'Rhoma dan Kedatangan Satrio Piningit'



Siapa yang tak kenal Rhoma Irama di Indonesia? Pedagang kredit panci di pelosok kampung, generasi chibi-chibi yang childish di mal-mal, sampai kyai-kyai pesantren semua mengenalnya. Setidaknya  pernah mendengar nama sang Raja Dangdut. 

Rhoma adalah sosok yang melintasi zaman dan usia, tenar di masa muda dengan membawa dangdut menjadi ikon musik Indonesia, ‘label kesatria bergitar’ yang menjadikan dirinya idola dalam industry perfilman dari era 70 sampai 90an, membuat kaum hawa menasbihkan dirinya sebagai ukuran mode dan ketampanan lelaki Indonesia pada masa itu. Singkatnya Rhoma adalah bintang dan raja di hati rakyat Indonesia! 

Pada dunia politik Rhoma juga merupakan sosok lawas. Bahkan mungkin dirinyalah artis pertama yang terjun menjadi politisi di negeri ini, sebelum fenomena artis ramai-ramai ikut pilkada atau menjadi anggota legislative seperti sekarang.  

Karir politik Rhoma dimulai dari tahun 1977 ketika berhasil membawa Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menjadi begitu laku, bahkan mengalahkan Golkar di beberapa daerah pada pemilu 1977 &1982 yang membuat Soeharto berang dan mencekal sejumlah konser Rhoma Irama.

Kecemerlangan Rhoma di dunia musik dan film memang tidak seiring dengan sinarnya dibidang politik, justru dalam beberapa episode kehidupanya dunia politiklah yang membuat Rhoma ‘sering salah’ dan menuai kontroversi dari banyak kalangan. 

Misalnya saja ketika Rhoma justru melunak pada akhir masa kekuasaan orba di tahun 1996 dimana gelombang protes saat itu siap meledak. Sang Raja justru memilih bergabung  dibawah naungan Partai Beringin yang membuat para pendukungnya menjadi berang dan kecewa. 

Kesalahan Rhoma lainya pada persoalan politik tentu saja masih hangat dikepala rakyat indonesia, ketika secara terang-terangan melawan gelombang keinginan rakyat yang mendukung jakowi lewat issue Sara dalam pilkada Jakarta baru-baru ini.

Rhoma dan Politik Indonesia

Tidak bijak rasanya jika keinginan Rhoma Irama menjadi calon Presiden justru dihukumi dengan berbagai alasan. Apalagi sejak menyatakan dirinya siap menjadi presiden, sejumlah pengamat justru seolah-olah memberikan komentar yang negative dan meragukan kompetensi sang Raja Dangdut.

Memang benar, Rhoma sering salah dalam melakukan manuver politik. Itu toh biasa, ditengah politik Indonesia yang penuh ketidak pastian. Bahkan bagi saya, langkah Rhoma benar jika berani mencalonkan dirinya sebagai presiden pada 2014 nanti sejak dini.  Justru inilah sikap kesatria dari seorang Rhoma Irama.

Apalagi Rhoma memang memiliki pendukung fanatik, popularitas yang besar lantas apa yang ditakutkan ? Toh setidaknya Rhoma ketika mencalonkan diri tak perlu lagi memasang baligho banyak-banyak yang mengotori dan membuat semeraut kota seperti politisi lainya untuk bisa dikenal.

Soal mendapatkan dukungan partai, menang atau kalahnya Rhoma, itu soal yang berbeda karena rakyatlah yang akan menentukan. Bukankah sejumlah tokoh, politisi yang kini bermunculan sebagai calon presiden juga bukan sosok yang tak pernah salah mengambil langkah Politik ? Apalagi benar-benar bersih dari dosa-dosa masa lalu atas rakyat?

Soal kompetensi, saya justru ragu pada sosok-sosok yang kini tampil menjadi calon presiden yang diusung oleh parpol. Nama seperti Megawati, Abu Rizal Bakrie, Jusuf Kalla atau Prabowo yang ramai mewarnai panggung politik tanah air mungkin saja tidak lebih punya kompetensi dibandingkan bang Haji Rhoma Irama. Apalagi kalau soal Popularitas, saya berani bertaruh jika Rhoma lebih Populer dibandingkan Abu Rizal Bakrie atau Megawati di pelosok kampung saya di kota palu. 

Menantikan datangnya Satrio Piningit

Menjelang 2004 yang lalu saat pemilihan presiden secara langsung pertama kali digelar banyak pihak membangun mitos akan datangnya satrio piningit yang akan membawa bangsa ini menuju keadilan dan kesejahteraan yang dicita-citakan. Ternyata setelah dua priode memimpin, sosok satrio pinigit yang diharapkan tak juga bisa berbuat banyak justru menuai rasa kecewa.

Pada akhir 2012 ini, kita justru dikejutkan dengan  'munculnya kesatria bergitar' yang menyatakan siap untuk menjadi calon presiden.Hal ini bisa jadi memang dibutuhkan ditengah wajah para politisi yang mencalonkan diri sebagai capres yang tidak tanduknya menjemukan.

Bangsa ini, mungkin merindukan sosok yang berbeda dari calon-calon yang ada. Mereka yang bisa membawa negeri ini kearah yang lebih baik walau ‘pilihanya belum tentu pada kesatria bergitar’, yang sedang heboh menjadi pembicaraan berbagai kalangan.

Saya sedang curiga pada sejarah, mungkin kesatria bergitar hanyalah diberi tugas untuk melantunkan seruan bagi munculnya kesatria piningit yang sebenarnya. Sosok yang bisa menjadi ratu adil ditengah masyarakat yang masih dinantikan kemunculanya. Pemimpin yang mampu membuat rakyat bangsa ini bisa bisa bangga berseru di mata dunia, 'Indonesia tanah air beta'! sama seperti 'dangdut is music of my country yang dipelopori oleh bang Haji Rhoma Irama. Atau mungkin benar Rhoma akan berhasil menjadi pemimpin negeri ini dan menjadikan Ani yang sebenarnya menjadi Ibu Negara ? Saya tak tau...





Posting Komentar

0 Komentar