Surat Untuk Kawan


Tahun saat itu 2002 sudah sepuluh tahun dari tahun ini 2012. Tak terasa banyak yang berubah dari kau, aku, dan juga mereka. Kita bukan lagi mahasiswa baru dengan kepala plontos dengan segala tanda tanya di kepala. 

Aku ingat saat itu,  perjumpaan pertama denganmu. Kau sosok misterius yang tiba-tiba menyapaku. Kita dipertemukan di terminal kecil baruga unhas sehabis mendapatkan ceramah dari para senior tentang dunia kemahasiswaan. Waktu itu, sore hari pertamaku di kampus merah. Sisa rambutku belum lagi tercukur rapi, lalu kau menyapaku ‘sini ikut saya’!
Seorang kawan lain datang, kawan yang selalu ceria Amir namanya.
Mau kemana? Tanya Amir kepada kita berdua.
Saya ingin mencukur rambutnya sampai bersih! Katamu singkat, aku hanya diam saja.
Akhirnya kita mulai menyusuri jalan itu, lurus dan belok ke-kiri dibelakang ramsis putri di depan sebuah mushola. Aku ingat betul, kita bertiga berhenti didepan sebuah mushola. ‘Mushola Khairun Nisa’ (MKN) nama tempatnya, disana kau mencukur rata rambutku sampai benar-benar gundul hanya dengan bemodalkan sepotong silet yang entah kau dapat dari mana. 

Kita berkenalan kau menyebut namamu yang terdengar aneh bagiku, Tapi sungguh akrab nama yang pernah di populerkan oleh Iwan Fals. Dari perkenalan sore itu, berlanjut dengan keakraban selanjutnya. Kita sama-sama adalah sosok pencari, walau pilihan-pilihan kita tak selalu sama.
Misalnya saja saat kau memilih membaca Marx aku lebih tertarik membaca Hagel, ketika kau sedang gandrung dengan filsafat aku lebih tertarik pada aksi jalanan. Saat kau mencari kearifan Murtadha Muthahhari aku sedang larut dalam impian Hasan Al-Banna. Kita memang banyak berbeda tapi tak selamanya benar-benar saling berbeda.

Kita juga pernah mengikuti pengkaderan organisasi ekstra kampus ‘Hijau Hitam bersama-sama’ aku ingat disana kita berkenalan dengan banyak kawan baru Akel, Jeto dan Ajas. Juga saat kita sama-sama pertama kali demonstrasi ke DPR kala itu kita hanya ingin merasakan bagaimana rasanya demonstrasi. Demikian pula aku ingat betul kita sama-sama mahasiswa kampung yang masih awam dengan komputer dan dunia maya, lalu sama-sama ke warnet dan terbengong-bengong didepan komputer tanpa tau mesti memulai dari mana. Itu adalah terkonyol yang kita lakukan!

Hampir seluruh masa bermahasiswa kita habiskan bersama walau tak senantiasa benar-benar bersama. Aku lebih tertarik pada organisasi ekstra kampus dan haru birunya gerakan diluar sana. Sedangkan dirimu lebih tertarik menjadi ketua lembaga tingkat jurusan. Toh pada malam harinya kau akan datang ke kamarku yang sempit dengan dinding seng dan atap seng yang oleh Ardi diberi nama ACDC (Atap Ceng dinding Ceng) disana kita berdiskusi, berdebat terkadang sampai pagi tentang banyak hal. 

Sesekali jika kau tak berkunjung, dibulan puasa seperti ini aku akan mencarimu untuk memastikan apakah kau sedang baik-baik saja. Lalu saat berjumpa, kita akan menghabiskan berbatang-batang rokok, padahal saat itu sebagai seorang aktivis islam  yang sedikit keras, aku tak boleh menyentuh benda itu tapi kau selalu berbisik ‘ini demi akhlak perkawanan’. Lalu kita akan tertawa bersama-sama, berdebat dan berdiskusi lagi. Itulah kita sepasang pencari yang gelisah tentang orang-orang dikepalanya.

Paruh tahun 2006 aku akhirnya memilih untuk segera keluar dari kampus sementara dirimu memilih untuk bertahan. Kau bilang ‘ masih banyak pekerjaan yang mesti kita selesaikan dikampus, tapi bagiku semakin lama aku dikampus semakin banyak hal yang membebani pikiranku. Kita akhirnya berpisah, tapi tidak benar-benar berpisah ketika di palu aku mulai merintis sebuah majalah bisnis kau adalah orang pertama yang menemaniku sampai akhirnya majalah itu hanya berakhir  di edisi ke-empat karena aku memilih untuk kembali masuk kuliah dan menikah.

Saat-saat aku memulai kuliah S2 dan menikah lalu tinggal di rumah kertasku di BTP ketika itu dedline perkuliahanmu di ujung tanduk, maka akhirnya aku memintamu menuntaskanya dirumah.  seperti kebiasaan kita dahulu kita mulai lagi seri-seri diskusi panjang kita sampai akhirnya dirimu selesai dan meraih sarjana.

Lalu kita berpisah lagi. 
Aku mulai menekuni jalan hidupku dan kau mulai menjalani kehidupanmu sendiri. Sampai akhirnya tahun lalu majalah yang pernah kita rintis aku mulai lagi dan mengajakmu kembali.
Beberapa bulan kemudian tepatnya dua bulan lalu seorang adik di majalah yang sering menemanimu memberiku kabar tentang berbagai hal menyangkut dirimu, aku tak percaya sampai akhirnya aku berjumpa denganmu. Tak ada hal yang berbeda darimu, kau masih melayani setiap pembicaraanku dengan baik, tapi keluhan penyakit lamamu di sekitar belakangmu itu yang membuatku khawatir apalagi semakin lama semakin banyak pembicaraan tentangmu yang kurang menyenangkan dari kawan-kawan kita.

Aku paham apa yang ada dalam pikiranmu kawanku? Aku paham bahwa kau sedang baik-baik saja. Mereka yang belum mengenalmu dengan baik, mereka belum paham tentang segala kegelisahanmu menyangkut berbagai persoalan dikepalamu? Tentang dunia yang sedang tidak baik-baik saja, atau tentang kita yang selalu berbeda dalam melihat realitas?

Bukankah kau menyebut dirimu dalam banyak akun jejaring sosialmu dengan nama seorang filsuf eksistensialis itu Nietzsche. Itulah dirimu sebagaimana ketika perdebatan kita semakin panjang kau akan menutupnya dengan kalimat zarathustra tokoh rekaan sang filsuf ; mungkin ucapanku,bukan untuk telinga-telinga seperti kalian. 

Untuk itulah jangan pedulikan apa kata orang-orang sekelingmu tentang dirimu ayo terjang kehidupan ini, mari sama kita terjun kebadai persoalan  toh kita pernah melalui segala yang tersulit bukan? Kawanku, mungkin surat ini tidak berguna bagimu saat ini, tapi jika kau berkesempatan tentu kau masih ingat semua yang aku ceritakan bukan? karena aku tau kau sedang baik-baik saja!

Salam hangat dari saudaramu yang kini sedang menantimu di kota Bandung.
Aku rindu kau saat ini semoga kau baik-baik saja, tadi baru saja aku mengirimkan sebuah surah pendek untuk kesehatanmu...

Posting Komentar

0 Komentar