‘Generasi Baru’



Salah satu syarat sebuah Bangsa, Negara, Daerah  dapat mengubah nasibnya menjadi lebih baik  dan beradab adalah hadirnya selalu generasi baru yang memimpin perubahan.

Sebagaimana telah menjadi ‘kepastian’, bahwa perubahan adalah sebuah kemutlakan. Namun perubahan tidak pernah dipicu oleh generasi lampau, perubahan senantiasa digerakan oleh generasi baru yang memiliki semangat, harapan dan kesadaran baru akan masa depan yang lebih baik. Sebagai contoh, andaikan Muhamad Yamin pemuda jong sumatranen bond tidak mengirim sebuah kertas kepada Soegondo pada penutupan kongres pemuda ke II yang berbunyi seperti ini ;
Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoewa
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga 
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.       
Mungkin kita kesulitan untuk mencari alat pemersatu bangsa dari sabang sampai marauke. Karena pada momentum itulah, Yamin muda telah melakukan perubahan besar dengan menyatukan tumpah darah satu, bangsa satu, dan bahasa satu, bahasa Indonesia!
Kisah lainya juga terjadi pada generasi baru Chaerul Saleh di tanggal 15 agustus 1945, ketika mendesak Soekarno dengan nada yang tak sabar ; Sekarang  Bung, sekarang! malam ini  juga  kita kobarkan revolusi !
Sebuah gagasan yang awalnya ditolak oleh Soekarno, karena Bung Karno menilai pemuda-pemuda dihadapanya terlalu muda untuk memahami makna merdeka. Pandangan Soekarno itu mendapatkan amuk dari pemuda Wikana  yang  marah;" Jika Bung Karno  tidak mengeluarkan pengumuman pada malam  ini  juga, akan berakibat terjadinya suatu pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran esok hari ."
Akhirnya setelah perdebatan yang panjang dengan para pemuda, sebagaimana dituliskan oleh Ahmad Soebardjo (1978:85-87) dua hari kemudian, 17 tahun setelah M. Yamin menulis ikrar sumpah pemuda, tepat tanggal 17 Agustus 1945 Soekarno-Hatta  membacakan Proklamasi, Indonesia merdeka!

Sprit M Yamin, Chaerul Saleh, dan pemuda Wikana, adalah sprit dari sebuah generasi baru yang memiliki keinginan untuk melakukan perbaikan ataupun Percepatan. Sebagaimana kata pepatah Generasi Tua hanya akan membahas masa lalu, sedangkan Generasi Baru akan membahas masa depan!

Generasi Baru dalam Kepemimpinan Nasional dan Lokal
Pernah suatu saat saya terlibat sebuah diskusi panjang dengan seorang tokoh politik yang saya sebut sebagai ‘Guru’. Pembicaraan tersebut akhirnya mengarah pada dialog menyangkut persoalan regenerasi nasional maupun lokal memasuki tahun politik 2014.
Pada dialog tersebut, sang guru kemudian mengisahkan bahwa etape kepemimpinan nasional maupun lokal harusnya ‘ibarat sebuah anak tangga’. Lalu guru saya, menjelaskan bahwa setiap generasi akan memiliki masanya sendiri dan waktunya sendiri. Beliaupun, membagi beberapa generasi dan waktu seharusnya ketika generasi itu muncul.

Pada dasarnya apa yang dikatakan oleh guru saya tersebut adalah benar. Namun Guru tersebut sepertinya lupa satu hal, bahwa mereka yang dibaginya dalam generasi tersebut kini sudah memasuki masa ‘golden generation’. Masa keemasan, karena telah terjadinya hibernasi kepemimpinan yang panjang dalam sekala nasional maupun lokal.

Guru saya itu lupa, kini kita berada pada era next generation dimana gelombang ‘politicawave’ telah menjadi pemandu era politik jejaring sosial. Guru saya itu lupa, bahwa mungkin generasinya sendiri sudah terlalu lambat untuk tampil di masa kekuasaan, dimana seharusnya generasi mereka mengambil alih kepemimpinan pada masa lalu.

Guru saya tersebut juga luput membaca ketidaksabaran rakyat akan perubahan, seperti amuk pemilih Jakarta yang memaksa Fauzi Wibowo bertekuk dibawah Jokowi dalam masa enam bulan! Intinya beliau mungkin lupa satu hal, Zaman sudah berubah!

Generasi Baru dan Percepatan

Setiap perubahan akan melahirkan tantangan yang tidak sedikit. Namun perubahan adalah jaminan bagi sebuah ‘Percepatan’. Untuk mencapai percepatan dibutuhkan ‘Generasi baru’ yang mampu menjadi aktor bagi percepatan yang menuju ke arah yang lebih baik.

Pertanyaan selanjutnya siapakah yang menjadi aktor dari Generasi Baru tersebut ? Generasi baru yang bisa menjadi motor percepatan adalah sebuah generasi yang dibentuk oleh kapasitas informasi, visi akan perubahan dan yang paling utama adalah mereka yang memiliki integritas dan dedikasi yang tinggi untuk pengabdian kepada rakyat.

Selain itu tentu saja, Generasi baru haruslah dipimpin oleh para tokoh yang tau mesti kemana perubahan itu dibawa. Tanpa perlu menoleh dan terbebani oleh dosa-dosa masa lalu, tekanan kelompok-kelompok kekuasaan yang menjadi kolega dari gurita kekuasaan masa lalu.
Sejarah telah menuliskan sejumlah nama itu, Yamin, Syahrir, Chairul Saleh, Wikana atau mungkin juga Jokowi-Ahok! Siapkah kita secara lokal mendorong hal tersebut ?Semestinya siap, karena perubahan pasti dan akan terus berlangsung! Selamat datang Generasi Baru!


Posting Komentar

0 Komentar