantarkanya dipercaya menjadi Ketua Fraksi Demokrat DPR RI.

Setahun kemudian yakni 15 April 2010 Anas Mencalonkan diri menjadi Ketua Umum Partai Demokrat dan tampil menjadi pemenangnya pada  23 Mei 2010 dengan perolehan suara mencapai 280 suara atau 53 persen dari total suara yang ada sebanyak 531 suara, Anas mampu mengalahkan perolehan suara dua kandidat lainya Marzuki Alie dan Andi Alfian Mallarangeng.

Menyimak perjalanan Anas Urbaningrum dan Partai Demokrat mencapai posisi sirkulasi elit dengan cara yang cepat tersebut mengigatkan pada gambaran konsep elit yang dikemukan Harold D. Laswell:
Elite sebagai suatu kelas yang terdiri dari mereka yang berhasil mencapai kedudukan dominasi dalam masyarakat dalam arti bahwa nilai- nilai yang mereka ciptakan, hasilkan, mendapat penilaian tinggi dalam masyarakat yang bersangkutan. Nilai-nilai itu mungkin berupa kekuasaan, kekayaan, kehormatan, pengetahuan. Elite berhasil memiliki sebagian terbanyak dari nilai-nilai, karena kecakapan serta sifat-sifat kepribadian mereka.
(Harold. D. Lasswell,  & Kaplan, Abraham. (1970). Power and Society. New Haven: Yale University Press)
Dari pandangan Laswell tersebut penting untuk melihat bagaimana sebenarnya Anas Urbaningrum Sebagai Aktor Politik dapat mencapai posisi elit pada Partai Demokrat dan nilai-nilai yang melatar belakangi sampai akhirnya mampu mememangkan kontenstasi politik pada saat pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat dan kontestasi pasca terpilihnya, dan berbagai serangan politik yang kini dihadapi Anas baik secara internal maupun eksternal.
Anas Urbaningrum dan Elit Politik Baru Pasca Reformasi
Sebagaimana Konsep dasar  dalam teori elit, mereka yang disebut sebagai elit adalah sekelompok kecil yang berada pada puncak kekuasaan (the rulling class), selain ada elit yang berkuasa (the rulling elite), ada juga elit tandingan yang mampu meraih kekuasaan melalui massa jika elit yang berkuasa kehilangan kemampuannya untuk memerintah.
Anas baru berubah menjadi ‘elit politik sesungguhnya’ pasca apa yang dijelaskan oleh laswell tentang nilai-nilai yang membuat seorang elit dapat berkuasa;
Nilai-nilai itu mungkin berupa kekuasaan, kekayaan, kehormatan, pengetahuan. Elite berhasil memiliki sebagian terbanyak dari nilai-nilai, karena kecakapan serta sifat-sifat kepribadian mereka.
Anas dengan cerdas memanfaatkan nilai legitimasi kekuasaannya sebagai Anggota Komisi Pemelihan umum dan tim Revisi undang-undang politik sebelum era pemilihan langsung. Dengan otoritas yang dimilikinya untuk melakukan seleksi atas partai-partai anas membangun koneksi politiknya secara baik dan menjadikan hal tersebut untuk menjadi modal sebelum akhirnya benar-benar terjun ke kancah politik praktis di partai demokrat. Selain itu dengan kecakapan dan sifat-sifat keperibadian ‘Anas yang dikenal santun’ dan menjunjung norma-norma patron klan jawa, sosok Anas mudah diterima dalam sirkuit elit Partai Demokrat.

Sehingga mudah saja bagi Anas Urbaningrum langsung berada pada posisi  salah satu ketua DPP Partai Demokrat yakni Ketua Bidang Politik dan Otonomi Daerah. Sebuah posisi yang dimanfaatkan dengan baik oleh Anas untuk terus dapat merapat menuju sumber elit utama Partai Demokrat yakni keluarga Cikeas. Berkat kedekatan dan kepercayaan Cikeas Anas Urbaningrum berhasil menduduki posisi ketua Fraksi Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dari sanalah “Anas membangun Negosiasi”politik kepada setiap struktur elit Partai Demokrat.   

