‘Bayi Gelap’

Saya, ‘ibarat bayi yang kelahirannya tidak diharapkan dalam kongres   Partai   Demokrat’


Anas Urbaningrum salah satu dari sedikit politisi Negeri ini yang  mampu menggunakan ‘metafor politik’ yang cukup berkelas. Terlepas, hal tersebut hanyalah sekedar apologi untuk menutupi serangan atas kasus hukum yang menimpanya. Ataupun polesan  figure of rhetoric, dimana seorang tokoh politik biasanya melakukan permainan kiasan untuk sebuah maksud.

Setidaknya pidato pengunduran diri Anas adalah sebuah pidato  yang mampu memberi kesan tersendiri bagi panggung politik negeri ini yang mayoritas dihuni oleh ‘politisi tanpa kepala’, ‘mereka yang berbicara tanpa berpikir’! Sesuatu yang selama ini membuat publik susah membedakan mana politisi dan mana preman jalanan.

Ungkapan Anas yang menegaskan dirinya ‘Ibarat Bayi yang tidak diharapkan’. Secara konotatif bisa menggiring pandangan publik, bahwa pada panggung belakang demokrat sebenarnya diwarnai intrik, perang, dan juga perzinahan. Lewat pidato penggunduran dirinya, Anas sedang menghancurkan polesan citra panggung depan demokrat selama ini, sebagai partai yang penuh kesantunan, bersih, beretika, Jujur dan kompak. Apalagi dengan gaya yang  satir, Anas mengakhiri pidatonya dengan sebuah tanya,  apakah benar partai ini ‘santun’ atau justru partai ini adalah partai yang ‘sadis’.

Zinah Demokrat
                                            
Jika di tafsirkan secara konotatif, seorang anak yang tidak diharapkan biasanya adalah anak yang lahir dari pelanggaran norma dan etika dalam sebuah masyarakat. Misalnya saja dalam banyak kasus, seorang anak yang tidak diharapkan biasanya lahir dari ‘peristiwa dimana ibu dan bapaknya’ melanggar norma kesusilaan seperti perzinahan.

Selain norma kesusilaan yang membuat seorang bayi tidak diharapkan kelahirnya, bisa  juga berhubungan  dengan kondisi ekonomi, dimana ibu dan bapak si bayi melakukan ‘fatal error’ karena lupa ‘memasang dengan benar alat pengaman mereka’. Hasilnya, Rahim si ibu tidak siap untuk menyambut kehidupan sang janin.

Atau bisa  pula kita belajar dari kisah Fir’aun dan Musa, dimana Musa kecil adalah anak kesayangan si raja.  Namun karena tafsir ahli nujum, sang anak kemudian menjadi musuh utama Fir’aun. Musa kemudian menjadi mimpi buruk Fir’aun yang mengancam tahta kekuasaanya yang mesti disingkirkan.

Bayi Anas, Jaguar dan Anugrah

Jika Anas adalah bayi yang tidak diharapkan kehadiranya secara metafora. Berbeda halnya dengan bayi Jaguar dan Anugrah yang keduanya merupakan bayi yang  secara nyata di buang oleh Ayah dan Ibu mereka. Kedua bayi tersebut, merupakan penghuni dari rumah sakit ‘Wahidin Sudiro Husodo Makassar’.

Bayi jaguar sendiri adalah seorang bayi yang mengidap Microcepalus sejak lahir. Hampir 10 bulan bayi yang oleh para perawat rumah sakit itu diberi nama Faiz itu hidup dari belas kasihan para petugas rumah sakit atau uluran tangan para donator. Namun kisah pilu akhirnya mendera faiz, dari seorang kawan jurnalis di Makassar  memberikan info faiz meninggal beberapa hari lalu. Sedangkan Anugrah yang juga dibuang oleh kedua orang tuanya, kini masih dirawat oleh para petugas rumah sakit, walau mereka belum mengetahui siapa kedua orang tuanya.

Kedua kisah diatas, baik ‘bayi Anas yang metahapor’ dan kisah jaguar dan anugrah telah mengajarkan kepada kita bahwa pada titik tertentu peristiwa kezaliman dan prilaku jahiliyah sebenarnya tidak pernah lepas dari panggung kehidupan manusia. Secara simbolik maupun kongkrit,  kisah para ‘bayi gelap’ merupakan kisah tertua peradaban jahiliyah umat manusia dalam setiap zaman.

Sebuah kejadian yang secara metahphor maupun ‘nyata masih berlangsung di abad yang katanya modern ini’. Dimasa dimana Nabi, telah berhenti diturunkan ke muka bumi. Namun rekaman pristiwa ini sebenarnya sekali lagi, mengigatkan kita akan kisah musa dan perlawanannya atas Fir’aun.

Masalahnya saat ini, di era jahiliyah modern yang kini berlangsung. Sangat sulit rasanya bagi kita mengetahui siapa yang menjadi Musa dan Fir’aun. Dimana ‘kebenaran’ menjadi sesuatu yang sulit dipastikan secara kongkrit. Dimana para tokoh-tokoh politik baik Ustad sekalipun, sulit dipercaya untuk menjadi perlambang dari Musa.

Akhirnya saya merenung, mungkin kita membutuhkan Khaidir yang goib. untuk mengubah keadaan ini. Sosok yang berani bertindak, seperti pelajaranya kepada Musa saat membunuh seorang anak kecil yang menurutnya hanya akan menjadi bencana. Kita butuh khaidir yang gelap dan kisahnya masih pekat, untuk mengubah dan mengantarkan umat manusia kepada kebaikan yang sempurna membawa obor cahaya penyelamat diantara bayi-bayi gelap. Diantara metafora politik, kongkritnya penderitaan bayi faiz dan anugrah!


 

Posting Komentar

0 Komentar