Yasraf Amir Piliang ; 'Yang Lenyap dari Politik Kita'

Sore, hujan turun, bandung basah. Tapi tidak dengan mesjid Salman ITB. Semuanya nampak sibuk dengan kegiatanya masing-masing. Puluhan remaja berseragam putih abu-abu sedang serius menyimak tentor mereka yang mungkin adalah mahasiswa dari kampus tempat Soekarno dan Habibie pernah kuliah.

Beberapa sedang mengaji dan sebahagian lagi kajian. Sementara saya ? Kali ini seperti biasa, sebagai musafir yang sedang mencari oase pengetahuan saya mesti melangkah  ke sini, ke tempat dimana saya bisa belajar banyak dari mereka yang menjadi 'mata air bagi pengetahuan'. Mereka yang 'menjadi pembelajar yang terus belajar'. Ah, kampus ini dan orang-orang ini selalu membuat saya cemburu!

Sebuah undangan dari jejaring sosial yang dikirim oleh seorang kawan dari  sebuah group ; (https://www.facebook.com/events/288185217956584) telah mengantarkan saya ke sini. Tema sore ini menarik; TransPolitika ; 'Permainan Citra dan Realitas Sosial-Politik di dalam Era Virtual'. Pembedahnya Dr. Yasraf Amir Piliang. 

Saya membeli buku Trans Politika beberapa bulan lalu dan saya juga sudah beberapa kali menuntaskan buku-buku yang ditulis oleh pak Yasraf. Pertama kali saya bersentuhan dengan karyanya kalau tidak salah pada paruh tahun 2002, lewat buku;  'Sebuah dunia yang dilipat'. Dari buku itu saya mengenal bagaimana kekuasaan Soeharto lewat konsep 'Bapak Pembangunanya menjadi begitu  hegemonik sampai 32 tahun'.   

Dr. Yasraf Amir Piliang ( saat membawa diskusi; mesjid salman )
Buku kedua yang saya baca adalah; 'Dunia yang berlari mencari Tuhan-Tuhan digital'. Jujur saya tidak membacanya sampai habis, pasalnya bagi saya mengabungkan antara Tuhan, ilusi budaya sampai dengan kehadiran konfergensi teknologi  adalah sebuah hal yang terlalu 'gaduh dalam otak saya yang terbatas'. Walau buku ini adalah salah satu buku yang paling berjasa bagi thesis saya dahulu; ' Facebook dari Jejaring Sosial  menuju Jejaring Perlawanan' (analisis discourse group-group perlawanan).

Karya lainya seperti sebuah dunia yang menakutkan, bayang-bayang Tuhan, Agama dan manusia rata-rata saya baca sampai selesai. Nah, kali ini Dr. Yasraf akan memberikan kuliah seputar politik, citra dan realitas. Setelah solat Ashar dan bertawaf beberapa kali di mesjid salman (karena poster petunjuk kelas diskusinya seperti melacak jejak di masa pramuka saat SMP dulu) akhirnya saya sampai di gedung sayap selatan mesjid salman yang menjadi ruangan diskusi.

Dua karya (Dr. Yasraf Amir Piliang; Bayang-bayang Tuhan dan Transpolitika)
Pesertanya berkisar 10-15 orang.  Saya agak terlambat, sepertinya diskusinya sudah berjalan 5- 10 menit. Saat dikelas, pak Yasraf menjelaskan  bagaimana 'politik sebagai medan pertarungan ideologi', perbedaan pandangan antara masing-masing ideologi, musuh politik vs lawan politik, geneologi kekuasan dibentuk, cara pencitraan beberapa tokoh dan partai politik,  agama dan negara, subjek power sampai pada political discourse.

Diskusi ini menarik, sampai-sampai saya beberapa kali memotong pembicaraan beliau untuk bertanya. Karena bukan hanya saya yang seperti itu, peserta lainya juga melakukan hal yang sama. Dengan tenang beliau mengurai satu persatu apa yang menjadi pertanyaan dan peryataan peserta.

