Lukisan Tuhan di Tanjung Karang’

Ketika anda bertanya ke warga kota palu, dimana anda bisa berwisata alam ? pasti jawaban yang pertama keluar adalah Tanjung karang. Mengapa ? Karena memang tanjung karang merupakan salah satu tempat wisata alam favorit di Sulawesi Tengah. Lokasi pantai ini terletak di kab. Donggala yang jaraknya sekitar 40 KM dari kota palu.
Untuk sampai di Tanjung Karang dengan berkendara cukup 45 menit. Itupun selama dalam perjalanan, sebenarnya anda sedang melakukan traveling plus. Pasalnya  mata anda akan dimanjakan dengan  melihat pesisir teluk palu, deretan pegunungan , aktivitas kapal muat bahan galian seperti pasir dan krikil, kapal penangkap ikan, wisata kota tua donggala dan beragam pemandangan lainya yang mempesona.
Perjalanan menuju Tanjung Karang
Begitu tiba di pantai tanjung karang hamparan pasir putih nan elok dapat langsung dijumpai. Birunya lautan yang beririsan dengan teluk menjorok ke pantai dan aktivitas nelayan yang hilir mudik, membuat saya berpikir, andaikan saya seorang pelukis tentu akan sangat indah melukis kembali ‘lukisan Tuhan di Tanjung Karang’.
Pantai ini bukan hanya  menyajikan pesona diatas laut namun juga menyimpan pesona alam bawah lautnya. Sesuai dengan namanya, ‘Tanjung Karang’ pantai ini memang merupakan aquarium raksasa bagi terumbu karang seperti seafan, sponge, soft, coral dan grape coral yang masih perawan.  
salah satu Traveler Tanjung Karang

Tidak seperti berbagai mitos para penyelam yang berangapan bahwa pantai berpasir putih halus dan landai bukan lokasi diving yang terbaik. Hal tersebut tidak terjadi di pantai Tanjung Karang. House reef (rumah karang) sepanjang lebih dari 500 m memilki terumbu karang yang relatif baik dan dihuni oleh berbagai jenis ikan serta makhluk bawah laut menarik lainnya. 
Saya pernah beberapa kali melakukan snorkeling di tanjung karang dengan kondisi air yang jernih dan relative terawat,  menyelam di tanjung karang adalah pilihan yang menarik. Apalagi berjumpa dengan aneka jenis ikan-ikan yang warna-warni, seperti clown fish, kakap, tuna ekor kuning (yellow fin tuna), baronang, kerapu dan biota laut yang bisa kita jumpai di tanjung karang.
Bahkan kata seorang kawan saya, Bari yang tinggal disekitar pantai tanjung karang, ‘kalau beruntung kita bisa melihat lumba-lumba’. Memang dari cerita beberapa orang katanya di tanjung karang pada waktu tertentu lumba-lumba sering muncul dan pasti akan disambut heboh oleh wisatawan yang datang.
Untuk Fasilitas pendukung di sepanjang objek lokasi pantai cukup lengkap, utamanya untuk para pencinta diving dan snorkeling. Kalaupun anda tidak membawa peralatan Diving anda tinggal menyewa Rp. 10.000 kepada penduduk setempat disekitar pantai. Sedangkan untuk snorkeling di sekitar tanjung karang tersedia  scuba diving milik Pieter  seorang warga negara Jerman. Piter juga juga mengelola sebuah Cottage yang diberinya nama Prince John Dive Resort. 
Untuk harga sewa Scuba diving milik piter berkisar diantara Rp.300.000- Rp.400.000 memang piter menerapkan kurs dolar untuk penyewaanya, maklum pasar yang dibidiknya rata-rata memang bule, karena pengunjung cottege peter adalah wisatawan mancanegara seperti  jerman, Australia dan beberapa negara eropa lainya. 

