‘Tawuran dan Gagalnya Negara’




Indonesia kembali tawuran! Setelah kasus pelajar SMU 6 dan 70 jakarta kini pindah ke Makassar, tapi bukan siswa  melainkan mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) yang sampai menelan dua korban jiwa. Menteri pendidikan dan kebudayaan langsung bereaksi ‘kami akan memberikan sanksi tegas kepada pelaku, mahasiswa, pimpinan perguruan tinggi, berikut institusinya’. Bahkan dengan gagah berani mendikbut menegaskan ; "Kampus diharapkan dapat mencetak calon-calon pemimpin. Bagaimana jadinya kalau di lingkungan kampus terjadi tawuran seperti ini (Kompas; 11/10/2012).

Melihat fenomena tawuran dan pernyataan mendikbut tersebut justru membuat saya bertanya-tanya, lantas apakah setelah memberikan sanksi masalah tawuran akan lenyap dari negeri ini? Betulkah penerapan hukuman bahkan melakukan kriminalisasi kepada mereka yang terlibat tawuran menjadi obat mujarab untuk membuat efek jera bagi prilaku sosial tawuran? Bagi saya tidak, justru ini merupakan sebuah blunder institusi pendidikan dan bukti lemahnya Negara.

Tawuran dan Lemahnya Institusi Pendidikan

Harusnya menteri pendidikan dan kebudayaan dan segenap jajaran pelaku pendidikan tanah air melakukan evaluasi kritis atas kinerja institusi mereka sendiri. Ketimbang meluapkan kemarahanya atas pelaku tawuran  dan institusi dibawah mereka baik sekolah ataupun perguruan tinggi. Karena kita patut bertanya, benarkah pola pendidikan yang selama ini dilaksanakan baik dari tingkatan pelajar sampai perguruan tinggi telah mumpuni untuk membangun karakter pendidikan yang ideal atau seperti peryataan mendikbut melahirkan calon-calon pemimpin bangsa masa depan? Atau justru inilah cerminan kualitas pendidikan kita, cermin dari kurikulum pendidikan dengan ‘kualitas barbar’!
Bagi saya justru institusi pendidikan dan Negaralah yang paling bertangung jawab atas berbagai prilaku kekerasan pelajar di negeri ini. Kita semua tentu pernah menjadi siswa atau bahkan mahasiswa. Coba kita tengok kembali kepada masa lalu masing-masing pribadi, dari mana akar prilaku kekerasan diperkenalkan pada diri kita ? Jawabanya tentu saja tiga hal; keluarga, lingkungan bermain dan sekolah!

Tiga pranata sosial inilah yang paling berpengaruh bagi pembentukan ’conduct disorder’ (ganguan prilaku) seorang anak.  Keluarga yang rapuh bisa lahir dari berbagi faktor, tapi mayoritas  prilaku kekerasan lahir dari satu hal yakni persoalan ekonomi dalam rumah tangga. Lingkungan yang rusak adalah buah dari kerusakan sistemik dari bangunan kenegaraan dan rapuhnya corak kebudayaan, sedangkan pendidikan yang buruk dibentuk oleh kesalahan sistim pendidikan. Pertanyaanya itu tangung jawab siapa? Tangung jawab para pengelola Negara!

Sebagai contoh paling nyata pada level individu, jika kita tidak lahir dari keluarga yang mengadopsi  prilaku kekerasan maka prilaku kekerasan itu justru diperkenalkan oleh sekolah dan lingkungan. Saya mengalami hal tersebut, saya lahir dari keluarga yang tidak menggunakan prilaku kekerasan dalam rumah tangga namun disekolah ketika terlambat masuk guru dengan semena-mena akan mempermalukan saya didepan kelas, menghukum saya dengan pukulan rotan atau bahkan sejumlah hukuman lainya.

Pada tingkatan Universitas pula saya mengenal prilaku kekerasan berjamaah ‘tawuran mahasiswa’, pasalnya Universitas  tempat saya kuliah di Makassar tidak pernah mampu melepas sekat-sekat fakultas, membangun semangat universitas, apalagi menjadikan dirinya sebagai lingkungan dimana semangat almamater ditanamkan, 'bahwa seluruh mahasiswa adalah anak dari Ibu yang bernama universitas'. Sehingga sayapun mengakui, saya ikut tawuran!  Darimana saya belajar tawuran ?  sama seperti rekan-rekan mahasiswa yang kini sedang terlibat tawuran, dari sekolah dan universitas atau orang tua kami yang miskin. Mengapa hal tersebut terjadi? Karena Negara, sebagai bapak tak berhasil memberikan hak-hak hidup yang layak bagi anak-anaknya dan universitas sebagai ibu tidak mumpuni mendidik.

Fenomena Tawuran dan Gagalnya  Pengelola Negara

Fenomena tawuran sebenarnya bukan hanya terjadi pada tingkatan pelajar atau mahasiswa. Tawuran kerab terjadi pada lingkungan sosial secara nyata. Perang antar kampung yang masih sering terjadi seperti di Sulawesi Tengah dan Papua, tawuran Polisi Vs Tentara di Binjai, Medan dan Gorontalo, serang menyerang antara pendukung dalam pilkada di sejumlah daerah atau bahkan prilaku tawuran masa FPI dengan sejumlah Ormas. Juga merupakan tawuran.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia (Gita media press; 2010) tawuran diartikan; ‘Perkelahian massal’. Dari pemaknaan ini, berarti tawuran tidak bisa hanya di identikan serta dilekatkan pada tingkatan pelajar atau mahasiswa semata. Fenomena kekerasan yang terjadi baik yang dilakukan oleh masyarakat seperti perang antar kampung, perang antar institusi negara sampai perang antar ormas juga merupakan tawuran. Kalau sudah seperti ini patutkah kita hanya prihatin dan sekedar menyalahkan para mahasiswa atau pelajar yang terlibat tawuran? 

Tawuran sudah menjadi penyakit sosial diseluruh negara ini. Lantas apakah para pengelola negara hanya berani melakukan penghukuman atas para mahasiswa atau perguruan tinggi yang terkena dampak dari tawuran? Harusnya para pengelola Negara sadar, prilaku kekerasan yang terjadi ditingkatan pelajar dan mahasiswa adalah buah dari kegagalan untuk membangun sprit ke indonesiaan, kebinekaan atau lebih jauh sprit pancasilais! 

Ego fakultatif, jurusan atau daerah  yang kerab menjadi pemicu tawuran di berbagai kampus di Makassar adalah buah dari gagalnya negara dan universitas untuk membangun identitas ke indonesiaan. Ini adalah kegagalan institusional dalam pengelolaan Negara. Kekerasan adalah simbol dari ketidak berdayaan dan ketidak percayaan. Mengapa tradisi main hakim sendiri dan memilih perang secara fisik bisa terjadi? Karena masyarakat tidak lagi percaya dengan berbagai jalur formal penyelesaian masalah melalui institusi Negara baik itu institusi hukum maupun pranata pendidikan. Jadi tidak bijak dan tidak elok rasanya, institusi pendidikan kita hanya sibuk menghakimi para pelaku tawuran semata tanpa pernah memperbaiki apa yang menjadi akar dari persoalan berbagai prilaku tawuran yang kini terjadi. Walau bukan berarti kita tidak memberikan hukuman yang setimpal bagi mereka yang rela menumpahkan darah saudaranya hanya karena amarah dan angkara semata! 

Posting Komentar

0 Komentar