'Maaf kami Menjadikanmu Islam'

Mata ibumu tiba-tiba saja berbinar ketika secarik kertas surat keterangan pemeriksaan dari rumah sakit  aku berikan. Dengan mulut yang masih membentuk lingkaran dia tersenyum. Kali ini aku yang menjadi bingung, sebuah perubahan sikap yang kontras setelah beberapa menit lalu air matanya terus jatuh ketika melihat jarum suntik menembus urat nadimu dan para dokter  mengambil darah bagi kebutuhan pemeriksaan laboratorium.
Naluri ke-Ibuanya beberapa menit sebelumnya sungguh terguncang ketika dirimu tak berhenti muntah-muntah dan panas tubuhmu dari semalam tak juga turun.Pada bibir ranjang Unit Gawat Darurat  aku kemudian bertanya, mengapa dia tersenyum? 
Dengan tenang ibumu kemudian menunjukan surat yang tadi aku berikan, 'Pa coba lihat', jarinya menunjukan kepadaku seputar keterangan pribadimu  pada baris ketiga setelah nama, umur  tempat tanggal lahir,  lalu tepat di kolom yang tertera keterangan Agama; Islam! 
Mataku hanya berputar, 'apa yang aneh Ma'? Kali ini aku sangat bingung, atas apa yang ditunjukan oleh ibumu. ' 
'Muhamad Ali Ridha, sudah ada Agamanya Pa'. Jawab ibumu singkat sembari memelukmu, 'Anakku ini sudah diakui oleh orang lain sebagai Islam’. Aku hanya diam tanpa melanjutkan perbicangan dengan Ibumu yang sibuk memelukmu yang masih lemas karena kekurangan cairan.
***
Nak, perbincangan diatas terjadi tiga pekan sebelumnya. Saat itu, ketika aku mesti bergegas kembali ke makassar karena mendengar kesehatanmu yang memburuk. Syukurlah kini menurut ibumu dirimu sudah kembali ceria dan sibuk menekuni satu persatu mainanmu, sambil menghapal nama benda-benda yang diajarkan oleh nenek dan Ibumu.
Malam ini, tiba-tiba lintasan ingatan perbincangan dirumah sakit itu kembali hadir di kepalaku. Membawa sejumlah tanya  yang tiba-tiba saja datang diantara malam ke 14 Ramdhan, saat tugas kuliah dan beberapa pekerjaan mesti aku selesaikan secepatnya ditengah ritual ibadah puasa. 
'Mengapa dirimu bisa disebut beragama Islam? Apakah kami adil memberikanmu label Agama sebagai seorang Islam, sementara dirimu bukan memilihnya atas dasar Imanmu sendiri?', Itulah lintas pikiran nakal yang tiba-tiba saja datang entah dari mana.
Tiba-tiba saja  Aku menjadi ingat apa yang dikatakan oleh karen Armstrong dalam bukunya sejarah Tuhan; 'keberagamaan lebih banyak ditentukan oleh pengalaman-pengalaman tentang konsep  Tuhan masa kecil yang akhirnya membentuk kebutuhan akan Agama,  Homo religius!  
Itulah manusia nak, demikian pula dengan diriku dan Ibumu. Pada awalnya, kami sama-sama memeluk Agama Islam dan ber Tuhan kepada Allah yang satu karena kedua orang tua  kami adalah muslim. Kalau orang tua kami bukan beragama Islam atau tidak beragama, mungkin kami juga akan memilih agama yang berbeda.
Pada titik inilah dibutuhkan serangkain perjalanan dan pencarian tentang konsep Agama dan ke Tuhanan. Aku pernah gamang akan semua itu, sampai akhirnya secara pribadi aku melakukan perjalanan pencarian. Bagiku itu adalah hal penting, karena Iman itu selalu berawal dari keraguan. Ibrahim Nabi yang menjadi kakek agama monoteisme juga pernah ‘galau’ melakukan pencarian akan Tuhan, Rasulullah ketika mendapatkan wahyu dari Allah juga ketakutan ketika pertama kali bertemu jibril.
Nak, mungkin pada suatu masa nanti ketika kau mendapatkan ‘kegalauan’ akan Tuhan dan Agama pada saat itu ingatlah bahwa kami orang tuamu melekatkan Islam sebagai Agamamu bukan sekedar karena kami ingin mewariskan ajaran orang-orang terdahulu. Tapi aku Ayahmu dan Ibumu memilih tetap ber Islam karena kami telah melakukan pencarian akan Tuhan yang satu, Dia tidak melahirkan dan tidak dilahirkan. Dan tidak ada yang setara bagi-Nya.
‘Karena itulah kami ber Tuhan kepadaNya yang menjadi awal dari segala permulaan’.  Karena Ia tak sama dengan apa yang diciptakaNya, Ia yang Tak Terbatas dan Dibatasi, sebagaimana semua mahluk ciptaanya di semesta raya. Ketika kau lelah mencarinya dengan akalmu, maka jangkaulah Dia dengan hatimu pada saat itu kau akan sadar bahwa Dia selalu bersamamu. Karena jalan menuju dirinya sebanyak bilangan nafasmu.
Nak, apa yang kami berikan kepadamu memang adalah Iman yang kami miliki, tapi sebagai orang tua yang hanya bisa memberikan rambu jalan bagimu dan tentu saja  memilih apa yang kami percayai sebagai hal terbaik sebagaimana ajaran dari Manusia terparipurna yang kami kenal Rasulullah SAWW sang pembawa risalah kebenaran; Tiada seorangpun yang dilahirkan kecuali dilahirkan pada fithrah (Islam)nya. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. (HR. al-Bukhâri dan Muslim).
Semoga kelak kau paham mengapa kami menjadikanmu Islam dan mohon maaf tak menanyakan sebelumnya atas pilihan itu, semoga kita tetap berada di jalaNya.









Posting Komentar

2 Komentar