'Belajar Bersama di Sekolah Riset Sosial'



Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, ‘Belajar’ bermakna; ‘berusaha memperoleh kepandaian,berlatih, memahirkan atau memperoleh pengalaman baru’
[ tim gitamedia press; 2010].

Itulah yang ingin kami gapai melalui program sekolah riset angkatan pertama bersama Yayasan Timur Indonesia Bangkit,3-4 November yang lalu. Kami ingin belajar, berlatih, atau setidaknya memperoleh pengalaman baru bersama-sama.

Memaksimalkan daya pikir yang dimiliki lalu menjadikanya sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi pribadi, komunitas, dan mungkin suatu saat ikut berkontribusi bagi bangsa dan Negara  atau bahkan dunia melalui semangat mencari, menemukan dan bergumul bersama pengetahuan.

Kami mungkin belum memiliki sejumlah peneliti atau bahkan ‘kapasitas sebagai peneliti’. Tak juga sokongan dana dari lembaga donor internasional atau bantuan BUMN. Sokongan pelaksanaan pelatihan sekolah riset ini dimulai dari kantong beberapa kawan-kawan para inisiator  yang dengan suka rela honor dari peneitian yang mereka lakukan beberapa bulan lalu dipotong bagi penyelenggaraan kegiatan ini.

Apa yang kami harapkan ? secara kongkrit kami ingin berkontribusi dalam melahirkan transformasi  dikalangan generasi muda, utamanya dari kalangan  mahasiswa agar tertarik dalam dunia penelitian sebagai bekal untuk menjawab bagi berbagai persolan individu dan komunitas yang mereka hadapi. Dalam skala individu setidaknya sekolah riset ini membantu mereka untuk dapat menyusun skripsinya sendiri, melakukan penelitian kecil-kecilan dilingkungan sekitar atau bahkan menjadi pionir bagi berbagai temuan-temuan besar dunia.

Karena kami percaya, dunia dibentuk oleh ‘mereka yang melakukan’! Bukankah Thomas Alfa Edison  dengan sabar melakukan 9.998 kali percobaan dan baru pada angka 9.999 dia berhasil dan sukses menciptakan lampu pijar. Hasilnya dunia menjadi terang dimalam hari. Jika misalnya Thomas Alfa Edison tidak pernah tertarik untuk melakukan penelitian kita tentu masih berada pada era kegelapan.

Poteret miris bangsa kita menyangkut rendahnya berbagai prodak riset ilmiah ini bisa kita lihat dalam kurun waktu 1996–2010 Indonesia baru memiliki 13.047 jurnal ilmiah, Tertinggal jauh dibandingkan negeri tetangga Malaysia (55.211) dan Thailand (58.931). Tidak jauh berbeda, kita bisa melihat survei SCI mago yang menyebutkan publikasi hasil peneilitian di Indonesia selama 1998-2008 hanya sekitar 9.194 tulisan dan menempati urutan ke-64 dari 234 negara yang disurvei. Kalah jauh dari Singapura (23), Thailand (43), dan Malaysia (48). 

Memang soalnya mungkin sangat rumit untuk mempertanyakan mengapa dunia penelitian kita masih sangat jauh tertinggal, pemerintah juga sudah berusaha dengan melahirkan beberapa aturan yang memaksa lembaga pendidikan untuk memperbaiki sistim yang ada, namun dari pada kita sibuk mengutuk kondisi yang ada ataupun membahas berbagai soal menyangkut penyebab ketertinggalan, maka kami berpikir lebih baik kita melakukan hal-hal kecil yang semoga bisa bermanfaat slah satunya melalui ‘sekolah riset’ini.



Singkatnya dari pada mengutuk kegelapan, mari menyalakan lilin saudara! Selamat bagi 20 para alumni sekolah riset sosial Yayasan Timur Indonesia Bangkit semoga apa yang didapat dalam waktu yang sangat singkat selama dua hari dapat bermanfaat, setidaknya pengalaman baru yang kita dapatkan dengan ‘belajar bersama’.

Posting Komentar

0 Komentar