'Politicawave'



Dua tahun lalu saya berusaha mempertahankan sebuah tesis yang berjudul;  Facebook dari jejaring pertemanan menuju jejaring perlawanan. Saat itu, banyak pihak yang meragukan penelitian tersebut. Pertama, sangat sulit mengukur kemampuan jejaring sosial dalam mempengaruhi audience utamanya dalam menggalang sebuah gerakan sosial.

Kedua, menurut mereka yang membantah tesis saya. Sarana komunikasi jejaring sosial mayoritas karakter penggunanya adalah generasi muda, kelas menengah yang cenderung bersifat apatis bagi berbagai gerakan politik, jejaring sosial seperti facebook, blog, ataupun twiter tidak dapat dijadikan sebagai referensi bagi sebuah gerakan yang bersifat politik, apalagi melakukan sebuah gerakan yang bersifat politis. 

Kala itu, jawaban saya sederhana. Ini era smart phone! Dimana pada masa akan datang, konvergensi teknologi menjadi sesuatu yang tak bisa ditolak. Kemajuan sarana komunikasi akan mendorong pemaduan antara teknologi komunikasi dan era jejaring. Lihat saja, dari data nasional pengguna  balckberry tercatat  jumlah pengguna di indonesia berkisar  10 juta orang (data RIM;2012).

Lebih luas lagi, dari 245 juta penduduk Indonesia, pengguna internet di Indonesia mencapai 55 juta orang. Dari data ini, saya semakin yakni  era konvergensi itu adalah sesuatu yang pasti. Dalam ranah inilah, modernisasi saluran komunikasi termasuk dalam melakukan sosialisasi politik juga tidak bisa disepelekan.

Fenomena Gelombang Politik

Sebuah fenomena yang menarik menyangkut pemanfaatan jejaring sosial dan praktek konvergensi dunia politik dan teknologi semakin nyata dengan kehadiran sebuah situs http://politicawave.com. Situs ini  adalah sarana untuk memantau secara sistematis percakapan yang terjadi di media sosial berkaitan dengan berbagai isu politik nasional maupun regional.

Dengan mengumpulkan dari berbagai media sosial yang ada di Indonesia, termasuk Facebook, Twitter, blog di Detik, Kompas, Kaskus dan puluhan situs blog . Secara total, jutaan percakapan yang terjadi setiap hari direkam dan dirangkum menjadi grafik-grafik visual yang bersifat hipotetikal menyangkut sikap politik pemilih, referensi politik, sampai ketertarikan pada program dan isue seorang tokoh politik.

Selama hampir dua bulan saya melakukan pengamatan akan situs ini. Termasuk eksposes beberapa analisis mereka menyangkut prilaku pemilih pada beberapa pilkada yang ramai menjadi perbincangan di jejaring sosial. Misalnya saja, analisis atas Pilkada Sulawesi Selatan dari share of citizen satu pekan sebelum pemilukada digelar, media pemantau ini  berdasarkan analisis perbincangan facebook, twiteer, serta blog, memuat data 51, 2% pemilih menjagokan Syahrul Yasin Limpo. Sebuah hasil yang tidak jauh berbeda dengan gambaran quick count oleh sejumlah lembaga survei selama ini.

Sedangkan untuk pemilukada jawa barat dari share of awarness pemilih menempatkan pasangan Ahmad Heriyawan- Dedi Mizwar dengan presentase 30,6 % dan Dede-lex sebesar 26,3%. Menariknya dengan menggunakan pola analisis Net Sentiment (NS) (nilai bersih sentiment) yaitu pendapat atau perasaan dari konsumen yang dinyatakan di media sosial, pola hipotetikal ini bisa menyampaikan hasil gambaran prilaku pemilih mendekati pola riset umum yang selama ini berlaku.

Beberapa Kelemahan

Era 'Politicawave' yang berkembang saat ini tentu saja tidak bisa dijadikan referensi sepenuhnya. Demikian pula penggunaan survei politik. Karena tentu saja generalisasi responden, keterbatasan segmen audience, yang menjadi referensi belum tentu mencerminkan gambaran sebenarnya.

Karena mereka yang terpilih atau terekam pendapatnya sebatas mereka yang memiliki akses akan teknologi ataupun terpilih secara acak oleh para peneliti. Tapi pada masa akan datang dimana ruang jejaring sosial akan semakin privat didalam diri setiap orang, model penerapan 'Politicawave' akan semakin terintegrasi sebagai sarana komunikasi dan sosialisasi.

Bahkan bisa jadi berubah menjadi sumber referensi electoral. Itulah dampak dari teknologi yang terus bergerak semakin cepat, semakin maju, bahkan bisa jadi telah melepas sekat-sekat yang ada. Semuanya banyak mengubah cara, corak, dari model-model komunikasi konvensional yang selama ini digunakan. Termasuk pada gaya hidup dalam keluarga, pekerjaan ataupun pilihan perangkat yang digunakan.

Tentu saja, pada zaman dahulu kita membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk sekedar bertukar pesan pada sanak saudara  yang jauh. Kantor pos, kurir, menjadi pilihan bagi utama. Tapi kemajuan teknologi komunikasi telah mengubahnya dengan begitu cepat dan beragam pilihan sarana yang digunakan. Termasuk jika dahulu para politisi yang menjadi idola adalah mereka yang mampu membakar massa dalam lapangan terbuka dengan orasi yang menggelegar, pada masa akan datang siapa mungkin akan berubah siapa yang mampu mengumpulkan follower terbanyak! Mari menimbang!

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Salut kepada PoliticaWave.Com sebagai Political Social Media Monitoring di Indonesia yang berhasil membuktikan kredibelitas dan keakuratannya dalam menganalisis percakapan pengunjung di media sosial terbesar seperti Twitter, Facebook, YouTube, dan beberapa situs lokal populer lainnya. http://www.politicawave.com

    BalasHapus