'Surat Terbuka untuk Warga Kotaku'


Pertama-tama mungkin aneh rasanya seorang biasa, Ngana Kodi (anak kecil) seperti saya menulis sebuah surat yang ditujukan kepada banyak orang. Kepada empat ratus ribu warga yang hidup di kota palu saat ini. Kepada  ribuan orang yang merasa dirinya sebagai keturunan bumi tadulako yang mungkin sedang berada di perantauan. Lebay dan janggal. Untuk itu saya mohon maaf kepada Totua-totuaku, Tuaka-tuaka-ku, mange-mangge-ku, sampesuvu sarara pura…jika saya terkesan menggurui dan nantua…


Kedua, izinkan saya untuk menyampaikan duka yang mendalam atas berbagai peristiwa konflik yang terjadi di kota palu dan Sulawesi Tengah saat ini. Saya melihatnya dari layar kaca, mendengarnya dari suara para penyiar radio atau membacanya di jejaring sosial serta berbagai media online. Sungguh saya ikut berduka! 

Karena point kedua diataslah, sampai surat ini saya tulis. Sebagai ‘seorang anak laki-laki yang ari-arinya ditanam dikota teluk’ yang indah itu. Sungguh saya tak habis pikir mengapa dendam begitu sering datang di kotaku, mengapa amarah dan kekerasan begitu akrab dengan kita. Bukankah ‘matahari katulistiwa yang panas, selalu siap berbagi dengan angin teluk yang sejuk’? 

Lantas mengapa kepala kita begitu mudah panas? Amarah kita selalu saja mudah menjalar, membakar apapun yang didepan mata ? Padahal di jutaan mil sana saudara-saudara kita sedang dibantai oleh aggressor Israel tanpa alasan yang jelas, puluhan ribu anak-anak palestina sedang berusaha bertahan hidup dari roket yang bisa datang kapan saja. Apakah kita ingin seperti tindak tanduk negara Israel  itu ? 

Perang dan prilaku kekerasan atas nama apapun adalah sebuah hal yang buruk, senantiasa menuntut darah dan korban. Mengapa kita tidak memikirkan ini sebelum dengan busur, panah, batu atau parang kita melukai mereka yang kita anggap lain, mereka yang berbeda dengan kita, mereka yang rumahnya dibatasi oleh tugu batas kampung? 

Apakah kita lupa kita adalah satu, kita adalah sama, kita adalah generasi katulistiwa dimana matahari selalu bersinar lebih dan kita hidup dibawah tempaaanya sejak puluhan generasi sebelumnya. Dimanakah Nosarara Nosabatutu yang selalu saja kita teriakan bersama-sama?

Saya tau, pasti banyak yang akan berujar konflik itu biasa. Diberbagai belahan negeri yang bernama Indonesia ini, tauwuran, perang antar kampung dan kompleks adalah kejadian keseharian. Saling serang antar suku juga selalu saja terjadi baik atas nama Agama, Ras maupun antar Golongan. Media saja yang membesar-besarkannya.Begitu mungkin apologi sebahagian kalangan menyambut seruan atas kutukan prilaku kekerasan .

Bagi saya itu bukanlah alasan yang tepat untuk melakukan pembenaran atas prilaku kekerasaan. Memang banyak hal yang kejam dari cara media utamanya televisi dalam membentuk cara pandang atas kita, kita bukanlah apa yang dimunculkan dari layar kaca yang 20 -40 centimeter. 

Tapi tak akan mungkin gambar itu tak bercerita. Mereka yang mendefinisikan kita dari apa yang mereka lihat dan saksikan. Kita bisa saja masa bodoh dengan apa yang dikatakan, sembari berujar datang saja ke palu kalau tak percaya bahwa kami baik-baik saja? 

Lantas apakah itu jawabanya ? Dimana aktualitas senantiasa mengalahkan verifikasi, sehingga kebenaran adalah apa yang pertama kali dimunculkan, bukan apa yang sebanarnya terjadi. Alangkah baiknya sebelum kita dianggap sebagai warga bar-bar, tertinggal, dan berbagai stereotip buruk, kita menjauhi berbagai prilaku kekerasan dalam menyelesaikan berbagai masalah yang datang. 

