'Jokowi di Rumah Kami'



Patut diakui Jokowi memang fenomenal. Putra saya yang baru berusia dua tahun, setiap mendengar pembawa acara berita menyebut nama Gubernur Jakarta tersebut, segera  belari menuju depan televisi lantas berteriak, ‘kowi..kowi’. Entah bagaimana awalnya, apakah karena jokowi selalu menjadi trendsetter pembicaraan ibu dan neneknya. Atau karena setiap hari televisi menyajikan berita tentang jokowi, sehingga putra saya yang masih balita itu,  begitu hafal nama lelaki tersebut.


Saya sungguh terkejut, padahal saya yakin Ali ridha belum paham siapa Jokowi? Apa yang dilakukanya?  mengapa lelaki kurus itu selalu muncul di layar kaca? Fakta lain,saya temukan ketika berdiskusi dengan istri saya yang penggiat kelompok perempuan yang berafiliasi dengan partai politik tertentu. Kata istri saya, baru-baru ini dia bersama teman-teman se-partainya melakukan kunjungan ke banyak desa di Sulawesi Selatan.  Salah satu yang menarik ketika mereka melakukan sosialisasi kandidat yang diusung oleh partainya di Kab. Bone yang merupakan kampung halamanya sendiri.

‘Papa bayangkan, bupati yang kami usung di beberapa desa justru tidak dikenal oleh pemilih, justru mereka lebih mengenal Jokowi’, tegas istri saya.  Dengan terkejut saya balik bertanya, kok bisa seperti itu? Bukanya kandidat bupati yang diusung oleh partai mama, sudah lama bekerja dan mensosialisasikan dirinya dari kampung kekampung?

Iyah, aneh. Mungkin karena program dan cara sosialisasinya yang tidak menarik. Hanya mengandalkan baligho, cara kampanye yang kaku, dan tidak mampu meraih simpati pemilih. Terang istri saya dengan wajah kebingungan.

Saya hanya tertawa. lalu mulai berceramah didepan istri.  Pertama  membandingkan sosok Jokowi dan team kreatif dibelakangnya dengan kandidat calon bupati beserta teamnya, adalah sebuah perbandingan yang tidak adil.
Kedua, Jokowi adalah sosok media darling. Pembawaanya yang santai dan low profile, rockers  dan berhasil memimpin solo dengan sejumlah event wisatanya adalah nilai berita. karena tidak semua pejabat publik bisa seperti Jokowi.

Ketiga, Jokowi adalah ikon dari  pemberontakan rakyat kecil atas monopoli kepemimpinan  elitis yang selama ini menguasai Jakarta dan Ia berhasil. Maka keberhasilan tersebut kemudian di bingkai oleh media menjadi sesuatu yang sifatnya tobe continue.

Ke-empat. Patut diakui media, utamanya televisi telah mampu mengampil peran partai dalam mensosialisasikan tokoh politik seperti Jokowi. Bukankah mama sudah tau, Televisi telah menjadi sumber rujukan domestik dan referensi utama dalam lingkungan keluarga. Termasuk persoalan ‘politik’.

Iya, saya paham pa. Utamanya soal media tadi, jawab istri saya. Tapi misalnya begini, bukankah bos partai kami juga rajin muncul di tv bahkan merupakan pemilik sebuah stasiun Televisi? Pada sebuah kesempatan kampanye, saya bersimulasi seperti ini ;
Bupatinya*&&%%,
Gubernurnya%$#^*((&,
Presidenya@#$%^*(().
Eh, warga malah asing dengan nama-nama itu.

Haha, saya tertawa semakin menjadi. Karena sepengetahuan saya, jokowi dibesarkan oleh media dan memang terlepas dari faktor politis, Jokowi melakukan hal-hal yang nyata. Bukan membingkai realitas pribadi untuk sekedar popularitas seperti kandidat capres dari partai istri saya.

Ma, mungkin bangsa ini sedang rindu dengan pemimpin yang kata ‘sederhana’ bukan sekedar jargon. Kata ‘berbuat’ bukan hanya untuk  menaikan rating suara jelang pemilu. Walau, papa sendiri tidak membantah sebagai politisi Jokowi memang cerdik memanfaatkan media dengan baik, sehingga popularitasnya bisa se-fenomenal seperti sekarang.

Kitapun tidak bisa menafikan, apa yang dilakukan Jokowi itu mungkin sekedar pencitraan belaka, entah akan jadi capres atau demi menaikan elektabilitas partai pengusungnya. Terlepas dari itu semua, Papa salut sama Jokowi. Setidaknya dia adalah sedikit dari banyak politisi negeri ini yang memiliki komitmen kerakyatan. Rela turun ke kampung-kampung kumuh, berdialog dengan masyarakat, membuat Jakarta Night Festival dimana setiap orang bisa merasakan tahun baru yang berbeda, atau hadir di konser Guns and Roses dengan berdiri tanpa meminta privilege.

Untuk itu semua patut diapresiasi. Apalagi untuk ukuran seorang Gubernur yang sudah  terpilih. Kadang politisi kita hanya datang kepada rakyat jelang pemilu. Menjadikan rakyat tidak lebih sebagai ‘deretan angka suara semata’.

Tapi sudahlah, besok papa akan ajari Ali bukan sekedar mengenal Jokowi. Papa, akan memperkenalkan Ali dengan sosok pemimpin luar biasa seperti Rasulullah, Imam Ali As, Ali Ar Ridha atau Ali Syariati yang menjadi dasar namanya. Sekalian dia juga belajar pemikir-pemikir dunia seperti Marx, Hegel, Chomsky, Leo Tolstoy, Sartre, Zizek atau Soekarno, Syahrir dan Hatta.
Hahaha. Kasian ali, jawab istri saya.


Posting Komentar

0 Komentar