Pilkada Jabar dan Jenderal Nagabonar



Jawa Barat akhirnya memilih. Hasil akhir Quick Count sementara oleh sejumlah lembaga survei menjagokan pasangan Ahmad Heriyawan- Deddy Mizwar dengan presentase kemenangan 32, 96%. Sebuah hasil akhir yang begitu berbeda dengan presentase sejumlah lembaga survei yang selama ini cenderung menjagokan Dede Yusuf – Lex Laksamana sebagai pasangan dengan popularitas tertinggi.

Kondisi ini tentu saja membuka mata banyak pihak. Bahwa Kang Aher yang merupakan representasi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sedang tidak bermain-main. Fenomena penangkapan mantan presiden PKS  Luthfi Hasan Ishaaq,  sedikit banyaknya telah menyulut sebuah spirit ditengah PKS, untuk bangkit dan melakukan konsolidasi nasional, termasuk membangun solidaritas kolektif mempertahankan Ahmad Heriyawan sebagai Gubernur yang merepresentasikan kader PKS.

Patut dicermati, Pilkada jabar adalah pilkada yang sangat menentukan bagi konstelasi nasional. Dengan jumlah pemilih 32,5 juta orang dan penduduk lebih dari 42 juta orang, Pilkada jabar merupakan gambaran representative pemilih dengan kuantitas besar yang mencerminkan konstalasi Nasional.

Dimana seperti yang dikatakan oleh presiden PKS yang baru, Anis Matta bahwa PKS akan segera berbenah. Dalam momentum itulah, PKS sedang membuktikan dirinya dengan memastikan kemenangan Petahana jabar yang merupakan kader murni PKS sejak awal.

Antara Komandan dan sang Jenderal

Apa persamaan antara fenomena Ahmad Heriyawan dan kemenangan Syahrul Yasin Limpo di Sulawesi Selatan. Jawabanya sederhana, sama-sama petahana yang mampu mengemas kebehasilan mereka dengan baik ketengah publik.
 
Terlepas dari sejumlah kritik yang diberikan oleh para  kandidat penantang. Ahmad Heriyawan mampu mencitrakan dirinya sebagai kandidat yang sukses dalam membangun daerah. Sukses dalam mengelola program pendidikan yang berkualitas dengan isu pokok program mencukupkan ruang kelas baru(RKB) dan terus melanjutkan pembukaan 2 juta lapangan kerja.Itulah modalitas simbolik yang dimiliki oleh seorang kandidat petahana, yakni mampu melakukan klaim keberhasilan serta melanjutkan program pembangunan yang mereka kerjakan.

Sementara itu kandidat penantang yang bermunculan baik Rieke Diah Pitaloka maupun Dede Yusuf Belum mampu mengemas dengan baik isu perubahan yang mereka usung.  Termasuk membangun kepercayaan ditengah publik bahwa mereka layak dipercaya melahirkan sebuah perubahan. Euforia kemenangan Jokowi bukanlah barometer dari desakan perubahan secara menyeluruh ke benak para pemilih.
Karena pada titik tertentu kekuatan basis program, rekam jejak keberhasilan menjadi barometer tersendiri. Jokowi sekalipun, sebelum berhasil memenangkan Pilkada Jakarta telah membangun klaim keberhasilan kota solo. Sedangkan Rieke maupun Dede Yusuf walau punya pengalaman politik baik menjadi anggota DPRRI maupun wakil Gubernur, belum memiliki trad record yang cukup kuat berada pada posisi eksekutif.


Pengaruh Nasional

Dari tiga pilkada Gubernur yakni Pilkada Jakarta, Sulsel dan Jawa Barat telah menunjukan betapa calon-calon Partai Demokrat  kurang mendapatkan dukungan pemilih baik pada posisi petahana seperti Fauzi wibowo, maupun pada posisi penantang seperti Ilham Arif Sirajuddin  dan Dede Yusuf di jawa barat.
Ini merupakan sebuah indikasi bahwa kapal partai demokrat sedang  terhempas badai. Bukan hanya pada skala pusat, namun telah sampai ke daerah.Apalagi jika ditarik antara isu nasional maupun lokal yang berdekatan, kekisruhan Partai Demokrat yang dicitrakan sebagai partai Korup benar-benar telah membentuk freming tersendiri didalam benak konstituen.

Momentum nasional inilah sedikit banyaknya telah mempengaruhi pandangan pemilih atas sosok kader-kader partai demokrat. Dalam hemat saya, setelah melakukan bacaan atas tiga pilkada, baik itu Jakarta, Sulsel dan Jawa Barat. Fenomena Partai Kader memang sedang menguat. Contohnya saja di pilkada Jakarta dimana PDIP mampu menetapkan pilihanya secara benar, Sulsel dimasa kedua kepemimpinan Syahrul yang memobolisasi kekuataan Golkar ataupun PKS di Jawa Barat.

Sementara itu partai dengan mengandalkan figur sentral contohnya seperti SBY dan Demokrat sangat rentan. Karena pada titik tertentu partai dengan mengandalkan modalitas simbolik figure semata tidak akan bertahan lama. Kondisi jawa barat, harusnya juga menjadi warning system bagi partai seperti Gerindra dengan Ikon Prabowo, dimana jika tidak segera melahirkan figur-figur alternative, tentu nasibnya bisa jadi akan berakhir sama dengan demokrat pada masa akan datang.

Kekuatan sistim dalam mengantisipasi perubahan politik inilah yang menjadi kata kunci Partai kader seperti Golkar, PKS ataupun PDIP. Terlepas mereka memiliki ikon partai, namun secara sistemik mereka mampu segera mendeteksi persolan yang datang menimpa partai dan kadernya, tanpa perlu menyandera patron utama partai itu sendiri.


Pemberontakan sang Jenderal Nagabonar
Melihat fenomena yang ada,  kita patut memberikan apresiasi terhadap pilihan atas Dedi Mizwar yang menjadi pendamping Ahmad Heriyawan. Setidaknya PKS sadar bahwa pemilih jabar, tidak sepenuhnya terpengaruh akan program semata, dibutuhkan sosok yang juga memiliki popularitas personal yang baik, untuk menopang kandidat dengan orentasi pada basis program seperti Aher.
Memunculkan sang Jenderal Nagabonar adalah pilihan yang benar. Sosok Dedi Mizwar adalah kekuatan tersendiri yang mampu membangkitkan memori kolektif pemilih akan sang jenderal Nagabonar. Setidaknya pasangan ini mengakomodasi wajah perubahan dan petahana secara bersama.

Selain itu, formulasi ikonik lokal seperti pelawak Sule juga adalah hal yang tepat, karena mampu membangun proximity pemilih.  Walaupun banyaknya kritik sejumlah akademisi akan kemunculan  Sule. Karena memang pada akhirnya yang mayoritas  berbondong-bondong ke TPS adalah mereka yang bukan akademisi atau para pengamat tapi rakyat biasa yang mengingat sebuah Iklan Parawisata, ‘Jawa Barat adalah Sule, Ahmad heriyawan dan Jenderal Nagabonar !

Posting Komentar

0 Komentar