‘Membaca Capres 2014 Bersama Zizek’

Nama Lengkapnya Slavoj Zizek. Filsuf kelahiran Slovenia 21 maret 1949, mungkin adalah sosok yang paling mengguncang dunia di abad 21. Sumbangsihnya dibidang politik,komunikasi, filsafat, psikologi sampai  film tidak dapat dipandang remeh. Bukan hanya itu, Zizek bukanlah seorang ilmuwan yang berjarak dari dunia. Zizek adalah intelektual  membumi yang pernah menjadi Calon Presiden Slovenia di tahun 1990.

Menarik untuk membaca pandangan-pandangan Zizek dibidang politik utamanya melihat berbagai fenomena politik nasional jelang pemilihan presiden 2014. Gagasan Zizek yang paling kontekstual dengan kondisi Indonesia menurut saya yakni ulasanya menyangkut  kemunculan para aktor kapitalisme filantropi pada negara-negara yang mentasbihkan dirinya pada sistim demokrasi liberal seperti Indonesia.

Kedua, pembahasan Zizek tentang disalokasi jouissance  yang meminjam Psikoanalisa Jacques lacan,  lalu membawanya kepada sebuah realitas panggung politik. Pandangan-pandangan Zizek merupakan pencerahan, ditengah berbagai fenomena politik nasional yang tensinya semakin naik dengan munculnya beberapa kandidat calon presiden baik yang di usung oleh parpol maupun figure-figur alternative non parpol yang kini sedang sibuk mengejar popularitas bagi kepentingan politik tahun 2014.

Membaca Capres 2014 dan Kebangkitan Kaum Kapitalis Filantropi

Kita tentu sering menonton sebuah iklan politik seorang pengusaha sekaligus bos media dengan kata-kata pembuka seperti ini ; ‘pengusaha cenderung menghindari politik’… Iklan ini tentu saja sebuah penegasan tentang sikap sang pengusaha yang kini memilih menjadi politisi. Selain itu, si Bos ingin menegaskan kepada publik bahwa dirinya sebagai pengusaha ingin melakukan sejumlah kebaikan-kebaikan sosial dalam ranah politik.

Fenomena masuknya para pengusaha kedalam politik adalah sebuah hal yang memang menggejala dalam situasi internasional. Dalam pandangan Zizek hal ini adalah sebuah situasi self overcoming dimana para aktor kapitalis sedang berusaha menciptakan lawan radikal dalam dirinya sendiri. Sebagai pelaku usaha yang nota bene hidup  dengan kebiasaan akumulasi laba, perhitungan untung rugi dan logika bisnis, sangat sulit untuk memahami tindakan terjun ke politik sebagai upaya bagi kebaikan sosial. Karena politik bukanlah bisnis yang menghasilkan keuntungan pribadi atau perusahaan, namun politik adalah ‘upaya sosial bagi kebaikan-kebaikan yang luas’.

Zizek sendiri pernah menyindir tindakan para kapitalis filantropis sebagai ‘Transformasi erotik, orang-orang baik’. ‘Mereka memberi tapi terlebih dahulu mengeruk sebanyak-banyaknya’. Inilah ciri yang sangat nampak dari watak kaum filantropis .Hadirnya fenomena pengusaha terjun ke politik di Indonesia, bagi saya merupakan indikasi bagi kebangkitan aktor-aktor kapitalisme filantropis .

Sederet nama mulai dari Jusuf Kalla, Aburizal bakrie, Hary Tanoesoedibjo, Surya Paloh dan sejumlah pemilik korporasi lainya adalah bukti hubungan yang kental antara kepentingan para pelaku bisnis dan dunia politik secara nasional. Fenomena ini dalam pandangan Zizek adalah upaya pematangan etos kapitalisme itu sendiri, dalam upaya menciptakan keseimbangan dari segala tindak tanduk kepentingan individual para pelaku pasar.

Karena mereka sadar kapitalisme ternyata akan roboh jika tidak memperhatikan gejolak sosial dari proses akumulasi yang mereka lakukan, termasuk melakukan kontrol secara langsung bagi kebijakan-kebijakan politik didalam tubuh Negara. Maka tak heran para pengusaha yang menjadi politisi pada umumnya lebih banyak mengemukakan berbagai konsep menyangkut upaya pertumbuhan ekonomi, investasi dan berbagai logika ekonomik sentris.

