Selamat datang Dunia Bermain...

Apa kabarmu Ali?...

Kata ibumu semakin banyak saja kawan-kawan barumu. Katanya pula, Kini kau bukan lagi Bayi kecil yang merangkak dari sisi ranjang yang satu menuju sisi yang lain. Kau tumbuh menjadi seorang anak lelaki yang setiap bangun pagi akan berlari menuju halaman dengan sepasan sepatu olahragamu.

Lalu kau akan berteriak memanggil semua sahabat dewasamu, salah satunya lelaki berumur 10 tahun, Rafa namanya tetangga depan rumah kita.


Ali and Friends
Jika ibumu melarang, maka dengan marah kau akan lunglai ketanah merengek untuk diperbolehkan keluar rumah. Sesekali di waktu-waktu yang berbeda, kau akan mengeja nama seorang gadis kecil yang lebih muda darimu; nia...nia... begitu ejamu, lalu mengitipnya dari celah-celah pagar besi halaman rumah kontrakan kita sambil tersenyum malu-malu...

Dengan sahabat-sahabat dewasamu kau akan bermain bersama, kereta putarmu, mobil-mobilan,pesawat terbang, truk tempurmu dan seperangkat mainan binatang-binatang hutan adalah kawan bermain dan berfantasi kalian...

Sesekali dengan jumawa kau akan menunjukkan kepada kawan-kawanmu si Tono sahabat boneka keramu sejak bayi atau Hino, si Hiu yang kau dapat dari Seaworld Ancol.

Uniknya juga, kau tak lupa dibagian akhir pameran yang kau pandu, kau memperlihatkan  kepada para sahabat dewasamu itu, tumpukan Majalah Investasi yang aku dan beberapa sahabat jalankan dengan bangga kau akan membuka halaman depan majalah itu, lalu jarimu menunjuk ke fotoku sambil berucap;p..a..p..a....

Ali dan Majalah Investasi
Ibumu juga melapor, berbagai keusilan yang kau lakukan kepada nenekmu mulai dari kebiasaanmu mengendap diam-diam menuju kamar mandi lalu bermain air berlama-lama saat nenekmu sedang solat dan ibu sedang pergi kuliah, sesekali kau bahkan tanpa diketahui telah berlari menuju lapangan kompleks sambil membawa bolamu yang membuat nenekmu gelisah dan hampir ketakutan jika kau diculik...

Sungguh aku senang mendengarkan segala perkembangan darimu nak, tapi sekaligus khawatir dirimu masih terlalu kecil untuk menjadi anak laki-laki. Pasalnya usiamu saat ini baru 1,7 (satu tahun tujuh bulan).Aku takut, karena kau belum bisa membedakan jika ada mobil atau motor  yang melintas dan kau berlari keluar pagar atau jika kau jatuh sakit karena berkarib dengan 'gilanya matahari makassar'akhir-akhir ini.

Aku berharap kau tumbuh secara wajar, dewasa secara wajar, kau boleh bermain sesukamu tapi kau harus ingat memasuki dunia mereka yang lebih dewasa darimu kadang tidak nyaman karena biasanya, mereka lebih egois dan cenderung mengangap dirimu hanya anak kecil yang sedang belajar bukan bermain..

Belajar dari pengalaman ayahmu ini nak, memasuki dunia orang dewasa adalah mamasuki dunia yang penuh kerumitan. Mereka para orang dewasa sulit untuk lebih percaya pada yang muda, karena mengangap para anak muda kurang berpengalaman, mentah bahkan tidak tau dunia.

Padahal yang mereka lakukan sebenarnya sedang membuat penilaian atas diri dan zaman mereka yang tentu saja berbeda dengan mereka yang lahir belakangan.

Bermainlah sepuasnya nak, berfantasilah yang banyak...imajinasikanlah apa yang hendak kau imajinasikan karena setelah kau beranjak dewasa kadang 'sekolah-sekolah'kita akan mulai membunuh imajinasi-imajinasimu itu satu persatu.  Karena mereka mengejar angka-angka untuk diberikan kepadamu. isi kepalamu adalah deretan nilai dari 1-9 itu yang biasanya mereka lakukan.
Kawan bermain dan Imajinasi
Demikian pula ketika akan masuk universitas, para dosen yang sok galak dan sok serius itu biasanya akan memberikan ukuran dari kapasitas kecerdasamu dari nilai A sampai dengan E. Pendidikan orang-orang 'Dewasa itu'kadang melupakan bakat, kekuatan, daya imajinasi dan terlalu banyak mengoceh tetang ke-seriusan dan kata fokus!

Mereka lupa  anak-anak sepertimu mampu melalui masa-masa luar biasa dari merangkak, berjalan hingga berlari hanya dengan bermain tanpa pernah diajarkan kata fokus dan makna keseriusan. Mungkin banyak dari para dosen dan guru-guru itu, melupakan episode penting seperti dirimu. Episode 'bermain' sehingga
saat dewasa mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang bermental kanak-kanak. Nikmatilah 'masa-masa ini nak, masa-masa indah bermainmu. Bertemanlah dengan se-usiamu agar kalian bisa belajar bersama...

Posting Komentar

0 Komentar