Siapa Menang di Pilgub Sulsel ?


 
Kurang dari tiga pekan lagi, rakyat Sulawesi Selatan akan memilih. Siapa yang akan menjadi pemimpin Sulsel di masa lima tahun mendatang. Dari berbagai hasil survei, kristalisasi pemilih menunjukan persaingan signifikan antara dua kandidat.  Yakni pasangan petahana Syahrul Yasin Limpo- Agus Arifin Nu’mang (SAYANG)  berhadapan dengan Ilham Arief Sirajuddin – Azis Kahar Muzakkar (IA) sebagai penantang.

Tanpa menafikan peluang dari pasangan nomor urut tiga  Rudiyanto Asapa- Nawir Pasinringi (GARUDANA). Nampaknya memang perebutan kursi gubernur dan wakil gubernur sulsel hanya akan didominasi persaingan antara Sayang dan IA. Masa sosialisasi kandidat yang telah lama dilakukan, kepastian pasangan, partai pendukung, serta telah terbangunya mesin politik pada setiap kabupaten bahkan desa, menjadikan dua pasang kandidat ini memperoleh popularitas yang tinggi dimata pemilih.

Apalagi dua pasang  kandidat tersebut, secara personal  ataupun pasangan memang merepesentasikan dukungan geopolitik yang cukup besar pada masing-masing wilayah di Sulawesi Selatan. Kondisi ini semakin memungkinkan bagi ketatnya persaingan pada paruh pekan terakhir sebelum hari pemilihan 22 januari nanti.

Penguatan Jejaring Politik

Dalam kondisi seperti saat ini. Ketika pemilih mulai mengerucutkan pilihan politiknya  adalah masa yang tepat bagi pasangan calon gubernur dan wakil gubernur untuk melakukan penguatan jejaring politik mereka. Mengejar popularitas dengan melakukan pengarahan massa pendukung menuju lapangan terbuka, ataupun gaya kampanye populis tidak akan siginifikan dalam mendapatkan dukungan pemilih.

Belajar dari fakta lapangan yang sering saya jumpai, ketika melakukan penelitian menyangkut ‘pengaruh kampanye terbuka bagi keterpilihan kandidat dalam pilkada’. Melahirkan satu kesimpulan; ‘Tidak ada jaminan, kampanyenya dihadiri oleh ribuan orang dilapangan terbuka, akan mendapatkan dukungan suara yang sama besar pada hari pencoblosan’.

Sehingga para konsultan, team sukses termasuk kandidat mesti hati-hati dengan jebakan psikologi massa tersebut. Saat ini, setiap pasangan kandidat yang ingin tampil menjadi pemenang,  sebaiknya lebih berfokus pada penguatan jejaring politik yang sudah terbangun .

Jejaring politik tidak mesti mengacu pada mesin politik seperti partai politik, namun justru berada pada basis konstituen yang telah terbentuk. Misalnya saja komunitas, team relawan, ataupun para pemilih mengambang yang belum menentukan pilihanya. Para konsultan politik kedua pasangan tentu saja, sudah mengetahui titik Geo spasial kelemahan dan dukung berdasarkan kewilayahan, serta dimana saja titik pemilih yang belum menetapkan dukungan  yang potensial untuk diraih.

Penguatan jejaring politik inilah dalam banyak kasus yang saya temui menjadi basis real dukungan suara bagi kandidat untuk tampil menjadi pemenang. Misalnya saja kita dapat belajar dari pilkada DKI bagaimana begitu efektifnya relawan pendukung Jokowi pada basis akar rumput bekerja. 

Demikian pula contoh yang dekat, pada pilkada Sulawesi tengah 2010 yang lalu ketika ‘perempuan pendukung Longki’ mengejar suara pemilih dari rumah ke rumah masing-masing konstituen. Hasilnya, fantastis! Longki-Sudarto menang diatas 50% dibandingkan lima pasang kandidat lainya.

Siapa Menang di Pilgub Sulsel ?

Membaca pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan secara makro, Ibarat melihat kontestasi Pilgub Jakarta. Walau tidak bisa disamakan sepenuhnya. Pertarungan sebenarnya adalah antara ‘isue keberhasilan melawan isue perubahan’. Apakah masih di Sayang? atau butuh Semangat Baru’ ? mungkin itulah termenologi yang paling pas dalam membaca persaingan dua pasang kandidat pada hari-hari ini.

Dimana pemilih sebenarnya sedang pada masa keputusan akhir. Seiring dengan intensitas isue politik domestik yang berlangsung pada level yang lebih intim yakni keluarga. Siapa yang akan menang dalam kontestasi ini ? adalah pasangan yang mampu menerjemahkan abstraksi dari gagasan politik mereka menjadi hal yang sederhana dalam benak pemilih.

Gambaran data survei dari sejumlah lembaga, memang mensyaratkan kekuatan dukungan bagi Incumbent. Namun dari tracking survei yang berjalan nampak kandidat penantang terus mengalami kenaikan popularitas dan elektabilitas. Soalnya adalah, apakah waktu yang tersisa cukup mengejar posisi kapal induk yang juga sama bergerak? Apakah penantang mampu mentrasformasikan gagasan politiknya menjadi sesuatu yang membekas dibenak pemilih ?

Dengan kekuatan jejaring politik yang ada, apalagi ketetapan pasangan incumbent yang tidak berubah adalah keuntungan tersendiri bagi kandidat petahana. Dimana petahana telah menang satu langkah dibandingkan kandidat penantang. Karena tidak perlu bersusah payah untuk mensosialisasikan kembali pasangan.

Sementara itu kandidat penantang yang mengandalkan  dukungan geo politik dan bermain pada segmen pemilih Nasionalis-Religius juga masih butuh pembuktian faktual. Apakah bisa mengubah kesan keberhasilan yang terus dibangun oleh kandidat petahana,  melawan  9 (Sembilan) program bebas yang ditawarkan. 

Apakah publik mengharapkan perubahan? ataukah masih berpandangan apa yang sudah berjalan selama ini sebagai kebaikan-kebaikan yang akan diteruskan? Disinilah waktu yang akan menjawabnya. Disinilah pembuktian dan ‘pengadilan rakyat’ sesungguhnya sedang berjalan. Toh pada akhirnya rakyat yang memutuskan apa yang mereka inginkan seriring dengan waktu yang berjalan. Biarlah rakyat yang memilih.




Posting Komentar

0 Komentar