KAMMI dengar, KAMMI Taat...

Aku pernah berumah disana, dibawah lindungan tangan berkalung se-ikat bunga mawar yang menggenggam bola dunia. Berkarib dengan gelora demonstrasi, panasnya matahari Makassar, adalah kawan yang mesti dilalui bersama hentakan teriakan takbir, Allahu Akbar!

Berlari, berteriak, lalu tertunduk syahdu diantara dinginnya lantai mushola kampus dan siraman air wudhu adalah ritual seorang kader. Sekali sepekan kami akan duduk melingkar diantara seorang Guru yang disebut  'Murabbi' , ada banyak hal yang dibicarakan tapi satu yang pasti 'kami belajar untuk taat'. Sebagaimana ayat yang senantiasa ditekankan;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu." (QS. An-Nisa': 59) 
  
Ketika masih baru, aku selalu bertanya siapa yang dimaksud dengan Ulil Amri dalam gerakan ini? Apakah para pemimpin organisasinya? Setelah separuh tahun aku mulai paham bahwa para ulil amri adalah mereka yang memimpin syuro, para ustadz dan murabbi? Terus apa urusanya mereka dengan organisasi ekstra kampus ini ? 

Gerakan ini adalah gerakan dakwah akhi, tak perlu antum memisahkan keduanya
Tegur seorang sahabat ketika sejumlah tanya aku ajukan kepadanya. Kali itu aku hanya bisa diam tanpa membantah sekalipun. 
 ----

Tahun-tahun bersama demonstrasi disekitar awal 2003 sampai 2004 terus berlanjut, kala itu 'protes' yang  kami teriakan adalah kepemimpinan megawati yang diangap gagal dalam menjalankan roda pemerintahan. Megawati yang cenderung diam, pasif dan belum mampu menunjukan tanda-tanda siknifikan dalam perbaikan atas Negara yang dalam kacamata kami saat itu, lebih merupakan 'ibu rumah tangga' dari pada sosok Ibu Negara. 

Api demonstrasi yang terus bergulir dan semakin memanas jelang pemilihan umum 2004, justru membawa konflik dalam batinku semakin menyala. Sejak memasuki kampus Unhas di tahun 2002 aku telah terlibat dalam gerakan ini, tapi mengapa pertanyaan-pertanyaan itu semakin dalam saja? Pertanyaan yang terus 'berkonflik' dalam batinku sendiri. 

Pertanyaan yang tak pernah mampu aku jawab dengan tegas, bahkan dalam pandanganku semakin lama-semakin menjadi kabur. Padahal jenjang kaderisasi yang aku ikuti telah pada level menengah Daurah Marhalah 2 dan oleh Pimpinan Puncak level daerah Sulawesi Selatan ketika itu, aku diminta untuk membantu di level pengurus daerah. 

Memasuki tahun ketiga kegilisahanku semakin bertambah, apalagi rasanya aku semakin muak dengan diriku sendiri ketika di forum-forum debat, diksusi lembaga ekstra maupun intra kampus banyak yang mempertanyakan sesuatu yang sesungguhnya bagian dari kegelisahanku. Jika mereka dari gerakan ekstra kampus atau para aktivis BEM  pertanyaanya umumnya seperti ini ;
  • Apa hubungan antra KAMMI dan Partai Keadilan ?
  • Mengapa sebuah Gerakan Mahasiswa ekstra kampus mesti manut kepada sebuah Partai Politik? 
Maka jawaban yang akan keluarkan 'biasanya akan sangat politis' tak ada hubungan hirarkis antara keduanya. KAMMI adalah gerakan ekstra kampus yang lahir dari@$$&&*(&*@...
Maka aku akan membawa sang penanya ke sejarah kelahiran KAMMI dan dengan sedikit teknik komunikasi maka biasanya mereka akan 'amnesia' akan pertanyaanya sendiri.
  • Mengapa kami para pengurus tidak dibiarkan berkerasi dalam menentukan isu sendiri? 
  • Mengapa kaderisasi di internal organisasi yang namanya sungguh keren Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) tidak lebih dari muatan pesantren kilat? Mengapa taqlimat sekelompok orang diluar organisasi ini lebih kuat ketimbang diskusi dan kajian yang lahir dari internal lembaga sendiri?  
  • Mengapa kita pada waktu tertentu menggunakan jubah aktivis mahasiswa dan pada saat yang lain mesti patuh dengan jubah Partai? Dimana independensi kita sebagai Mahasiswa..?
Nah, kalau tiga point pertanyaan diatas adalah pertanyaan khas sejumlah kader yang mencoba kritis melihat organisasinya. Maka biasanya jawabanya adalah;  pertama, silahkan kita memperkuat kajian yang kita lakukan ada departemen Kajian Sterategis di komisariat atau Kamda. Kedua,  kaderisasi kita memang mengacu pada dua pola yang saling berhubungan ingat kita juga aktivis dakwah dan ketiga, demikianlah adanya...*&^^*%

