'Desember untuk Munir yang Menolak Mati'

Desember selalu punya cerita. Seperti juga Desember untuk Munir dan Para Aktivis Hak Asasi Manusia. Pria kelahiran 8 Desember 1965 memang akhirnya memilih untuk menjadi abadi dalam benak banyak orang, tutup usia di masa muda. 7 September 2004, Munir mati di udara dalam penerbanganya ke belanda.

Racun telah membunuh pria pejuang pada umur 38 tahun. Munir mati, seperti juga orang-orang yang dibelanya. Hari ini 10 Desember, dua hari setelah ulang tahun Munir dunia kembali merayakan Hari hak asasi manusia. Hari dimana kita merefleksikan betapa masih banyak hak-hak sesama manusia yang di hinakan oleh manusia lain. 

Kerakusan oleh segelintir orang yang membuat yang lainya kekurangan, penyerangan atas nama keyakinan, atau penghilangan nyawa manusia demi tuntutan stabilitas kekuasaan adalah prilaku kejahatan kemanusian yang masih mewarnai sejarah dunia. Untuk itulah dunia masih membutuhkan 'munir-munir yang lain' mereka yang berani bersuara lantang atas ketidak adilan dan kekuasaan.

Munir boleh saja mati secara fisik, tapi apa yang menjadi perjuanganya masih membekas dalam benak banyak orang. Munir menjadi abadi bahkan dengan menjadikan dirinya sendiri sebagai obor bagi gelapnya sisi kemanusiaan. Munir menari dalam sepi dan kesendirianya dalam perjuanganya untuk hak-hak yang sama setiap manusia di negeri ini.

'The Dance Alone' adalah lagu yang diminta oleh petisi sejumlah budayawan, aktivis HAM bagi Band Sting yang akan melakukan konser pada 15 Desember nanti di jakarta. Mereka meminta  Sting yang  merupakan salah satu band favorit mendiang Munir  untuk mempersembahkan lagu tersebut bagi munir dan para korban dari rezim kekuasaan yang sampai saat ini tidak digubris oleh negara.

8 Tahun sudah kasus kematian munir tidak menemukan kejelasan. Pemerintah, dibawah Rezim Susilo Bambang Yudhono ternyata masih ingkar atas janjinya bagi kasus Munir. Seperti juga kasus penyair Wiji Thukul, dan aktivis buruh Marsinah yang menguap tanpa titik terang. Semuanya seolah hilang tanpa jejak dari desember ke desember. 

Tapi apa yang dilakukan oleh munir dan perjuanganya adalah hal yang tak bisa sirna. Seperti juga mereka yang abadi dalam keyakinan, bahwa perlawanan atas penindasan mesti terus dikobarkan. Mereka menolak untuk mati, karena mereka terus hidup dalam benak banyak orang-orang yang mencintai kebenaran.  

Walau udara telah mengambil fisik munir, tapi seperti lirik lagu yang dibawakan oleh band efek rumah kaca yang berjudul 'Di udara', munir menolak untuk mati'!


Posting Komentar

0 Komentar