Hasanuddin Banten Vs Hasanuddin Gowa Seri Jejak Hasanuddin 2

Magrib sudah hampir tiba, sementara masih banyak petualangan yang mesti dilanjutkan. Maka saya dan si Akang akhirnya memutuskan untuk tetap tinggal sampai besok pagi di serang sembari mencoba menelusuri ziarah spritual kesultanan banten. Akhirnya kami memilih mencari penginapan yang murah ala kami,  berkat seorang supir angkot yang baik hati yang akhirnya kami rekrut menjadi gate murah meriah maka perjalanan inipun berlanjut.

Museum Purbakala Banten

Hasanuddin Banten Vs Hasanuddin Gowa

Setelah melakukan ziarah di makam Maulana Hasanuddin, satu pertanyaan yang terus tersisa dikepala saya. Mengapa oleh beberapa orang yang saya temui berkeyakinan bahwa Maulana Hasanuddin merupakan orang yang sama dengan sultan Hasanuddin gowa? Untuk mencari jawaban tersebut setelah sarapan pagi dan berkemas, bersama 'rudi' sopir angkot plus gate tour  perjalanan kami lanjutkan. 

Titik awalnya tentu saja museum purbakala banten, saya percaya museum merupakan jendela untuk melihat masa lalu. Setelah 20 menit menempuh jarak dari penginapan di seram menuju banten lama akhirnya kami sampai di museum purbakala banten yang ternyata berada tidak jauh dari mesjid agung banten dan situs kerajaan banten. 

Pintu Gerbang Surosowan
Setelah membayar karcis Rp.1000 (seribu rupiah) mulailah saya melakukan pencarian akan perjalanan kesultanan banten dan hubunganya dengan Sultan Hasanuddin. Dari berbagai jejak catatan sejarah yang tersimpan akhirnya saya menemukan sebuah buku yang berjudul 'riwayat kerajaan banten' yang disusun oleh Tb. Hafidz Rafiudin. Buku ini menjelaskan bahwa Maulana Hasanudin dilahirkan di cerebon pada tahun 1479 dan wafat 1570. Beliau merupakan anak dari Syarif Hidayatullah dengan nyi ratu kawung nganten. Ayah Maulana Hasanuddin yakni Syarif Hidayatullah merupakan keturunan Sunan Cirebon. 

Sisa Bangunan Keraton Surosowan
Sunan Cirebon ayah Hasanuddin mengirimkan pangeranya Hasanuddin ke banten untuk menjadi penyebar islam dan mendirikan  kerajaan islam banten pada paruh tahun 1544. Ketika itu Hasanuddin muda banyak mendapatkan bantuan dari para tabib-tabib banten yang terdiri atas orang-orang persi (iran). Dari kisah tersebut baik dari segi waktu dan tempat kejadian tentu saja kisah Hasanudin Banten dan Hasanuddin Gowa adalah dua hal yang sangat berbeda. Sultan Hasanuddin Gowa sendiri dari berbagai catatan sejarah lahir di tahun 1631  merupakan putera kedua dari Sultan Malikkusaid, Raja Gowa ke-15.

Surosowan nampak depan
Lantas mengapa Hasanuddin Banten sering diasosiasikan sama dengan Hasanuddin Gowa? Ternyata setelah melakukan penelusuran saya menemukan disekitar keraton banten terdapat sebuah 'kampung bugis' yang mendiami daerah pesisir. Rata-rata mereka adalah komunitas nelayan yang datang sebagai pedagang dan akhirnya hidup menjadi satu kesatuan dengan masyarakat banten lama yang mendiami wilayah keraton.

Nelayan Kampung Bugis
Kecurigaan saya proses akulturasi yang panjang antara dua komunitas inilah yang menjadi sumber dari berbagai kisah dan mitologi masyarakat untuk menyamakan kisah Hasanuddin Banten dan Hasanuddin Gowa. Kedua kisah Hasanuddin banten dalam membawa syiar Islam juga diwarnai 'adu kekuatan pertempuaran ayam jago' melawan Prabu Pucukkumun penguasa banten dimana Hasanuddin berhasil memenangkan pertarungan melawan ayam jago Pucukkumun dan akhirnya menjadikanya islam beserta para pengikutnya.

Kapan Dg.Udin orang Makassar Pasti
Kedua potongan inilah yang membangun kecurigaan saya mengapa masyarakat banten percaya bahwa sultan Hasanuddin Gowa dan maulana Hasanuddin menjadi sebuah kisah yang sama.

Kejayaan Kesultanan Banten

Jejak kejayaan kesultanan banten merupakan jejak kesultanan dengan tradisi kerajaan maritim.  Saya menemukan berbagai peningalan kesultanan banten yang kemudian dikenal dengan istilah Surosowan (banten lama) yang pernah menemukan masa kejayaanya sebagai salah satu pusat perdagangan penting di Asia.

Kerajaan Banten sendiri pernah menjadi perebutan dari beberapa peradaban besar diantaranya persia, eropa, arab dan melayu dan cina. Hal tesebut dibuktikan  dengan  catatan-catatan cornelis de houtman yang masih tersimpan di museum purbakala banten. Dalam banyak catatan sejarah kerajaan banten pernah menjadi pusat bagi monopoli perdagangan lada dari lampung. Letak banten yang sterartegis karena merupakan bagian dari jalur laut laut perdagangan Internasional apalagi setelah selat malaka jatuh di tangan portugis banten mengambil alih menjadi pusat bandar laut internasional antara bangsa eropa menuju Asia.
 
Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa yang merupakan keturunan dari Maulana Hasanuddin. Dibawah kekuasaan Ageng Tirtayasa kekuatan ekonomi dan militer kerjaaan banten menjadi begitu berkembang yang membuat eropa begitu memperhitungkan kekuatan kerajaan banten di Nusantara.
Pulang

Pulang
Sebenarnya masih banyak hal yang ingin saya telusuri dari ziarah spritual dan sejarah kerajaan banten namun karena sebuah sms dari kampus dimana saya mesti mempersiapkan sejumlah tugas dan bahan presentasi maka akhirnya siang itu saya putuskan untuk pulang. Tentu saja dengan kenangan dan cita-cita suatu saat akan kembali lagi menuju banten dan memulai pencatatan yang lebih serius tentang banten dan ziarah spritual yang hidup di salah satu kerajaan penting di era masa lalu.

Posting Komentar

0 Komentar