Menyusuri Jejak Sultan Hasanuddin di Kerajaan Banten

Pagi baru saja tiba, rasa kantuk belum juga selesai, tapi waktu untuk bangun mesti lebih cepat. Ini hari senin (24 september 2012) waktu dimana saya dan kang ardi bersepakat untuk melakukan traveling spritual ke serang, banten. Sudah lama rasanya saya tidak bepergian ke sebuah tempat dengan tujuan benar-benar traveling alias benar-benar jalan-jalan. 

Padahal tugas perkuliahan sedang gila-gilanya, tapi daripada saya benar-benar steress memikirkan tugas perkuliahan dan berbagai bahan standar disertasi, sayapun memutuskan untuk melaksanakan trip ini.  Sekedar melepaskan penat dari otak yang terus dipaksa untuk bekerja secara maksimal. Apalagi jika dihitung-hitung jarak antara bandung dan banten bisa ditempuh dalam waktu tiga jam setengah, sebuah masa yang masih dalam batas toleransi untuk berkenderaan. 

Dari jam 7 pagi si kang ardi sudah sibuk membangunkan dengan pakaian ala traveler, sahabat sejak kuliahku ini sudah siap dengan segelas kopi. 'jadi ngak broo?' tanya si akang untuk memastikan. Saya membaca rasa kecemasan diwajah kawanku itu, takutnya dengan kostum lengkap dan pengorbanan mandi pagi di kota bandung yang super dingin akan berakhir sia-sia.
 
'Jadi,  kasih waktu 10 menit saya berkemas', jawabku singkat sembari merebut gelas kopi dari tangannya. Pukul 8 pagi kami sudah memulai perjalanan yang titik awalnya  di terminal leuwipanjang bandung, terminal bus yang melayani rute Jabodetabek, Merak, Serang, Indramayu, Sukabumi, dan Cianjur. 
Terminal leuwipanjang

Cukup dua puluh menit saja,  diantara puluhan bus yang saling berebut penumpang saya dan si akang sudah duduk manis didalam bus yang lumayan nyaman. Selain ber AC, kursi yang bisa di atur sambil tiduran, bus ini juga dilengkapi wc dan semoking room. Ini dia bus yang baik dan memiliki rasa kemanusiaan bagi para semokers tanpa mengangu yang lain, bisik saya dalam hati. Harganyapun terbilang cukup murah Rp.60.000 (enam puluh ribu rupiah). 

Selama beberapa menit didalam terminal silih berganti pedagang kaki lima naik turun didalam bus, mulai dari yang jualan makanan, minuman, tasbih sampai buku-buku bajakan. Bahkan beberapa pedagang dengan nekatnya meleparkan daganganya ke kursi kami. Sebuah trik yang baik, pikir saya karena memberikan kesempatan bagi costumer meneliti sebelum membeli hehe...

Pengamenpun datang silih berganti bahkan ketika bus sudah keluar dari area terminal. Nanti setelah dirasa cukup jauh, barulah para pengamen ini dengan nekatnya  berlari dan melopat keluar bus. Rasanya seperti spidermen saja, ketika menyaksikan adegan kenekatan para pengamen ini, apalagi ketika melopat kaki mereka menginjak tanah dengan sempurna. Hemm, sudah terlatih rupanya....
salah satu pengamen

Selama perjalanan bandung-jakarta rasa kantuk benar-benar datang dan sayapun tertidur dengan pulasnya. Baru setelah melewati daerah jakarta barat dan memasuki tapal batas Jakarta dan banten saya terbangun. Demikian pula si akang, seperti kami benar-benar kurang tidur. Untuk menormalkan otak akhirnya saya memilih untuk ke belakang cuci muka dan menikmati kerinduan akan batang-batang rokok di area semoking room sambil menikmati pemandangan kota banten yang terik dan kering.

Tiba di Serang
Akhirnya setelah melalui perjalanan yang molor sampai 4 jam setengah, molor satu jam dari rencana perjalanan saya dan si akang tiba di terminal pakupatan. Seperti terminal-terminal lainya di indonesia yang dipenuhi oleh pedagang kaki lima, calo dan pengamen pemandangan terminal pakupatan tak jauh berbeda.

Perut yang dari tadi demonstrasi kini tidak lagi memberi ampun. Panas matahari, debu dan rasa lapar menjadi satu lengkaplah sudah. Maka tak ada pilihan lain, warung makan di sekitar terminalpun menjadi pilihan. Tak ada restoran tenda birupun tak mengapa. Tahu, tempe dan ikan lela rasa campur-campur ala terminal pakupatan menjadi satu. Sementara itu jam sudah menunjukan pukul setengah dua siang.

Setelah bertanya kepada beberapa tukang ojek yang mangkal didekat terminal dan beberapa pedagang asongan kami akhirnya mendapatkan petunjuk bagaimana caranya bisa sampai di mesjid agung banten. Ternyata lokasi mesjid agung banten terletak di lokasi banten lama yang menjadi tempat bagi cagar wisata sejarah. Untuk bisa sampai kesana, kami mesti dua kali berganti angkot. Pertama jalur seram ujung, lalu menyangbung lagi dengan angkot yang khusus menuju banten lama. Jarak dari terminal untuk menuju banten lama sendiri sekitar 30 menit. 

Ini kawasan Wisata Religius atau Terminal?
Pukul tiga lewat lima belas menit akhirnya angkot kedua yang kami naiki berhenti disebuah terminal yang lumayan ramai oleh para pedagang. Sayapun bertanya kepada sang sopir angkot untuk memastikan, saya mau ke mesjid agung banten kok ke terminal? sang sopir hanya tersenyum mungkin tau bahwa saya baru pertama kali ke sini. Disana pak, jalan ke mesjid agungnya. Oh yah saya baru membaca  tertera sebuah papan kecil dengan keterangan khusus parkir para penziarah banten lama.

