'Happy Birthday Honey'

Sayang, lagi-lagi maaf bagimu. Sama seperti tahun yang sudah-sudah. Maaf adalah mantra tahunan yang selalu aku ulangi setiap tanggal 15 di bulan oktober tiba. Maaf karena tak ada kue tart, lilin yang bertuliskan angka usiamu, apalagi senandung lagu perayaan, selamat ulang tahun...
 
 
 
Sayang, bukankah kau sudah terbiasa tanpa tart atau rainbow cake? Karena setiap hari adalah perayaan, perayaan atas lewatnya pelajaran-pelajaran baru ‘dari Universitas kehidupan’ ! Perayaan dari hidup yang kita nikmati dari usia yang terus berkurang.

Sayang, kini usiamu 27 tahun hanya berjarak satu tahun dari diriku. Kita memang sama-sama masih muda, masih penuh amarah dan angkara tapi ‘berdamai adalah pilihan yang selalu kita lakukan’. Berdamai dengan ego masing-masing, berdamai tentang segala keluh yang tak bisa ditolak, atau bahkan berdamai dengan jalan hidup yang tak biasa!

Sayang, bukankah kita selalu yakin takdir kehidupan kita telah disusun sejak permulaan ? oleh karena itu kita selalu berusaha saling menggenapi. Karena pertemuan,jodoh, dan perpisahan adalah kitab yang telah lama di tulis? Lantas mengapa mesti ada kata sedih? Itu potongan diskusi telepon kita tadi malam yang kau tutup dengan manis; ‘kita tak akan pernah tau lembar kehidupan kita akan berhenti diangka berapa’.

Sayang, benar katamu ‘kita tak pernah tau lembar kehidupan kita akan berhenti diangka berapa’. Kadang aku merenung, bagaimana nasib kehidupan keluarga kecil kita? bagaimana masa depan kita? Dimana kita akan memilih untuk tinggal? Sampai kapan kita mesti selalu berjarak? Apa yang akan kita lakukan di masa tua? Tapi itu hanya sejenak, karena kita tak pernah tau lembaran buku kehidupan akan berhenti diangka berapa?

Sayang, dahulu kita selalu menandai oktober adalah bulan untuk kita berdua. Karena jarak kelahiran kita terpaut dekat di bulan ini. Tapi kini, kita menambahnya dengan dua bulan lain, agustus dan desember. Dua bulan yang melengkapi hidup, kita ketika ikrar suci pernikahan di agustus yang merdeka, serta Desember hari kelahiran putra terkasih. Itulah bulan yang menjadi penanda-penanda penting dari perjalanan lembar demi lembar kehidupan.

Sayang, terima kasih atas segalanya, atas maaf yang selalu ada untuk diriku..

Posting Komentar

0 Komentar