‘Mati Muda dalam; Sumpah Pemuda’ (bagian 1)

Tak salah Soe hok Gie pernah mengutip perkataan seorang filsuf Yunani; ‘nasib terbaik adalah tidak dilahirkan yang kedua dilahirkan tapi mati muda dan tersial adalah umur Tua’. Tidak dilahirkan artinya tak ada dosa, tak berbeban sejarah dan tanpa cela. Itu doa Gie yang pada akhirnya memang mengantarkan takdirnya pada pilihan kedua, mati muda di usia 26 tahun. Gie tak sempat merasakan umur tua, umur yang katanya adalah kesialan dalam hidup. 

Soe Hok Gie; memilih mati muda
Mungkin memang benar sejarah negeri ini  adalah sejarah kaum muda, mereka yang meledak-ledak, tergesa-gesa, tidak sabar dan pemarah. 28 oktober 1928 adalah satu buktinya,  ketika Muhamad Yamin seorang pemuda jong sumatranen bond mengirim sebuah kertas kepada Soegondo pada penutupan kongres pemuda ke II, sebuah ikrar yang berbunyi seperti ini ;

Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoewa
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

 
Walau Yamin tidak berakhir mati muda seperti Gie, tapi pencapaian M. Yamin terbesar dalam hidupnya adalah ikrar ini. Ikar yang dituliskanya pada saat  usianya baru 25 tahun. Sebuah pesan sejarah  yang 17 tahun kemudian, membuat Chaerul Saleh pada tanggal 15 agustus 1945, mendesak Soekarno dengan nada yang tak sabar ; Sekarang  Bung, sekarang! malam ini  juga  kita kobarkan revolusi !

Sebuah gagasan yang awalnya ditolak oleh Soekarno, karena bung karno menilai pemuda-pemuda dihadapanya terlalu muda untuk memahami makna merdeka. Pandangan Soekarno itu mendapatkan amuk dari pemuda Wikana  yang  marah;" Jika Bung Karno  tidak mengeluarkan pengumuman pada malam  ini  juga, akan berakibat terjadinya suatu pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran esok hari ."

Akhirnya setelah perdebatan yang panjang dengan para pemuda, sebagaimana dituliskan oleh Ahmad Soebardjo (1978:85-87) dua hari kemudian, 17 tahun setelah M. Yamin menulis ikrar sumpah pemuda, tepat tanggal 17 Agustus 1945 Soekarno-Hatta  membacakan Proklamasi, sebuah pernyataan tentang lahirnya Negara yang fondasinya telah dibacakan 17 tahun sebelumnya oleh para pemuda-pemuda tak sabar, Indonesia merdeka!

Soekarno saat Proklamasi

Memang yang muda harusnya adalah mereka yang membuang rasa takut, mereka yang berpikiran pendek. Andaikata, Charul Saleh, Wikana, M. Yamin atau Soegondo dan pemuda-pemuda lainya tak berani mengambil beban sejarah saat itu, mungkin cerita republik ini akan berbeda.  Tak ada kisah 1928, 1945, 1966 atau reformasi 1998.

Bukankah sejarah menjadi menarik dengan lara, duka, amarah dan amuk? Seperti puisi Chairil Anwar ; ‘sekali berarti setelah itu mati’! Puisi yang menyaratkan pikiran pendek dan mungkin tergesa-gesa, yang oleh S.Takdir Alisjahbana dicemooh sebagai ‘rujak belaka’.

'Chairil Anwar; 'Sekali Berarti sesudah itu mati'
Tapi Chairil memang menjawabnya secara dramatis dalam kehidupanya sendiri, sekali berarti setelah itu mati, ia mati di umur 27 tahun sebuah usia yang masih belia. Tapi benarkah Chairil benar-benar mati bersama karya-karyanya? Tidak, karya Chairil tetap hidup sampai saat ini, karya yang selalu dibacakan disekolah-sekolah, dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi, dari pelosok kampung sampai mimbar-mimbar sastra internasional.  Chairil tidak mati, Ia anak hilang yang selalu pulang dalam benak jutaan rakyat negeri ini.

Chairil mungkin sama dengan Gie, mereka sinis akan dunia dan usia tua. Mereka menolak untuk bijak sembari hidup dengan karyanya yang tetap muda, penuh gelombang amarah dan protes. Memilih untuk menjadi tetap muda walau karya-karyanya menjadi tua oleh waktu.

Mereka juga punya satu kesamaan sebagaimana pemuda-pemuda pejuang kemerdekaan lainya; ‘memilih mati dalam sumpahnya sebagai pemuda’! Sosok-sosok yang tak kita temui lagi dari para angkatan mahasiswa 1998 yang menjadi wakil kaum muda di era reformasi 1998 yang pernah juga bersumpah ketika gelombang protes sedang membahana;

kami mahasiswa Indonesia bersumpah bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan, berbangsa satu bangsa yang gandrung akan keadilan dan berbahasa satu bahasa tanpa kebohongan.

Mungkin para pemuda pejuang 1998 lupa satu hal, memilih mati dalam sumpahnya sebagai pemuda, mereka lebih senang menjadi tua dan bijak tidak seperti Chairil dalam puisinya ; ‘sekali berarti setelah itu mati’!

Bersambung…
Tulisan ini dibuat untuk menyambut hari sumpah pemuda


Bandung, 18 Oktober 2012

Posting Komentar

0 Komentar