Setelah Andi, Siapa Lagi ?

Drama kasus Hambalang terus bergulir. Badai yang menghantam Partai Demokrat belum juga berlalu, bahkan semakin menjadi-jadi.  Mendekati pusaran utama lingkaran kekuasaan Susilo Bambang Yudhoyono. Setelah Nazaruddin, Angelina sondakh, kini duet  Mallarangeng yang terkenal sangat dekat dengan istana diseret menjadi tersangka.

Rakyat semakin bertanya-tanya, besok siapa lagi ? Ada yang berspekulasi Anas Urbaningrum. Pasalnya dari Kicauan Nasaruddin paling banyak menyebut keterlibatan Anas. Selain Anas,  Nazar dalam sidang terakhirnya mulai menghubungkan dengan Edi Baskoro putra Presiden SBY.

Negara dan Korupsi

Prilaku korup Pejabat Negara di bawah rezim SBY semakin nampak telanjang. Korupsi menjalar hampir diseluruh bagian pengelola Negara. Hari ini menteri yang menjadi tersangka, beberapa bulan sebelumnya mantan Gubernur Bank Indonesia Miranda S Gultom, Jenderal di institusi kepolisian dalam kasus simulator SIM, sejumlah Anggota DPR, sederet nama Gubernur dan Bupati  dan yang juga heboh kasus Hakim Mahkamah Agung yang dituding terlibat suap atas penggurangan masa tahanan Bandar Narkoba.

Bahkan dari data yang di ekspose oleh Transparency International, Indonesia belum beranjak dari negara dengan tingkat korupsi tinggi, sejajar dengan Republik Dominika, Ekuador, Mesir dan Madagaskar. Dari peristiwa ini rakyat semakin dibuat tidak percaya akan penggelola negara. Maka tak heran jika di tengah  Rakyat telah terbangun stigma  ‘setiap pejabat Negara, Pasti Korup’!

Fenomena ini mengigatkan saya pada apa yang disampaikan oleh Guru saya di Universitas Hasanuddin almarhum Dr. Mansyur Semma dalam bukunya Negara dan Korupsi ( Negara dan korupsi ; 119) Mansyur menyatakan ; ‘Korupsi bukanlah budaya. Tetapi, korupsi dapat saja membiadap bila struktur sosial, struktur ekonomi atau juga politik mengalami kebuntuan’.

Benar apa yang dikatakan oleh almarhum guru saya tersebut, sebenarnya pada panggung belakang rezim SBY sedang terjadi kebuntuan pada semua level struktural pengelola Negara. Gagalnya manajemen pemerintahan, tidak terkordinasinya antar lembaga-lembaga Negara dan kementerian, mentalitas yang buruk dari pejabat publik dan rusaknya Partai Politik adalah jalan bagi tumbuh suburnya budaya korupsi.

Setelah Andi, Siapa Lagi?

Peristiwa yang menimpa Andi Malarangeng juga menambah citra buruk para akademisi yang masuk dalam arena kekuasaan. Sebutlah nama Sri Mulyani atau Budiono yang disebut-sebut terlibat kasus century, Miranda Gultom yang sudah ditahan oleh KPK dan kini Andi Malaranggeng.

Sebelum terlibat dalam kekuasaan mereka adalah para tokoh kampus yang cukup menonjol secara intelektual. Ditempa oleh kawah candradimuka gagasan  pengetahuan. Karena kampus merupakan tempat berkumpulnya para dosen, peneliti dan mahasiswa dengan misi pengabdian pada masyarakat.Pertanyaanya, kemana cita-cita tridarma perguruan tinggi yang mereka emban ketika dikampus yang seolah hilang ketika masuk kekuasaan?

Saya yakin kala korupsi telah merasuk dan merambah sarang kaum intelektual, titik permasalahannya pada dasarnya bukan pada perguruan tinggi, akan tetapi pada integritas kaum intelektual yang berada di dalamnya. Ada kerapuhan pilar moral-intelektual dan integritas yang terjadi pada setiap individu.

Sudah mafhum, bahwa kaum intelektual merupakan kaum yang mengutamakan nalar dalam memahami kebenaran. Bukan hanya itu, mereka juga dituntut menjaga integritas dan kejujuran, baik dalam dunia akademik maupun dalam kehidupan sosial. Artinya, pada dasarnya kaum intelektual adalah kaum moralis. Namun, godaan uang dan materi terkadang tak melihat siapapun. Sehingga banyak dari mereka yang dulunya memiliki integritas terjebak pada persoalan ini.

Ditambah lagi para akademisi yang masuk ke dunia kekuasaan pada umumnya tidak terbiasa dengan kultur birokrasi Negara. Sehingga dari banyak pengalaman korupsi yang dituduhkan tidak selamanya murni karena tindakan mencuri uang negara, tapi bisa jadi persoalan kesalahan prosedur adimistrasi.

Dua hal inilah yang menjadi persoalan besar yang dialami oleh kaum intelektual ketika masuk dengan kekuasaan, yakni persoalan moral dan pemahaman akan kultur birokrasi. Sehingga kerab langkah mereka tersandung pada saat berada bersama kekuasaan.

Refleksi Diri

Membaca dan melihat apa yang terjadi pada Andi Alfian Mallarangeng dan sejumlah akademisi lainya, sudah semestinya menjadi ajang pembelajaran bagi banyak kalangan. Utamanya para akademisi dan kaum muda yang memiliki cita-cita menjadikan politik atau  kekuasaan sebagai jalan ibadah sosial bagi kebaikan-kebaikan yang luas.

Saya kemudian teringat akan pesan seorang guru dari kampung saya; ‘hati-hati jika kepala anda penuh dengan cita-cita sosial semasa dikampus, keinginan merefleksikan teori sosial yang anda abaca, dunia birokrasi ataupun politik terkadang menjadi jebakan yang berbahaya’.


Sebuah pesan yang sangat bijak bagi pribadi saya sendiri dan mungkin banyak kalangan, untuk menjadikan fenomena tersebut sebagai cermin akan berbagai hal dan tawaran yang mungkin sangat menggoda didepan mata. Semoga kita jauh dari bencana kemanusiaan yang bernama ‘korupsi’.

Posting Komentar

0 Komentar