Rekonsiliasi politik yang tidak selesai 

Karir politik yang melejit, mencapai posisi puncak elit Partai di Usia yang masih terbilang muda, dan meraih simpati jajaran Partai Demokrat ternyata bukan jaminan bagi Anas untuk tampil ‘sempurna di pentas politik Nasional’. Justru hal tersebut berbuah boomerang karena Anas belum mampu membangun ‘Rekonsiliasi Politik’pasca kontestasi yang terjadi.

Hal ini sangat terlihat ketika serangkaian Tuduhan yang dikemukan oleh mantan bendahara umum
Partai Demokrat Anas Urbaningrum Nasarudin kepada Anas dan serangan berbagai pihak kepada Demokrat ternyata belum mampu tampil dengan solid.

Anas juga belum mampu mempertahankan simpati yang diraih utamanya bagi struktur jajaran elit ‘Pendiri Demokrat’. Hal ini semakin Nampak dari pertemuan para deklarator demokrat pada 13 juni 2012 yang lalu saat itu ‘Pidato SBY’ mengindikasikan bahwa Anas tidak lagi mendapatkan perlindungan penuh dari ‘jajaran teras Dewan Pembina maupun mereka yang menjadi deklarator Partai Berlambang Mercy tersebut.
Selain itu dalam pakem ruang politik di Indonesia, maka pertemuan silaturahim antara pendiri dan deklarator partai tersebut dapat dibaca sebagai; pertama, merupakan perluasan konflik politik di dalam faksionalisasi yang mengkristal di internal partai. Sebagai buah dari tidak selesainya ‘Rekonsiliasi’ internal pada jajaran penggurus demokrat dibawah kendali Anas Urbaningrum.


Kedua, kegagapan pusat oligarki Demokrat sekaligus penyelenggara utama pemerintahan Indonesia dalam merespons turunnya legitimasi warga negara terhadap mereka.Hal ini semakin mengindikasikan panggung politik kekuasaan tidak terkuasai secara utuh oleh lapis utama kekuasaan di internal partai, dan ketika momen ini terjadi maka aktor politik yang tampil dari pusaran turbulensi politik tersebut akan menjadi ancaman bagi penguasaan utuh partai politik oleh kekuatan oligarki politik.

Dua kondisi inilah yang menjadi persolan utama yang semakin memberatkan bagi posisi Anas Urbaningrum dalam pentas politik Nasional yang kini terjadi, sebenarnya ‘Anas dan Demokrat’bukanlah Partai Pertama dan Ketua Partai pertama yang menjadi bulan-bulanan dari kelompok-kelompok yang berjarak dengan kekuasaan. ‘Guru Anas’ Urbaningrum mantan ketua Pengurus Besar HMI ‘Akbar Tanjung’  dan Golkar juga pernah di serang oleh isu korupsi.

Namun akbar tanjung lewat perjuangan kasasinya mampu keluar dari kondisi tersebut termasuk membawa Golkar keluar dari posisi dilematis diambang kehancuraan pada saat serangan isu korupsi. Perbedaanya Akbar Tanjung dengan kematangan politiknya mampu menjaga soliditas internal dalam “Partai Golkar’. Akbar mampu menginstitusikan partai Golkar secara baik dan mengamankan posisi secara internal sangat berbeda dengan posisi yang dihadapi oleh Partai Demokrat saat ini.

Anak Ideologis VS Anak anak genealogis 
Jika Anas Urbaningrum dapat dikategorikan sebagai salah satu bagian dari keturunan ideologis dari ‘Politik Kesantunan SBY dan Partai Demokrat’ maka edhie baskoro adalah anak genealogis oleh Susilo Bambang Yudhoyono. Posisi Ibas sebagai sekertaris Partai Demokrat adalah posisi seorang anak Geologis.
Munculya Edi Baskoro pada setiap panggug politik Nasional semakin menambah kepercayaan dirinya dalam menapak karier kedepannya terutama dibingkai ranah politik. Dan modal yang paling besar diperolehnya adalah keterkenalannya oleh masyarakat dengan kemunculannya selalu diapit Sang Presiden yang adalah Orang Tuanya dengan serta merta embel nama belakang keluarga akan selalu disandangnya.