Pintu Masuk Menuju Mesjid Agung Banten
Aroma dupa, sampah dan aneka bunga yang sering dibawa untuk berziarah menjadi satu. Petunjuk jalan yang ditulis dengan spidol juga dipasang di antara para pedagang kompleks wisata ini religius ini. Kami cukup mengitu arah yang ada, sambil berkeliling melihat aneka dagangan yang dijual mulai  dari kemenyan, bunga tujuh rupa, tasbih, foto-foto tokoh spritual sampai buah dan aneka jajanan bercampur menjadi satu. Setelah lima menit berkeliling tibalah kami di pintu gerbang mesjid banten.

Ibarat baru keluar dari labirin para pedagang yang seolah memang sengaja menutupi lokasi mesjid agar kami bisa melewati dagangan mereka, saya terpekur didepan mata saya berdiri sebuah mesjid yang anggun dengan menara putih yang tegak berdiri. Berdua dengan sahabat saya mulai masuk ke dalam mesjid, begitu banyak penziarah rupanya. Didepan mesjid tersedia kolam untuk mengambil air wudhu namun sayang tidak semua kolam terisi. Hanya dua atau tiga kolam yang berfungsi hanya disisi kanan mesjid yang memang sudah dilengkapi beberapa kran yang berfungsi sebagai tempat wudhu jamaah

Mesjid Agung Banten
Setelah wudhu sayapun masuk kedalam mesjid untuk solat. Didalam mesjid hamparan karpet merah dan sebuah mimbar kayu dan aneka lampu bersimbol kerajaan banten lama masih bisa dijumpai. Tapi yang istimewa dari dalam mesjid agung banten lama ini adalah atap bangunan utama yang bertumpuk lima, mirip Pagoda Cina. Susunan atapnya juga terdiri dari rangkain kayu yang kokoh tanpa ada tanda-tanda kelapukan.

Setelah melaksanakan solat sayapun mulai berkeliling disekitar mesjid dan mulai mencari informasi seputar mesjid ini. Akhirnya saya bertemu dengan seorang penjaga mesjid yang bernama Abdul Basyid seorang Muzammir ( penuntun para penziarah) dari abdul basyid saya menemukan sejumlah keterangan :

Abdul Basyid
 Masjid ini dibangun pertama kali oleh Sultan maulana Hasanuddin (1552-1570), sultan pertama dari Kesultanan Banten. Ia adalah putra pertama dari  Sunan Gung Jati. Bangunan mesjid ini merupakan pencapuran dari tradisi cina, banten dan belanda. Atap lima tumpuk itu mempunyai makna 5 Rukun Islam. Sedangkan Pintu masuk Masjid di sisi depan berjumlah enam yang berarti Rukun Iman.

Sayapun tertarik untuk bertanya soal menara yang ada, Abdul Basyid Kemudian menjelaskan;
Menara  putih tersebut dulunya selain tempat untuk mengumandangkan adzan juga untuk mengawasi perairan laut. Dibangun masa Sultan Haji tahun 1620 oleh seorang arsitek Belanda bernama Hendrik Lucaszoon Cardeel. Pada waktu itu, Cardeel membelot kepada pihak Kesultanan Banten, kemudian dianugerahi gelar Pangeran Wiraguna.

Ziarah ke Makam Maulana Hasanuddin

Karena penasaran oleh suara solawatan yang terus bergemuruh pada bagian sisi sebelah kiri mesjid yang tertutup oleh dua pintu tersebut, sayapun bertanya kepada abdul basyid menyangkut tempat yang ramai oleh jamaah yang sedang nampak khusyuk berwudhu tersebut. Oleh Muzzamir tersebut kami dipersilahkan untuk langsung melihat dari dekat.

salah seorang Penziarah
Dua pintu yang tertutup tersebut terbuka, ratusan orang sedang larut dalam lantunan puja-puji atas nabi. Sebelum masuk kami dipersilahkan untuk mengisi kotak amal yang katanya diperuntukan bagi perawatan mesjid, tak ada harga se-ikhlasnya kata sang penjaga kotak amal. Rupanya tempat yang kami kunjungi tersebut adalah makam terdapat makam beberapa sultan Banten dan keluarganya, seperti makam Maulana Hasanuddin dan isterinya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Abu Nashr Abdul Qahhar. Sedangkan di dalam tepat di serambi kanan selatan terdapat pula makam-makam Sultan Maulana Muhammad, Sultan Zainul 'Abidin, dan kerabat kesultanan lainnya.

Jamaah yang datang berdoa pada umumnya ingin berziarah dan mengharapkan berkah dari para sultan. Saya sempat bertanya kepada seorang jamaah yang baru saja selesai mengikuti majelis zikir dan soalawatan. Namanya Istianti, seorang nenek berusia 60 tahun yang berasal dari cirebon. 'isun mau minta berkah kanjeng sultan', kata nenek tersebut berbisik.

Rupanya para penziarah yang datang memang bukan hanya datang dari jawa barat namun jawa tengah ataupun berbagai daerah lain dibelahan nusantara. Seperti Istianti, pada umumnya para penziarah datang dari berbagai daerah di indonesia karena mereka percaya akan tuah dari Sultan Hasanuddin.

Bersambung...
Selanjutnya ;

Berkunjung ke Museum Purbakala ; Menyaksikan jejak kejayaan kerajaan banten
Menemukan Jejak Kampung Bugis di Banten
Hasanuddin Banten Vs Hasanuddin Gowa
Membaca Peta Dunia 

Pulang..



Posting Komentar

0 Komentar