Machiavelli


Namanya dilekatkan kepada sesuatu yang kotor, menjijikan dan tidak bermoral. Pikiran-pikiranya bagi para ilmuwan yang tak sepaham denganya adalah sesuatu yang tercela, Gagasanya jarang dikutip sebagai sebuah ‘keagungan’ apalagi ‘keanggunan’. Mereka yang hanya mendengarkan ‘kutukan atasnya’ juga tak berhenti ‘menghukumi dari zaman ke zaman’. ‘Teacher crime’mungkin itulah kalimat yang paling pas atas dakwaan bagi dirinya, ‘Guru Kejahatan’! Tapi apakah sang terdakwa lantas dilupakan? Ia tetap hidup sampai saat ini di abad ke 21. Dimana Saya hidup, dizaman yang juga masih belum bisa menerimanya sama seperti di abad 16 dan 17 yang lampau. Niccolo Machiavelli begitu namanya!

Saya mulai menekuni kembali gagasan-gagasanya lewat buku Henry J.Schamadndt seorang Profesor Ilmu Politik Universitas Wisconsin-Milwauke dalam karyanya yang berjudul A.History of Political Philophy yang mengulas satu sub bab khusus pemikiran Machiavelli dalam pendekatanya terhadap gagasan pencerahan bagi ilmu politik.

Membaca Machiavellie menghadirkan dua sudut pandang seperti kata Schamandt; pertama, melihatnya sebagai tokoh pencerahan dengan semangatnya mengusung ide-ide rasionalisme politik atas dunia, baik masa lalu maupun masa kini. Kedua, dirinya menjadi perlambang dari berbagai aksi politik keji dan tidak bermoral yang sampai saat ini terus dicela.

Akar dari semua pertanyaanya menyangkut politik sebenarnya bergerak dari gugatanya atas pemikir zaman sebelum dirinya dan zaman dimasa dirinya hadir. “Mereka terlalu sibuk memikirkan norma dan etika, meramu gagasan negara ideal dan menulis buku saku sebagai pedoman moral para raja” tanpa pernah berpikir ‘apa yang ada dibalik sebuah kekuasaan dan bagaimana cara memperolehnya’.

Sebuah pemikiran yang menyalakan api pertentangan di masanya karena dianggap melecehkan nilai-nilai moral dari politik dan kekuasaan. Tapi bukankah pada prakteknya politik senatiasa berlaku demikian? Constancy (tidak berubah) bahwa watak manusia sepanjang masa senantiasa digerakan oleh hasrat (passions) karena kejadian pada masa lalu, masa kini dan akan datang, reaksi manusia akan tetap sama digerakan oleh nafsu untuk berkuasa.

Baginya sejarah umat manusia dan kehendak berkuasa sampai kapanpun hanyalah merupakan pengulangan yang dibedakan oleh bentuk sebuah kekuasaan baik monarki, Republik atau apapun namanya tetap ada mereka yang bergerak dan berkehendak berkuasa atas yang lainya.

Dalam karyanya yang terkenal The Princes dengan tegas dia menghotbahkan bahwa manusia untuk tujuanya akan berusaha menghalalkan segala cara! Tapi Macevelli sebenarnya tidak hanya berhenti disitu dalam penjelasanya yang lain utamanya dalam karyanya Discourse Ia menambahkan tak penting bagi seorang raja membicarakan berbagai hal menyangkut moralitas dan nilai-nilai etika. Satu-satunya tujuan seorang raja setelah berkuasa adalah menggunakan kekuasaanya untuk ‘tujuan yang benar’.

Pertanyaan selanjutnya apa yang disebut sebagai tujuan yang benar oleh Macevelli ? inilah yang banyak menuai perbedaan pendapat dari sejumlah orang yang mencoba menafsirkanya . Karena pada dua karyanya sepertinya Maceveli hendak membawa para penafsirnya dalam pilihan jalan yang saling berbeda.

Dalam penjelasanya pada buku The Prince, Maceveli berpandangan seorang pengguasa diperbolehkan menggunakan cara-cara tidak bermoral untuk tujuan kesejahteraan umum.  Sementara pada Discourse Maceveli justru berargumen dirinya mendukung ide lahirnya sebuah republik dimana kebabasan individu yang luas dan partisipasi politik dimungkinkan bagi semua orang jika kondisi sosial mendukung.

Pada titik inilah paradoksal pemikiran Maceveli yakni pada gugatan rasionalitasnya melihat sebuah kekuasan. Apakah kekuasaan mutlak ditentukan seorang tiran ataukah oleh mayoritas. Lubang yang sengaja tetap dibukanya, lagi-lagi dengan membuat sebuah pintu kecil atas nama rasionalitas ‘jika sebuah kondisi memungkinkan’.

Saya kemudian merenung, mungkin paradoksal dalam kepala Maceveli dari ratusan tahun yang lalu juga merupakan repetisi kondisi yang terjadi atas Indonesia pada hari-hari ini. Apakah kehidupan kita dengan alam keterbukaan dimana dengan kebebasan dan partisipasi publik menjadi begitu terbuka pasca era soeharto yang dianggap era tirani, lebih baik dari kondisi kegaduhan politik akhir-akhir ini?

Belum lagi jika berkaca pada gagasan maceveli menyangkut bagaimana cara untuk berkuasa dan memperoleh kekuasaan nampaknya tak pernah berakhir menjadi prilaku yang terus berlangsung sampai kini. Di tenggah berbagai persoalan kebangsaan semakin banyak saja orang yang berlomba memperoleh kekuasaan. Walau mereka tetap terus mencela Maceveli tapi pada prakteknya mereka terus mempraktekan apa yang diajarkan oleh Maceveli. Politik untuk berkuasa. Tentu saja karena hasrat berkuasa adalah abadi dalam diri manusia.



Posting Komentar

0 Komentar