'Birokrat'




Rezim kekuasaan indonesia boleh mudah berganti seperti cuaca. Gelombang Reformasi politik telah membatasi masa sebuah kekuasaan dapat dihukum sesuai keinginan rakyat di setiap masa pemilu tiba. Tapi tidak dengan birokrat, posisi ini senantiasa abadi dalam usia kekuasaanya!

Tak terbatas oleh masa waktu hajatan pemilu lima tahunan, tentu selama tidak terlibat kasus korupsi atau pelanggaran lainya. Para birokrat dapat berjalan tenang diantara kekuasan politik yang berubah-ubah. Tanpa perlu menerima sangsi apapun jika tidak berbuat apa-apa.

Mungkin itulah alasan mengapa banyak ibu di negeri ini senantiasa berharap anaknya menjadi seorang birokrat atau popular dengan sebutan Pegawai Negeri Sipil. Jaminan kepastian hidup, tunjangan kesehatan, walau gaji pas-pasan adalah titik aman yang senantiasa dicari. Tak perlu berpikir yang susah-susah yang ujungnya menyusahkan diri sendiri.

Cukup bersabar dengan waktu, maka pangkat dari tahun ketahun sudah pasti naik. Berjalan seiring dengan penghasilan yang diterima. Itulah birokrasi di negeri ini, tak perlu bersusah payah, cukup sekedar sabar! Sabar menghitung hari, sambil sesekali melihat celah untuk bisa mendapatkan promosi jabatan.

Tak perlu kreativitas, cukup sekedar taat pada pimpinan. Semuanya abadi sejak zaman dahulu kala. Karena Gelombang Reformasi politik tak mampu menerobos tembok kokoh birokrasi negeri ini. Kabar Reformasi Birokrasi, hanya sekedar angin sepoi-sepoi yang terasa namun tak banyak mempengaruhi. Birokrasi tetap sama saja, seperti juga saya yang birokrat tapi tak mengubah dan melakukan apa-apa. Cukup sekedar taat.

Sebagai birokrat dengan masa karir terbilang balita. Dengan posisi puncak sebagai aparat sebuah kelurahan. Kadang saya merenung, betapa dunia ini menjadi sangat sederhana dengan menjadi seorang birokrat. Semuanya sudah punya Tupoksi (tugas dan fungsi pokok), semuanya sudah ada aturanya, nomenklaturnya sudah jelas, tak perlu berpikir macam-macam tinggal hadir, datang dan laksanakan sesuai amanat pimpinan yang senantiasa berulang setiap apel pagi dan sore; ‘Tingkatkan kedisiplinan sebagai abdi masyarakat’?

Lantas apakah menjadi seorang birokrat hanya soal kedisiplinan? Ketaatan pada pimpinan? Kalau sekedar itu saja, lantas kemana tugas birokrat sebagai pelayan atau abdi masyarakat maupun abdi negara? Bagaimana bisa kita bisa menjadi abdi yang baik tanpa mengetahui perkembangan masyarakat yang kita layani.

Bagaimana bisa kita mengetahui apa yang diharapkan oleh masyarakat jika tidak pernah menggali apa yang menjadi kebutuhan mereka? Ibarat seorang pelayan restoran untuk melayani tentu kita mesti mengetahui selera pelanggan, bagaimana cara menyajikan dan membuat mereka nyaman.

Bukankah sebagai birokrat kita digaji untuk itu?

Tapi sudahlah, itulah nasib birokrat semakin berpikir semakin penat! Kadang saya membatin sendiri. Bukankah menjadi birokrat tak perlu berpikir, cukup kembali pada pasal dasar doktrin Panca Prasetya Korps Pegawai Negeri Republik Indonesia.

Saya jadi teringat sebuah tulisan tentang alvin Toffler, bahwa  gelombang abad informasi akan mengubah semuanya menjadi sedemikian cepat. Saya kemudian merenung jika abad ini segalanya menjadi begitu cepat, bagaimana dengan birokrat mungkin jaraknya ratus kilo jauhnya. Kita selalu akan tertinggal dengan dunia yang terus berlari.

Tiba-tiba saya ingat satu hal, apakah otak saya masih ada ditempatnya atau sudah tak berfungsi lagi?

Posting Komentar

2 Komentar

  1. reformasi politik sudah , reformasi birokrasi ini mungkinkah berubah ? anganku

    BalasHapus