Apakah kita tidak malu dikenal sebagai manusia-manusia dengan prilaku tribalisme? Manusia manusia seperti digambarkan oleh para misionaris zaman kolonial tentang bangsa-bangsa terasing. Kita bukanlah seperti itu, kita adalah sebuah komunitas yang sudah memahami kata berbeda sejak puluhan tahun lalu, para Totua kita sudah mengenal konsep Pitunggota sebagai arena bermusyawarah sebelum kesadaran itu dirumuskan oleh bangsa ini secara formal.

Kita hidup dalam puluh sub etnik secara berdampingan, ada daa, unde, tara, rai, ledo dan banyak sub etnik lainnya dalam kesatuan yang kita sebut kaili. Sebagai etnik yang terbuka kita juga sudah biasa bersahabat dan bahkan menjadi saudara dengan kawan-kawan dari selatan, mas-mas jawa dan suku-suku lain dari belahan nusantara. Sehingga keberbedaan adalah hal yang biasa bagi kita, seperti juga Indonesia yang bineka tunggal ika.

Palu, kaili, adalah miniatur dari Indonesia kecil dimana antara agama kita sejak dahulu sangat dekat. Ini dibuktikan antara Balai keselamatan yang datang dengan misi pelayanannya, demikian pula Guru tua dan Alkhairat yang tak pernah saling berperang. Kita berdakwah dengan umat masing-masing, saling berebut pengaruh, tapi tak saling menghina dan melecehkan, bukankah itu sangat indah? 

Banyak yang berpikir kita berkelahi karena kita lapar dan miskin. Bagi saya itu tak selamanya benar. Kita punya garis pantai 4.300 km di Sulawesi tengah, kita punya tambang emas ditengah kota, kita punya teluk yang ikannya banyak, kita punya air yang melimpah dari pegunungan kita, kita punya sungai, kita punya tanah yang masih luas dengan kepadatan penduduk yang tak terlalu. Singkatnya kita kaya. 

Lantar mengapa kita berkelahi? Apakah karena kita adalah suku dengan etos malas? Tidak! buktinya banyak orang-orang kita sukses baik sebagai pengusaha maupun sebagai menteri. 
Lantas apa?
Karena kita lupa untuk sadar bahwa kita terhormat. ‘Kita adalah adalah generasi kelapa’ yang buah sampai akarnya berguna. Kita harusnya bangkit dengan semangat yang lebih positif menerjang kemajuan. Kita kaya dan harus sejahtera, oleh sebab itu kepada saudara-saudara saya utamanya kaum muda mari kita buat perubahan dari hal-hal kecil. Karena kitalah yang akan di tunjuk hidungnya kelak ‘sebagai orang palu’. 

Pertama, mari biasakan diri kita dengan berbagai hal-hal yang positif. Membaca buku, mengakses informasi yang berguna, menulis atau berprestasi dalam bidang apapun yang menjadi bakat dan kemampuan . Sibukkan pikiran kita untuk berbagai hal-hal yang postif agar energi kita tidak habis untuk marah dan dendam. Dunia sudah sedemikian maju, tidak berguna rasanya jika tenaga kita dihabiskan hanya untuk saling berperang bagi sesama. 

Kedua, tidak perlu kita saling tuding menuding, siapa yang salah dalam setiap konflik karena pasti selalu ada yang salah. Itu adalah proses alamiah untuk menjadi besar, bahkan konflik kadang sangat berguna untuk maju. Tapi cara penyelesaian konflik dengan prilaku kekerasan adalah sebuah hal yang tercela dan bukan zamanya lagi.

Ketiga, sebuah daerah yang maju hanya bisa dicapai dari kultur masyarakat yang berpikiran terbuka akan perubahan. Sudah masanya segenap diri kita untuk berpikiran terbuka, merobek segala sekat yang ada. Dunia telah terhubung antara satu sama lain, maka hendaknya kita berani untuk berpikiran kreatif melakukan segala sesuatu yang berguna bagi kemajuan pribadi kita dan lingkungan sekitar. 

Bukankah kreatifitas telah dibuktikan sejak dahulu oleh nenek moyang kita ? buktinya, kelor yang dianggap daun kuburan dan pohon hantu  oleh sebahagian suku di Indonesia, adalah makanan wajib di meja makan rumah kita masing-masing. Kaki sapi yang kadang terbuang dijadikan sebagai menu istimewa yang bernama 'kaledo' yang rasanya selangit. Bawang goreng dan garam kita terkenal sejak dahulu? Lantas mengapa kita menghabiskan energiuntuk berperang diantara sesama?

Rahmad M. Arsyad
Palu kanaku tora-tora
Bandung, 19 November 2012

Posting Komentar

0 Komentar