Wisata Kota Hantu...

Jumat 7 september 2012; Selepas solat jumat saya bertolak menuju Sultan Hasanuddin Airport bersama seorang kawan. Dua kawan lainya telah menanti di bandara kebangaan Rakyat Sulsel tersebut, perjalanan kali ini akan sangat melelahkan karena kami akan bertolak menuju Kab. Parigi Mautong yang jaraknya  kurang lebih 65 km atau sekitar 2 jam dari kota palu. Jarak penerbangan makassar-palu sendiri terbilang singkat yakni 50 menit.

Sumber Foto : http://bukananakraja.wordpress.com
Tiket pesawat diwaktu 'week end' seperti saat ini tentu saja sedang 'gila-gilanya'. Tapi karena tugas penelitian kali ini sangat penting so must go saja apalagi kami menumpangi maskapai Garuda Indonesia yang lebih nyaman dibandingkan maskapai lainya. Hitung-hitung, jalan-jalan sambil penelitian. 

Pukul 14.30 saat baru menikmati dua batang rokok di launch airport kami sudah harus bergegas dan sesi perjalanan ini di mulai. lima puluh menit terbang bersama Garuda memang tak terasa, ditemani aneka jus dan coklat sambil menonton beberapa film pendek. Baru beberapa saat menikmati perjalanan bersama perusahaan pesawat nasional tersebut, paramugari memberikan informasi bahwa kami telah bersiap untuk leanding.

Seperti biasa, setiap tiba dibandara 'mutiara'palu saya selalu hanya bisa tertegun bagai langit dan bumi, jika dibandara Hasanuddin penuh fasilitas dan standar bandara internasional maka dibandara mutiara palu lebih nampak seperti bandara rintisan padahal volume penerbangan dari sini lebih dari 5 (lima) kali dalam sehari. Tapi syukurlah pemkot kota palu bersama pihak angkasa pura telah membangun bandara baru yang Insya Allah akan rampung di tahun 2013 nanti.

ilustrasi foto bandara baru mutiara
 

Setelah menanti sekitar 25 menit menunggu bagasi di bandara mutiara,  supir rental mobil yang kami pesan  telah mengkonfirmasi sudah berada di bandara, tarif rental mobil di kota palu sendiri yakni Rp.350.000 per-hari (plus biaya untuk supir). Tak mau berlama-lama di kota palu karena tujuan kali ini adalah Kab.Parigi Mautong kami segera bergegas membeli bekal di salah satu supermarket terkenal di kota palu. Setelah berbagai kebutuhan pribadi lengkap, saatnya berangkat.

sumber foto : metro TV news
Pukul 17.00 atau jam 5 (lima) sore kami mulai menyusuri jalan trans sulawesi  palu-  parigi. Poros Palu Parigi, khususnya ruas jalan Tawaeli-Toboli sekitar 45 kilometer, merupakan jalur penghubung trans Sulawesi. Seluruh kendaraan baik dari Manado maupun Gorontalo di bagian utara Sulawesi maupun dari Makassar dan Kendari serta berbagai kabupaten di Sulawesi Tengah di selatan Sulawesi harus melintasi jalan poros ini bila ingin masuk Kota Palu. Beberapa ruas jalan palu-parigi memang sedang rusak parah karena baru beberapa pekan lalu tertimpa bencana longsor dan gempa bumi yang terjadi.

Sepanjang jalan diantara kelokan tajam berbagai bus antar propinsi saling bertemu, apalagi di beberapa ruas jalan sedang dilaksanakan pengecoran akibat longsoran gunung,  dibeberapa jembatan-jembatan kecil masih tersisa patahan-patahan kayu besar yang membuat seorang kawan berujar; 'Kalau seperti ini berarti hutan diatas sedang gundul'. Aku hanya diam saja, sembari sibuk berpikir ternyata di belahan gunung juga bisa terjadi kemacetan.

Hutan Lindung dan Wisata Kota Hantu...  

Salah satu bagian penting perjalanan menuju kota parigi adalah  lokasi hutan lindung yang sering disebut daerah kebun kopi. Jalan arteri utama menghubungkan wilayah barat dan timur Provinsi Sulteng tersebut  memiliki sekitar 300 tikungan terjal, menanjak hingga  ketinggian 1.200 meter dari permukaan laut. 

