Terima kasih untuk 3 Tahun mencinta...

Tak terasa ini sudah tahun ketiga usia pernikahan kita. Tepat pada tanggal 8 bulan 8 dan jam 8 pagi saat aku mengucap ikrar suci itu pada tahun 2009 yang lampau. Seperti bilangan waktu yang senantiasa maju, kita juga terus bergerak maju, mencoba melewati hari dan satu persatu persolan yang datang menghampiri. Walau bukan dengan 'kebersamaan', sebagaimana pasangan suami istri lainya tapi dengan 'kesetiaan' akan tugas dan tangung jawab 'kita' yang ditakdirkan  untuk bersama.

Mungkin kita hanyalah bilangan kecil, seperti angka usia pernikahan kita 3 (tiga). Kita juga belum memiliki apa-apa, tak banyak yang berubah dari sejak kita bertemu di tahun 2005 yang silam. Sudah tujuh tahun ketika pertama kali kita bertemu dan aku mengirimkan sebuah  puisi untukmu di depan baruga kampus merah :

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah…
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza…
Tapi, aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku…
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu…
Atau tentang bunga-bunga yang
manis di lembah Mendalawangi…
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang…
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra…
Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku…
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya…
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu…
Mari sini, sayangku…
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku…
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung…
Kita tak pernah menanamkan apa-apa,
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa…

Benar saja, kau bingung ketika pertama kali menerima kiriman puisi Gie itu.Bola matamu hanya berputar, lalu dengan santai kau bertanya ;
Apa Maksud puisi ini?
Karena terlanjur malu dari pesan yang terlalu sok Simiotis maka dengan serampangan aku bertanya; maukah kau menjadi madras bagi anak-anakku kelak?
Bibirmu segera merekah, lalu dengan tenang suaramu yang lembut namun tegas bertanya; Apakah saya mengenal kita ?

 %$%**(&###

Pertemuan yang aneh, prosesi menyatakan cinta yang jauh dari normal apalagi kesan romantis mungkin itulah 'kita sampai hari ini'.'Kita yang sedang berada pada ketaksadaran'!Oleh kawan-kawanku saat masih dikampus dulu, mereka selalu bercanda 'bahwa dirimu sedang pingsan ketika menerimaku'?

Mereka tak pernah tau, sampai waktu aku menyatakan ikarku dedepan penghulu itulah momentum pertama 'ketika kau benar-benar siap' untuk menjawab apa yang kau tanyakan pertama kali bertemu, 'mengenal siapa diriku seutuhnya'. Detik pertama kali kau menjawab maksud pertanyaanku pertama kali bertemu denganmu, ketika kau mengucapkan ' aku mencintaimu' sembari mencium tanganku dengan lembut.

Hampir lima tahun tanpa kejelasan status sebagai pacar apalagi kekasih kita saling berbagi tentang banyak hal.  Ibarat Musafir di tengah padang pasir, 'kita adalah sepasang pencari oase pengetahuan'. Kita benar-benar berjalan dengan kedua kaki, karena aku tak pernah memiliki kenderaan apalagi sebuah mobil yang mampu meneduhkanmu dari 'panasnya matahari' dan 'Hujan yang kadang datang'.

Tapi bukankah kau selalu yakin, langit adalah 'atap terbaik bagi rumah kita di bumi'? Kau selalu mengulang kata-kata itu saat aku sedang lelah dan lemah, 'bahwa langit masih baik-baik saja mengapa mesti takut akan kehidupan'? maka aku akan selalu tersenyum.
Istriku, tiga tahun pernikahan dan tujuh tahun masa bersama bukanlah hal yang mudah untuk tetap selalu sabar untuk  berbagi bersama suamimu ini.

Aku sadar aku belum mampu membelikanmu sebuah rumah, peralatan dapur yang bagus atau berbagai batu-batuan berharga.Harta terbesar dan terbanyak yang kita miliki hanyalah 'buku' yang sama-sama kita percayai sebagai oase di tengah gurun kehidupan ini. Jendela untuk keluar dari 'ketaksadaran dunia' yang sedang kita jalani.

Karunia terbesar yang kita miliki yang mengalahkan segala batu-batuan termahal dan apapun adalah putra kita Ali Ridha, dialah penawar bagi berbagai kesulitan yang datang. Karunia yang kita jaga lebih dari apapun yang kita cintai, Dia yang menjadi 'penanda bahwa kita pernah dan akan terus hidup di muka bumi.
Istriku, sebagai lelaki yang kadang urakan, petualang yang kadang lupa pulang dalam usia pernikahan ke 3 tahun ini aku hanya ingin mengatakan; 'aku sayang padamu'.




Posting Komentar

0 Komentar