Fenomena Klan dalam politik ada dalam satu keluarga dimana para pemilik otoritas kekuasaan   menempatkan anggota keluarganya dalam struktur politik, klan dalam politik ini merupakan sesuatu yang diturunkan atas faktor keturunan dan ada yang menyebut gejala ini sebagai kebangkitan dinasti dikancah politik Nasional. 
Secara otomatis tidak bisa dipungkiri simpati dan dukungan sebagian masyarakat ke SBY tentu akan mengalir pula kediri Edi Baskoro. Apalagi dukungan politik juga bisa didapatkan dari ‘posisi ibas sebagai menantu seorang putri ketua Partai Amanat Nasional Hatta Rasajasa. Berbagai kondisi geologis ini secara tidak langsung sebenarnya menyimpan posisi sulit bagi Anas yang popularitasnya semakin menurun. Karena jejaring kekuasaan keluarga cikeas tentu akan tetap mempertahankan ‘kekuasaanya’ atas Partai Demokrat.
Ini bukan hal baru dari Partai Demokrat karena ‘Hadi Utomo’ ketua Partai Demokrat sebelum Anas Urbaningrum memiliki pertautan dengan keluarga cikeas. Jika pada akhirnya Anas Urbaningrum akan terjerat pada kasus korupsi maka tidak menutup kemungkinan ‘peta dukungan politik’ menuju ‘ketua Partai Demokrat adalah Edhie Baskoro’.
Model prilaku politik dinasti tidak sepenuhnya hilang dari Indonesia. Edhi Baskoro, Puan Maharani, Yeni Wahid dan sejumlah nama lain senantiasa melekat menjadi generasi politik dinasti dimasa ‘orde reformasi’. Kondisi ini tentu saja menjadi hal yang harusnya dibaca oleh Anas sebagai salah satu persoalan yang mendera untuk dapat terus memainkan kartu politiknya.
Anas masih juga tersandera ketika mesti berhadapan dengan dinasti kekuasaan Partai Demokrat dengan cikeas dimasa akan datang dan akan semakin mempersulit untuk mendapatkan dukungan penuh dari kekuasaan yang kini berkuasa. Demikianlah model Bangunan klan tidak terlepas dari siapa patron awal yang membangun pondasi yang kuat  yang membawanya sehingga klan tersebut atau jaringan mampu berada pada level kekuatan kekuatan yang kuat untuk kemudian dikonsolidasikan pada tataran elit yang kemudian menjadi kekuatan yang kuat ditingkatan nasional partai demokrat sendiri sehingga konsolidasi internal kekuatan cikeas semakin kuat. 

Anas dan Demokrat dimasa akan datang
Jika melihat kondisi politik yang ada hanya aka nada dua sekenario besar bagi perjalanan Karir Anas Urbaningrum. Pertama, Anas akan tetap kokoh jika mampu membangun soliditas internal dalam tubuh demokrat dan mampu membuktikan bahwa dirinya tidak terlibat kasus hambalang sebagaimana yang dituduhkan oleh Nasarudin mantan bendaharanya.
Jika Anas dapat melalui masa-masa tersebut ini akan menjadi prestisi sosial tersendiri bagi Anas Urbaningrum, bahkan tidak menutup kemungkinan Anas Urbaningrum dapat melampaui popularitas Susilo Bambang Yudhoyono di Partai Demokrat. Kontestasi selanjuta adalah antara Anas Urbaningrum dan SBY tidak akan terelakan, pertarungan antara ‘anak Ideologis Vs genealogis’. 

