'Patende'!



Beberapa hari ini, saya terkenang Abraham Maslow. Seorang Psikolog asal Kota New York. Salah teori yang pernah dikemukakan maslow yang begitu membekas dalam kepala saya ketika mengambil mata kuliah psikologi komunikasi, beberapa tahun lalu adalah Self Actualization.

Dalam Pandangan maslow manusia dibentuk oleh beberapa tingkatan kebutuhan. Pertama kebutuhan yang bersifat fisiologis seperti makan, minum dan kebutuhan seksual. Kedua, kebutuhan akan rasa aman (safety needs) dimana setiap orang bebas melakukan aktifitasnya tanpa terganggu oleh ancaman yang bisa mengincar keselamatanya.

Ketiga, kebutuhan untuk memiliki dan cinta (social needs). Pada tingkat ini orang butuh mengikatkan dirinya pada kelompok sosial dan mengidentifikasikan dirinya pada kelompok tersebut. Keempat, kebutuhan akan penghargaan dan kelima adalah yang paling tinggi ‘aktualisasi diri’.

Bagi Maslow aktualisasi diri adalah kebutuhan yang bersifat meta needs (kebutuhan tinggi) yang jauh berbeda dengan basic needs (kebutuhan terendah), dimana aktualisasi diri merupakan pengejawantahan dari ruang ekspresi kedirian yang bersifat langsung. Singkatnya orang yang dalam taraf aktualisasi diri tidak lagi terbebani akan empat kebutuhan dasar manusia tersebut. Analogi sederhana yang bisa kita gunakan untuk menjelaskan orang dengan taraf aktualisasi diri adalah orang yang bisa menunjuk dadanya dengan percaya diri, Ini saya!

Patende Sebagai Komunikasi Simbolik

Patende adalah kata yang akrab bagi masyarakat kaili, kampung saya. Patende memiliki makna memuji, mengangkat kelebihan seseorang dengan tujuan orang yang dipuji tersebut merasa senang. Entah benar tidaknyanya pujian tersebut. Kalau dahulu di kampus, agar dosen merasa senang maka biasanya kami para mahasiswa akan mencari segala kelebihan dosen tersebut, misalnya mencoba membedah tulisan dosen tersebut seolah-olah nampak luar biasa, nampak ilmiah, untuk menampikan kesan cerdas pada si dosen, padahal mungkin tulisan dosen tersebut ‘biasa saja, bahkan tidak ilmiah sama sekali’ !

Tujuanya sederhana, agar dosen tersebut merasa senang. Setelah itu, sesama teman akan tertawa, sambil berbisik; ‘Ini sekedar kompa-kompa’! Itu dilakukan agar si dosen, memberikan nilai yang baik. Kurang lebih, begitulah mungkin analogi yang pas untuk menjelaskan patende dan kompa-kompa yang pengertianya menurut saya hampir sama.

Kembali kepada teori Maslow dan Patende, keduanya memiliki hubungan yang dekat. Jika maslow menjelaskan aktualisasi diri sebagai konsep tertinggi dari seorang manusia, maka patende adalah ruang komunikasi simbolik aktualisasi diri tersebut.

Apalagi dalam konteks masyarakat kaili yang terbiasa dengan kebudayaan tutura (budaya tutur) maka patende adalah bumbu penyedap yang membuat gurih pembicaraan. Terkadang saya hanya tertawa sendiri jika terjebak pada kondisi dimana ada  yang sedang ‘ba tende’ diri saya.

Saya hanya tersenyam-senyum dalam hati, menertawai usaha lawan bicara saya. Dalam hati saya berbisik ‘saya tau sedang di tende, tapi saya senang’! Kasarnya, saya tau lawan bicara saya sedang berusaha melebih-lebihkan diri saya, tapi saya senang  menertawai usaha yang dilakukan oleh lawan bicara tersebut.

Patende dan dinamika Politik Kaili

Kini jelang tahun politik 2014, nampaknya para juru ‘tende’ akan mulai memasuki masa panen. Pasalnya akan banyak objek yang bisa  di jadikan bahan ‘Pertendean’. Biasanya para juru tende akan mendatangi para tokoh-tokoh yang memiliki niat ke kancah politik, seperti pengamat, si Juru tende akan menjelaskan posisi dukungan si Tokoh.

‘Pokoknya bapak sip, 1000 % daerah A, B, C sudah berada dibawah kendali bapak’! Pokoknya mantap, naheba komiu le, najago%$^&$# dan berbagai pujian lebai lainya yang disampaikan oleh para juru tende kepada si Tokoh.

Bahkan seiring dengan metamorfosis politik, dimana instrumen ilmiah seperti survei politik menjadi berkembang, para juru tende juga bermetamorfosis dengan menambah bumbunya ;‘dari hasil survei saya, bapak adalah sosok yang paling diharapkan’, luar biasa, 10 jari tangan dan 10 jari kaki untuk bapak!

Inilah seni dari politik lokal yang bagi saya membuat politik menjadi begitu hidup didalam berbagai perbincangan politik dikampung saya ini.  'Ibarat sayur tanpa garam, tanpa patende politik menjadi tidak sedap lagi'. Namun yang jadi soal, adalah ketika si Tokoh politik justru benar-benar percaya kepada si Juru Tende. Maka itu adalah kecelakaan fatal. Beberapa kali saya melihat, banyak tokoh-tokoh politik lokal di Sulawesi Tengah justru terjebak pada kondisi ini. Bahkan menjadikan si Juru tende sebagai referensi politik mereka.


Bahkan beberapa diantara tokoh-tokoh yang pernah saya jumpai, justru selalu mengharapkan dirinya untuk 'mendapatkan patende'. Kalau berjumpa dengan orang-orang seperti ini, biasanya saya kembali ingat Maslow dengan meta needs (kebutuhan tinggi). Pertanyaanya, layakkah sang tokoh untuk mendapatkan ‘Patende’? Sudahkah sang tokoh mengukur dirinya pada jendela diri Maslow? Lalu bertanya dan bercermin, sedang berada pada titik manakah diri saya ? kalau belum atau lupa, maka jangan salahkan si Juru Tende, kalau akhirnya hasil yang diharapkan tidak sesuai dengan penyampaian si Juru Tende, salahkan diri sendiri mengapa percaya pada Juru Patende?

Selamat Merenung!

Posting Komentar

0 Komentar