           ---
Aku benar-benar muak dengan diriku sendiri ketika itu. Rasanya sedang mencoba menipu diri sendiri dengan berusaha menutupi sebuah kenyataan. Apa yang ditanyakan oleh gerakan ekstra kampus itu adalah benar adanya, KAMMI dan PK yang kemudian menjadi PKS merupakan hal yang sama. Bahkan lebih parah lagi, banyak isu yang di jadikan agenda gerakan pada tingkatan komisariat sampai Kamda adalah titipan dari apa yang menjadi agenda Partai.  Bahwa KAMMI tidak lebih dan tidak kurang hanya sekedar bagian dari pintu masuk rekrutmen Kader Partai tak bisa dibantah.
Aku sendiri mengalaminya di masa-masa itu, demonstrasi penolakan Kasasi Akbar Tanjung di Gedung DPRD sampai aksi mengalang solidaritas demi penolakan sejumlah elit politisi busuk di tahun 2004 adalah murni titipan. Para pengurus KAMMI seperti ditanyakan oleh sejumlah kader kritis itu adalah benar adanya. Bahkan ketika di paruh awal tahun 2005 saat Aku mengikuti kaderisasi tertinggi bagi kader KAMMI yakni Daurah Marhalah 3 tidak ada hal yang luar biasa yang menjadi perbincangan soal-soal kebangsaan. Semuanya hanya berkutat pada Doktrin ketimbang membincangkan peran sterategis sebuah gerakan kemahasiswaan.

Jangan bermimpi sebuah diskusi yang menarik akan lahir sekalipun dari forum kaderisasi dengan jenjang Daurah Marhalah 3. Jika ada seseorang yang mulai beragumentasi dan mengutip pemikiran seorang tokoh  barat yang bacaanya diluar dari bacaan yang sering dikutip oleh seorang kader KAMMI (Hasan Al-Banna, Syaid Quthb dll) dia akan mendapatkan peringatan tentang akhlak islami.

Seolah-olah argumentasi kader tersebut tidaklah islami dan kader tersebut mesti mendapatkan materi ghazwul fikri (perang pemikiran) untuk mencuci otaknya. Apalagi jika ada yang sampai berdebat maka yang lainya akan bersoarak dan memberi peringatan, ingat akhi antum bukan anak &****.

Jika seperti ini kondisinya saya kemudian merenung, pernahkah mereka mengetahui apa yang terjadi ketika KH. Ahmad Dahlan  sering berdebat dengan Natsir, apakah mereka tidak islami? selama perdebatan tersebut demi kebaikan, apalagi dalam konteks dinamika lembaga kemahasiswaan apa yang salah?
---
Kembali kepada kegelisahanku dimasa itu, mungkinkah gerakan mahasiswa ini akan menjadi sebuah gerakan yang benar-benar bersih jika seluruh gerakanya dilatar belakangi oleh kepentingan partai politik? dimana independensi sebuah gerakan? adakah benar-benar gerakan mahasiswa yang lahir karena sebuah gerakan moral? Pertanyaan yang tak pernah mampu dijawab ketika aku bergelut dengan organisasi ini, kecuali lagi-lagi sebuah pesan;  'samina waatona'....



  

Posting Komentar

1 Komentar

  1. mantap kak

    Anak kammi harus lebih independen lagi dalam mengangkat wacana..

    kemarin, sy juga bergelut pada semester 1 dan 2, tapi sy liat stagnant begitu saja. wacananya juga sekitaran itu saja..

    terimakasih tulisannya kak..

    BalasHapus