The death of ideology

Diantara semua yang beliau sampaikan pada kelas ini, saya tertarik pada satu tema :"Politik sebagai Arena Pertarungan ideologi"! benar sekali dan saya sangat sepakat pada peryataan beliau'". Justru inilah titik soal yang lenyap dari politik kita, 'IDEOLOGI'. Kita kehilangan perdebatan-perdebatan berkualitas dari pangung politik.  Tak adalagi getar dari ucapan para politisi yang lahir dari ideologi yang dibawa oleh dirinya dan partainya, tak adalagi arena keberpihakan yang jelas sesuai dengan gagasan kebenaran yang dianut oleh nilai-nilai ideologis yang dipahaminya, apalagi keberanian menjadi oposisi kebenaran bagi apa yang dianggapnya benar.

Itulah hal yang hilang dari politik kita. Saya jadi ingat ketika beberapa bulan lalu pada saat bedah buku saya, Republik Panggung Sandiwara seorang pembedah dengan latar belakang politisi yang juga menjadi anggota dewan dari sebuah parpol islam menyatakan seperti ini ; 'apakah penting membicangkan ideologi dalam politik, sementara pada saat pemilu ideologi selalu kalah dengan uang'.  

Slavoj Zizek :http://zizekspanish.wordpress.com
Inilah soal dari politik kita sebagaimana yang disampaikan oleh Yasraf; 'benturan antara tataran realitas dan pragmatisme politik telah menghilangkan ideologi, semuanya bergerak pada pencapain hitungan jumlah kursi dan kekuasaan. Mengutip Slavoj Zizek, Yasraf mengulas ; 'tentang Master-Signifier ' (penanda yang melekat; Tafsir saya) yang  tak lagi nampak dari para politisi kita.  

'Harusnya seorang demokrat sejati adalah mereka yang menjadi pejuang demokrasi', seorang politisi dari Partai Islam apalagi yang menjadi 'pejuang keadilan' mestinya menampilkan seorang politisi yang mengusung ide-ide ke islaman dengan ketegasan akan sikap bagi penegakan keadilan! Tapi apakah itu terjadi dalam iklim politik kita ? 

Bukan hanya indonesia yang mengalami kehilangan yang sama. Pada belahan bumi yang lain ideologi menjadi hal yang terlupakan, berganti dengan segala yang bernuansa ekonomik sentris. Contoh paling kongkritnya adalah cina ;' komunis yang berperilaku kapitalis' atau sebaliknya; 'Amerika yang berlaku sosialis'. 

Saya jadi ingat sebuah kutipan Francis Wheen, tentang Karl Marx ketika menulis Das kapital. Kalau tidak salah kutipanya seperti ini ;  
Bagaimana mungkin aku menuliskan tentang uang, nilai lebih, atau berbagai hal menyangkut teori ekonomi, sementara didepan pintu rumahku sedang berjejer para penagih utang. 
(Marx's Das Kapital; Abiography).

Saya merenung mungkin sampai kapanpun antara dunia realitas dan dunia abstraksi akan terus bertarung. Antara bagaimana seharusnya dan bagaimana yang terjadi adalah bumbu dari dunia ini. Itulah masalah, itulah tugas sejarah dan proyek pencerahan sejati. Bahwa tidak ada yang benar-benar ideal dari apapun juga di dunia ini, termasuk berbagai hal dalam politik yang merupakan 'seni kemungkinan'. 

Tapi apakah kita membiarkanya terus terjadi? Bukankah tugas seorang intelektual adalah menjadi pembawa obor ditengah gelap gulitanya zaman, menjadi penyeru bagi apa yang dipahaminya sebagai kebenaran ? tapi dunia memang paradoks, seperti juga Adam Smith yang saat akhir hayatnya telah memberikan sebahagian besar hartanya bagi lembaga sosial, sesuatu yang tak pernah ia tulis dan pikirkan dari tesisnya tentang; 'kapitalisme'!

Bandung, 15 Oktober 2012

Posting Komentar

0 Komentar