Jokowi dan Kemarahan Rakyat

-->

Seperti banyak diduga oleh berbagai kalangan, sesuai dengan hasil quick count sementara Jokowi memang masih unggul diatas foke-Nara  yakni Jokowi-Ahok 54,11 % dan Foke-Nara 45,89%. Padahal dari segi komposisi perolehan suara berdasarkan dukungan parpol foke memperoleh representasi dukungan suara lebih besar dibandingan pasangan Jokowi-Ahok.

Untuk melihat fenomena yang terjadi atas dukungan pemilih pada jokowi dan pemberontakan publik atas repesentasi koalisi suara parpol tersebut, saya ingin menjelaskan beberapa hal menyangkut penelitian yang baru-baru ini saya lakukan bersama Idec menyangkut ‘Presepsi publik dalam menyoroti kualitas kandidat Gubernur dan Walikota serta Bupati di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan’.

Penelitian ini sendiri mengunakan metode Probability Sampling dengan teknik
penarikan sampel Multistage Sampling (Penarikan Sampel Bertahap) dengan basis data pada sebaran di tingkatan kelurahan . Adapun objek yang kami teliti secara spesifik yakni untuk  profil kandidat Gubernur sulsel, Kab.Takalar, Kota Makassar dan Jeneponto.

Sedangkan di Sulawesi Tengah yakni kota palu, kab. Parigi Moutong, Kab. Donggala  dan Morowali. Daerah-daerah yang kami survei memang dalam  waktu tidak lama lagi akan melaksanakan pilkada minus kota palu yang baru akan melaksanakan pilkada 2015.

Pandangan Negatif atas Koalisi Parpol dan Politisi

Hampir diseluruh daerah yang kami teliti komposisi ketidak percayaan publik atas partai politik berkisar di antara 60%, mayoritas pemilih tidak percaya lagi pada partai politik sebagai saluran aspirasi publik hanya sekitar 10 % yang masih percaya bahwa parpol sebagai sarana saluran politik yang efektif.

Selebihnya mengapa publik masih memilih di setiap pilkada, pileg dan pilpres lebih karena alasan hubungan emosional seperti suku, kampung atau karena pernah bertemu langsung dan diberikan hadiah, membaca di media  atau menonton TV. Dalam skala yang lebih kecil beberapa responden menjawab karena keluarganya merupakan team sukses dan dibayar.

Bahkan data yang lebih ekstrim lagi dibeberapa daerah, 47% masyarakat menyampaikan secara langsung bahwa mereka tidak percaya lagi pada mekanisme proses politik baik pilkada, pilpres atau pileg. Karena peran pemerintah ataupun mereka yang menjadi pengambil kebijakan di berbagai skala baik dari anggota legislative, bupati/walikota dan Gubernur tidak begitu berpengaruh secara langsung pada kehidupan warga.

Melihat fenomena ini, walau tidak bisa di overgeneralisir bahwa benar adanya koalisi parpol yang digunakan oleh Foke-Nara tidak mampu membendung koalisi rakyat yang dilakukan oleh jokowi. Bahwa persoalanya bukan terletak pada kepercayaan publik yang besar kepada Jokowi-Ahok ataupun PDIP dan Gerindra tapi soalnya terletak pada perasaan sentimental rakyat atas prilaku parpol dan elit politik selama ini. Dimana Jokowi dianggap sebagai ikon bagi perubahan dan tidak merepresntasikan kepentingan partai politik.

Kehadiran Jokowi –Ahok yang tak membangun brending parpol pengusung bahkan lebih menonjolkan baju kotak-kotak, koalisi suku mayoritas jawa dan intensitas pertemuan langsung dengan pemilih merupakan kata kunci dukungan bagi jokowi-ahok walau dengan catatan angka golput yang cukup besar.

Profil Kandidat dan kualitas kepemimpinan

Kemarahan rakyat atas politisi dan parpol juga semakin ditunjukan dengan presepsi buruk publik atas latar belakang calon yang tampil dalam banyak pilkada. Profil kandidat dengan latar belakang politisi dalam kacamata pemilih mendapatkan penilaian yang buruk yakni 55,09 % publik tidak percaya mereka yang berlatar belakang politisi murni dapat menjalankan kepemimpinan mereka secara amanah. 

Kecenderungan untuk mendukung mereka yang berlatar belakang pengusaha semakin menemukan kristalisasinya secara faktual. Untuk konteks Sulawesi tengah ataupun Sulawesi Selatan representasi JK diangap lebih mampu menjadi solusi ketimbang sosok politisi lainya.

Mayoritas responden berpandangan bahwa politisi cenderung merepresentasikan karakter ambivalen yakni senang berbohong, berdebat dan memperkaya diri. Latar belakang inilah yang membuat skeptisme pemilih atas Foke-Nara walau kita ketahui bersama Foke berlatar belakang birokrat tapi label sebagai representasi dari artikulasi kepentingan parpol besar lebih dominan ketimbang latar belakang dirinya.

Cara kemasan yang terlepas dari parpol dan lebih mengedepankan figur koalisi rakyat daripada koalisi parpol adalah langkah yang cukup efektif yang dilakukan oleh Jokowi-Ahok. Dengan membangun sentimental Gajah VS Semut telah membangkitkan emosi publik yang lebih besar dan hasil akhirnya suara Jokowi-Ahok menjadi lebih besar dibandingkan Foke-Nara yang lebih menekankan atas berbagai keberhasilan program atau serangan issue SARA. 

Inilah Hukum universal dimana publik akan berpihak kepada sosok yang tertekan mampu dikemas dengan manis oleh pasangan penantang ketimbang kandidat petahana. Pada akhirnya kita berharap semoga kemenangan jokowi dan hukuman bagi koalisi parpol dan politisi gajah bisa menjadi bahan pembelajaran bagi para calon-calon pemimpin negeri ini bahwa rakyat sedang marah !

Posting Komentar

0 Komentar