'Karamnya Partai Demokrat'

Badai bagi kapal demokrat belum juga usai. Setelah tiga kadernya terserat menjadi tersangka, satu persatu awak kapal mulai berseteru. Peristiwa teranyar adalah pemecatan Ruhut Sitompul. Semenjak beberapa bulan terakhir, Ruhut memang bermanuver menyerang posisi sang Nakodah Anas Urbaningrum.


Bukanya mendapatkan dukungan kader demokrat yang lain, si Raja Minyak justru menerima hadiah pemecatan. Lengkap dengan  sorak cacian kemarahan. Kondisi ini, semakin membuka mata publik betapa demokrat sedang berada pada situasi perpecahan.

Bagaimana tidak, serangan politik yang dilancarakan oleh kubu oposisi terus berlangsung dalam nafas yang panjang. Sementara itu, koalisi pemerintahan yang diharapkan dapat meredam serangan dari oposisi justru senantiasa balelo. Kondisi ini semakin diperparah oleh para menteri  dan sejumlah pejabat tinggi Negara, baik dari Partai Politik maupun Profesional yang mulai mencari posisi jelang pergantian kekuasaan 2014.

Tak cukup dengan segala serangan yang datang bertubi-tubi dari luar. Pada tingkat internal demokrat sendiri dilanda konflik internal. Lengkaplah sudah, ibarat kapal besar yang terombang ambing dilautan lepas, Demokrat terhepas tanpa arah. Terbawa kemanapun angin berhembus.

Kapal tanpa Kompas

Demokrat dan Susilo Bambang Yudhoyono adalah produk dari mementum politik. Lahir diwaktu yang tepat dan figur yang tepat. Tak heran semenjak era pemilihan langsung digelar pada tahun 2004 sampai 2009, Demokrat dan SBY bersinar terang.

Figuritas SBY yang tenang, seorang jenderal yang cenderung jauh dari keinginan konflik,  ditambah lagi kemasan politik pencitraan gaya amerika yang sedang booming, menjadikan Demokrat dan SBY dengan mudah bersandar dengan tenang di panggung politik nasional 2009.

Pertanyaan selanjutnya setelah meraih kemenangan, kemana kapal ini akan dibawa? Apa yang menjadi platform ideologis dari seorang SBY dan Kader-Kader Demokrat? Pada titik inilah dibutuhkan visi kenegaraan dari seorang SBY. Ibarat kapal tanpa kompas itulah demokrat dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Dengan alasan ingin membangun demokratisasi pada internal Partai Demokrat, SBY lupa melakukan institusionalisasi demokrat sebagai sebuah jalan terwujudnya visi politik. Dalam kapasitasnya sebagai seorang pemimpin pemerintahan, SBY juga terlalu kompromistik kepada seluruh kekuatan politik yang lain. Karena enggan terlibat konflik dengan kubu oposisi yang dimotori oleh PDIP.

Akibatnya kader-kader demokrat bergerak begitu liar, tanpa visi dan arah yang jelas. Demikian pula manajemen pemerintahan yang cenderung tersandera pada tekanan politik. Bahkan saking kompromistiknya SBY,  kader-kader demokrat sendiri terabaikan dalam menikmati bagian dari kekuasaan.

Maka tak heran suara ketidakpuasan dalam internal demokrat semakin menguat. Bahkan pada eskalasi tertentu, tidak menutup kemungkinan berujung pada perlawanan atas SBY  oleh kader-kader Demokrat.

Karamnya Kapal Demokrat

Susah dibayangkan apa yang akan terjadi pada SBY dan Demokrat pada tahun 2014 nanti. Selama hampir 10 tahun berkuasa, SBY dan Demokrat tidak mampu melakukan institusionalisasi baik secara internal Partai Politik maupun dalam Pemerintahan. Tentu kita ingat, bagaimana Golkar ketika berkuasa mampu melakukan Golkarisasi ditubuh Birokrasi dan TNI. Gusdur ketika berkuasa, meskipun singkat mampu melakukan dekonstruksi elitisme kekuasaan.

Dengan jargon politik santun dan bersih, SBY belum mampu menerjemahkan hal tersebut dalam bentuk yang kongkrit. Seakan menjadi bandul berbalik, teriakan SBY tentang santun dan bersih sama sekali jauh dari kenyataan faktual yang disaksikan masyarakat.

Sosok Ruhut Sitompul  atau Sutan Bhatoegana yang terlibat konflik dengan keluarga almarhum Gusdur sungguh jauh dari sosok politisi dengan kriteria santun. Demikian pula ditetapkanya tiga orang kader demokrat sebagai tersangka justru menunjukan bahwa kader-kader demokrat terlibat pada prilaku korupsi.

Inilah kondisi ironi dalam demokrat. Semakin berteriak dengan citra santun dan bersih, semakin nampaklah antitesa dari prilaku demokrat yang sebenarnya. Inilah titik problem utama partai tanpa platform yang cenderung mengantungkan segala sesuatunya pada level citra simbolik semata. Pidato-pidato SBY yang cenderung kaku dan terlalu bersayap tidak cukup kuat mempengaruhi pandangan publik. 

Kondisi yang menimpa demokrat saat ini, seharusnya menjadi bahan pelajaran bagi banyak pihak. Utamanya bagi para capres yang kini mulai bertebaran. Abstraksi dari platform ideologis dan institusionalisasi kekuasaan mesti menjadi sesuatu yang ada dalam tubuh partai dan gagasan kebangsaan pribadi setiap Capres.

Karena tanpa hal tersebut, kekuasaan menjadi kehilangan maknanya. Politik akan berubah menjadi sesuatu yang bersifat transaksi semata. Bahkan dalam kondisi yang sama, tidak menutup kemungkinan hanya akan mengulang kesalahan dari partai Demokrat dan SBY  menjadi kapal tanpa kompas yang terbawa kemanapun angin berhembus!

Posting Komentar

0 Komentar