Berburu buku di Palasari

Sudah dibandung lagi, masuk kuliah lagi dan mulai bergelut dengan buku lagi. Sesuai jadwal,  semester yang sedang saya jalani adalah semester terakhir untuk masuk kelas dan mengikuti perkuliahan,  karena semester-semester berikutnya akan diisi dengan menulis disertasi, ujian, sampai akhirnya menggapai gelar doktor. Aminnnn.....aminnnnn...aminnnnn...

Suasana Pasar Palasari Nampak Depan

Nah, mumpung dibandung selain kuliah dan mengerjakan tugas-tugas penulisan bagi calon disertasi, tentu kepala saya butuh amunisi. Kok kayak perang ? Amunisinya tentu saja "B-U-K-U". Maka kemarin saya memulai hunting perburuaan buku-buku. Tapi jangan berpikir berburu buku hanya di Gramedia atau toko-toko buku terkenal. Karena di bandung untuk kelas mahasiswa kere seperti saya ada 'pasar buku palasari' yang berada di  Jalan Palasari kota bandung. 

Kang Asep Salah Satu Pemilik Toko Buku di Pasar Palasari
Pasar palasari menyediakan aneka jenis buku dari berbagai penerbit, anda tinggal menyebutkan judul bukunya maka Si Akang penjaga kedai akan mencarinya. Tentu saja dengan harga super murahhh. Buku-buku yang di jual dipasar ini dari buku zaman orde lama sampai orde reformasi, dari yang masih baru, bekas, sampai kelas bajakan. Khusus untuk kelas bajakan saya sarankan anda banyak memohon ampun kepada Tuhan dan sang Penulis atau penerbitnya, karena itu tindakan tidak terpuji. Kecuali tidak ada pilihan lain dan memang anda dalam keadaan darurat ekonomi seperti saya, karena Allah Pengampun bukan? hehehe

Setiap kali ke pasar buku palasari saya terkenang sebuah baris puisi yang kalau tidak salah bilang begini; 'Saya selalu membayangkan surga itu seperti Perpustakaan' ! Saat sedang berada di gerai-gerai buku di palasari perasaan saya benar-benar terbawa  imajinasi, tapi kali ini bukan cuman tentang surga tapi tentang 'orang-orang dikepala saya'. 

Suasana Lorong-lorong Pasar Buku Palasari
Diantara rak-rak buku yang ada, saya seolah sedang melihat Soekarno muda sedang membakar massa lewat tulisan-tulisanya dalam buku 'dibawah bendera revolusi', menyaksikan dialog Karen Armstrong dengan para sufi tentang sejarah Tuhan atau berpetualang bersama Umberto Eco tentang Novel fiksi ilmiah terbarunya Foucaults pendulum. 

Sedang berimajinasi hehehe (foto by; Ardi)
Sesekali saya melihat pria berjanggut tebal yang sedang batuk dan gemetar karena kelaparan . Pria itu tak berhenti menulis. Saya mengenalnya dan dunia mengenalnya sebagai Karl Marx.Tak jauh darinya ada  lelaki berkumis yang angkuh sedang menatap tajam setiap orang, sosoknya memang nampak menyebalkan dialah sang Nabi zarathustra, Nietzsche tokoh eksistensialis sejati. 

Lalu seorang lelaki anggun yang saya kagumi itupun muncul dan  berdiri dihadapan saya, kemudian Ia berbisik ; ' tugasmu bukan hanya merapalkan pemikiran mereka ataupun saya, tugasmu adalah tugas kemanusiaan membela mereka yang merasakan ketidakadilan dan menjadi bagian dari mereka yang merasa terpanggil untuk memperbaiki masyarakatnya, menangkap aspirasi mereka, merumuskannya dalam bahasa yang dapat difahami setiap orang'. Singkatnya tangung jawabmu adalah tanggung jawab kaum intelektual, bisik lelaki yang kukenal sebagai Ali Syariati.

sungguh perjalanan  berburu buku di palasari adalah perjalanan menikmati surga kecil pengetahuan di kota bandung!



 




Posting Komentar

0 Komentar