Keduanya pada fase awal akan sangat mesra namun pada saat berhubungan dengan hal-hal yang sangat seterategis diakhir kepemimpinan SBY di Partai Demokrat ledakan konflik antara pendukung cikeas dan pendukung anas secara internal akan saling berhadap-hadapan.
Namun jika bandulnya menjadi berubah, dimana Anas Urbaningrum terbukti terlibat secara hukum dalam kasus hambalang  maka sekenario kedua yang akan Anas Urbaningrum akan disingkirkan dari peta politik Partai Demokrat. Tapi itu bukan berarti karir Anas Urbaningrum dalam pentas Nasional akan berakhir.
Saat momentum perubahan dan ketidakpuasan semakin mengkristal akibat lemahnya pemerintahan SBY, pergantian Rezim pasti akan terjadi. Anas akan kembali mengambil posisi sterategis dan dengan bekal kelihaian dan jaringan politik yang dibangunnya. Walau sebelumnya anas sendiri mesti menerima berbagai konsekuensi hukum yang akan membuat Anas mengalami ‘Proses Hukuman Politik’ karena kesalahan masa lalunya. 

Anas Urbaningrum dan Fenomena Politisi Reformasi
Suka tidak suka Anas Urbaningrum adalah patron politisi yang lahir dari orde Reformasi. Kondisi ini tentu saja semakin pelik, ditengah ekspektasi publik yang begitu besar  bagi perubahan pasca era diktator Suharto. Anas lahir sebagai prodak dari orde ini yang tentu saja memiliki konsekuensi jika sampai terlibat kasus hukum seperti korupsi. Tingkat kepercayaan terhadap Partai Politik tentu saja akan semakin merosot seiring dengan berbagai kasus yang dialami oleh politisi senayan.
Berbagai pandangan yang mengatakan Konsentrasi politikus kita kebanyakan mengurusi obyek-obyek yang memberikan pemasukan ketimbang ‘mengutamakan visi dan misi’ yang  dibebankan kepadanya sebelum  mereka mencapai posisi tersebut akan semakin mendapatkan pembenaranya.

Proses tercetaknya kader secara instan dan sistem rekrutmen calon politikus akhir-akhir ini ditengarai sebagai kontributor utama menghasilkan “rombongan”  politikus bermasalah di negeri ini. 

Potret kasus yang menimpa Anas Urbaningrum sebenarnya adalah gambaran bagaimana lemahnya kaderisasi politik dan model seleksi dalam penentuan kepemimpinan elit politik negeri ini yang selalu terhubung dengan kontenstasi-kontestasi padat modal. 

Belum lagi terjadinya perpindahan kader dari satu partai ke partai lainnya menunjukan pola penerimaaan kader partai di Indonesia masih sangat lemah. Boleh dikatakan bahwa partai belum memiliki sistem penerimaan kader partai yang baik. Pola penerimaan kader yang harus dimulai dari bawah dan dilanjutkan dengan pendidikan kepartaian yang berkesinambungan  sering terabaikan. 

Pada sisi lain masuknya orang kesuatu partai tidak jarang karena ingin mendapat perlindungan baik itu bisnis ataupun jabatan. Akibatnya kader yang masuk dengan murni dan mengawali dari tingkat paling rendah serta memiliki kapabilitas yang tinggi sering terabaikan, karena kesempatan mereka telah direbut oleh kader yang memiliki modal sosial dan modal jaringan yang besar.

Belajar dari kasus Anas Urbaningrum harusnya  konsolidasi sistem politik  mesti dilakukan. Sebagai respons atas banyaknya pengalaman pahit selama periode reformasi. Karena kondisi  ini akan menimbulkan kesan bahwa menjadi pengurus partai politik tidak lagi menarik. Tentu saja kondisi ini akan semakin memperburuk cintra politisi ditengah masyarakat yang akan menjatuhkan kredibilitas dari berbagai lembaga-lembaga negara yang ada utamanya DPR maupun eksekutif.



Posting Komentar

0 Komentar