Pepohonan besar beragam jenis dan tikungan terjal menghiasi perjalanan kami berlima, bagi mereka yang tidak terbiasa dengan jalan seperti ini tentu saja cukup mengocok perut. Selain kebun kopi perjalanan palu-parigi juga menyimpan satu mitos yakni kota 'Wentira'. Menurut berbagai mitos kawasan Wentira atau Uwentira  merupakan  pintu gerbang untuk masuk ke Kerajaan mistis.

Sumber Foto :http://latimojong.wordpress.com/2011/02/01
Kerena berbagai hal mistis inilah  setiap mobil yang melintas harus membunyikan klakson tiga kali sembari melemparkan rokok. Pada bibir jalan wentira juga dibangun penanda berupa tugu kuning yang menjulang ke atas dengan tulisan NGAPA UWENTIRA. Ngapa dalam bahasa Kaili berarti Kampung, Negeri atau Kota. Dalam kepercayaan masyarakat kaili (suku terbesar di kota palu) Uwentira berarti tidak kasat mata. Jadi NGAPA UWENTIA berarti Kota UWENTIRA yang tidak kasat mata. 

Penanda lainya di kawasan wentira terdapat sebuah rumah kecil sebagai simbol kota wentira yang dipercaya sebagai sebuah perlambang istana kerjaaan wentira. Berbagai kisah dan penuturan menyangkut kota wentira memang beragam ada yang mengisahkan bahwa dikota mistis tersebut terdapat sebuah kehidupan yang lebih moderen dibandingkan kehidupan dunia nyata yang terlihat.

Ada pula yang mengisahkan bahwa wentira merupakan sebuah kota jin dan tempat bersemayamnya alam lain yang corak kotanya  dipenuhi oleh para jin sakti yang hidup layaknya kehidupan manusia, cerita lainya  yang  juga sering beredar  wentira adalah sebuah kampung para leluhur dimana para leluhur yang telah mati bermukim disana.

Entah benar atau tidak bagi saya wentira hanyalah sebuah jembatan yang memiliki mitos dan setiap mitos-mitos yang ada mungkin saja sedang menyimpan sebuah rahasia yang seperti namanya Ngapa Uwentira (kampung yang kasat mata)

Memancing di Teluk Tomini

Hari pertama dan kedua di kota parigi saya dan team habiskan untuk turun melakukan penelitian termasuk mengecek team lapangan yang bekerja. Pada hari ketiga, saatnya rehat untuk menikmati teluk tomini.  Teluk tomini sendiri  merupakan salah satu teluk terbesar di Indonesia. Teluk ini berbatasan dengan tiga wilayah provinsi di Pulau Sulawesi, yaitu Propinsi Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara dan Gorontalo dengan  luas perairan kira-kira 59.500 Km2.


http://nhamona.wordpress.com/tentang-gorontalo/
Teluk indah ini  dilewati garis khatulistiwa  yang berada pada posisi yang strategis sebagai jantung segitiga terumbu karang dunia (heart of coral triangle). Dari hotel grand mitra lebo serasa menikmati panorama kolam raksasa sensasi luar biasa saya rasakan, menikmati para nelayan yang sedang melaut dan melempar jala, di bibir pantai pasir putih yang mempesona terhampar luas. Birunya lautan yang masih jernih membuat mata saya leluasa menyaksikan aneka jenis ikan yang hilir mudik.

Karena tidak tahan akhirnya saya dengan beberapa kawan memutuskan untuk membeli tali senar pancing dan kail yang dililit di botol air mineral. Sebagai umpan kami membeli sepotong cumi-cumi. Tak butuh beberapa lama kail saya ditarik oleh sekor ikan jenis sekor kuning dengan mata berbinar saya benar-benar bahagia menyambut hasil pancingan saya ada sensasi yang tak terkira dari pencapaian saya yang sudah lima tahun tak pernah lagi memancing, demikian pula saat umpan kedua dan ketiga saya di tarik oleh ikan kerapu seukuran tangan sekepal saya benar-benar tertawa lepas bagai lautan lepas teluk tomini dihadapan saya. 

Posting Komentar

0 Komentar