Sehinga berbagai perdebatan menyangkut konsep ideologis, upaya keadilan sosial, sampai pada peran negara atas rakyat terabaikan. Ketika kaum kapitalis filantropis ini berkuasa mereka dengan seenaknya akan melakukan liberalisasi Badan Usaha Milik Negara, melakukan kebijakan impor beras, garam, sampai pada pelepasan berbagai subsidi penting rakyat. 

Zizek yang mengutip Weber menjelaskan kecenderungan watak kaum kapitalis filantropis sebagai etos ‘summum bonum’ meraup uang sebanyak mungkin dan melakukan pengingkaran ketat akan berbagai kesenangan hidup. Atau dalam pandangan yang sederhana bagaimana memperoleh untung dan memperkecil pengeluaran. Negara ditangan para kapitalis filantropis akan diubah ibaratnya sebuah korporasi raksasa dimana pasar adalah pemegang kendali penuh atas kehidupan rakyat.

Capres dengan watak jouissance

Zizek  mungkin merupakan filsuf yang senang akan berbagai hal paradoksal. Salah satunya pembahasanya menyangkut psikoanalisa lacan dan hubunganya dengan berbagai prilaku politik. Tentu saja ini menjadi hal yang tidak biasa dalam pendekatan studi politik. Mengacu pada pandangan Lacan, Joissance diartikan sebagai ‘tercerainya hubungan ibu dan anak setelah seorang anak menemukan egonya sendiri’.

Zizek menyebut peristiwa individual tersebut sebagai kenikmatan yang dihasrati akibat kehilangan. ‘Kondisi kehilangan’ itulah yang kadang dimodifikasi oleh para tokoh politik kepada rakyat secara luas. Misalnya saja, Zizek mencontohkan bagaimana Stalin melakukan dislokasi joissance kepada rakyat Rusia. Stalin membangun kesadaran semu, ‘ bahwa bentuk tertinggi dari pengabdian setiap agen-agen partai adalah melakukan apa yang benar sesuai pandangan Partai dan kebenaran dalam pandangan Partai adalah kebenaran menurut Stalin’.

Sekalipun Partai dan Stalin melakukan kesalahan tidak boleh melakukan pembangkangan apalagi menunjukan sikap yang berbeda. Prilaku Joissance ini kalau direnungkan sedang menggejala di Indonesia. Fenomena ini semakin nampak dalam tubuh Partai Politik yang berkuasa seperti Demokrat yang kader-kadernya mesti terus membenarkan segala kebijakan yang diambil oleh kebijakan Partai dan SBY. Demikian pula dalam tubuh PDIP dimana setiap kader mesti patuh dan taat untuk tetap mencalonkan Megawati sebagai calon Presiden sekalipun sudah beberapa kali kalah Pemilihan Presiden.

SBY dan Megawati mungkin merupakan dua sosok yang mampu melakukan disalokasi Joissance kader-kader partainya dengan cermat. SBY muncul dengan sikapnya sebagai ‘Bapak’ yang menjadi pengambil keputusan, Megawati sebagai ‘Ibu bagi PDIP’ yang mesti dipatuhi oleh anak-anak ideologisnya. Sehingga apapun namanya Megawati dan SBY adalah pemegang otoritas tertinggi yang menjadi muara bagi setiap keputusan.

Dalam kondisi seperti ini maka tidak heran rakyat kadang dibuat jengah melihat prilaku kader parpol yang membela habis-habisan Patron Parpolnya daripada gelombang suara rakyat secara luas . Misalnya saja Sutan Bhatoegana, Ruhut sitompul yang menjadi ikon yang selalu berusaha membenarkan kebijakan pemerintahan SBY, sekalipun dalam penilaian rakyat secara luas kebijakan tersebut dianggap merugikan.

Kondisi dengan mental Joissance seperti ini jika diteruskan justru akan merugikan para capres dan upaya bagi pembangunan institusionalisasi internal partai. Karena hanya akan menemukan sosok-sosok good boy dengan ucapan yes mom, ketimbang mereka yang mampu membangun proses dealektika secara sehat ditengah Partai dan para Patron Parpol.

Tentu saja kita sedang rindu menjadikan politik sebagai sebuah ajang kemulian yang menyajikan debat-debat politik yang substansial. Menjadikan kekuasaan sebagai sarana perjuangan untuk rakyat. Bukan para capres yang mencari keuntungan bagi dirinya sendiri, para pemimpin yang menjadikan dirinya sebagai patron kebenaran atau para pembela yang membosankan. Atau bisa jadi kita rindu Calon Presiden dari filsuf seperti Zizek?

Posting Komentar

0 Komentar