Salah satu Taxi Tanjung Karang
Dari beberapa kawan yang menjadi guide lokal di tanjung karang, saya juga mendapatkan informasi bahwa bule-bule yang datang pada umumnya akan ramai jika liburan musim panas eropa disekitar bulan juni-agustus. Pada bulan-bulan ini, di tanjung karang biasanya ramai dengan bule berbikini, wow!
Selain cottage piter puluhan cottage lain juga bertebaran disepanjang Tanjung karang. Rata-rata bangunanya adalah rumah pangung kayu, harganya bervariasi mulai dari Rp.100.000-Rp.300.000 dengan fasilitas satu kamar tidur, kamar mandi dan teras yang menghadap ke-laut. Ada juga beberapa cottage yang menyediakan restoran serta meja bilyar, pokoknya tinggal pilih dan menyesuaikan budget yang dimiliki. Jika anda tidak hendak mengambil cottage juga ada alternative lain yaitu menyewa tempat berteduh berupa tenda-tenda kecil untuk sekedar istirahat hanya dengan harga berkisar Rp.40.000 untuk satu hari.
Untuk berkeliling disepanjang pantai tanjung karang bukan hal yang sulit, pasalnya ada banyak pilihan perahu nelayan yang bisa disewa untuk berkeliling dan berputar disekitar teluk. Oleh warga lokal sampan-sampan sewaan ini disebut dengan ‘taxi laut’. Tarifnya bisa berfariasi diantara Rp.100.000- sampai Rp.200.000 itupun kalau ingin lebih murah dan pengunjung sepi, jalan negosiasi dengan pemilik tetap terbuka. Ok kan ?
Sebab Donggala bukan hanya Tanjung Karang
Seperti saya jelaskan diawal tadi saat perjalanan menuju tanjung karang anda bisa menikmati traveling plus, karena memang potensi wisata alam di kota tua donggala bukan hanya tanjung karang. Ada juga pusentasi, boneoge, dan beberapa pantai lainya. Tapi selain wisata pantai anda juga bisa menikmati berbagai bangunan kota antik dan kehidupan warga disekitar pesisir kab. Donggala.
Sebagaimana lazimnya penduduk yang bermukim di pinggir pantai di kepulauan Sulawesi, bangunan rumah panggung kayu masih banyak berdiri disini utamanya didaerah ‘labuan bajo’kebanyakan yang saya jumpai merupakan keturunan nelayan mandar dari Sulawesi selatan yang sudah lama tinggal di kab. Donggala. Wajar saja dahulu kab. Donggala merupakan pelabuhan dan pusat perniagaan penting di Sulawesi tengah.


Pantai Pusentasi pantai di kab. Donggala
Donggala juga menyediakan perjalanan wisata lainya yang menarik hati saya setiap kali berkunjung, seperti menikmati perjalanan perbukitan di ‘gunung bale’ yang menuju kawasan perkantoran pemerintahan yang menyimpan sejarah kisah peningalan kolonial belanda, bioskop Megaria, gedung Pusat Koprasi Kopra Donggala yang merupakan lambang dari kejayaan kopra Sulawesi tengah, tempat pelelangan ikan (TPI) yang selalu membuat saya kagum melihat ikan-ikan hasil tangkapan nelayan yang beraneka ragam bentuk dan jenis, serta berbagai kekayaan alam dan sejarah Donggala lainya.
Setiap kali pulang dari donggala saya selalu teringat kata-kata Soekarno pada perayaan hut proklamasi di tahun 1963 yang pernah saya jadikan paper kuliah dulu; "Kalau bangsa bangsa yang hidup di padang pasir yang kering dan tandus bisa memecahkan persoalan ekonominya kenapa kita tidak? Kenapa tidak? Coba pikirkan ! Benarlah soekarno kita hidup dengan karunia Tuhan yang melukiskan alam yang kaya raya, mengapa kita selalu bicara kemiskinan? Toh kita tidak sedang dijajah? Mungkin sekali lagi kita mesti berteriak, Merdeka!




Posting Komentar

1 Komentar

  1. Keren k'... Lestarikan pusat laut qt di Donggala.
    hhhmmm jd ingat wktu d Cihampelas..

    BalasHapus