'Seni Kemungkinan Ala Balon Walikota'


Politik ‘the art of possibilities’. Mungkin itulah yang tertanam di benak para bakal calon Walikota Makassar yang banyak jumlahnya. Politik adalah seni kemungkinan. Kemungkinan untuk dipilih dari 1,046,285 (satu juta empat puluh enam ribu dua ratus delapan puluh lima ribu) pemilih kota Makassar.


Kemungkinan memiliki suara di dua ribu dua ratus lima puluh enam TPS. Kemungkinan bisa dilirik oleh parpol atau kemungkinan mendapatkan dukungan lewat jalur independen. Toh politik adalah ‘art possible’. Semuanya mungkin-mungkin saja, ‘maka mari berlomba memunculkan diri’! itulah yang terbaca dari banyaknya baligho bakal calon walikota di Makassar saat ini.

Bukan sekedar bermain dadu

Praktek demokrasi langsung telah membuka ruang sebesar-besarnya bagi setiap warga negara untuk muncul pada panggung politik. Perwajahan demokrasi itu sangat terasa saat ini, mulai dari munculnya sejumlah politisi muda, kaum professional, artis, sampai ki joko bodo [lihat berita; Antara news 10/2/2013]


Seperti bermain dadu dalam hukum probabilitas, demikianlah kontestasi pilwali Makassar 2013. Bahkan ada satu kandidat dengan berani mengusung ‘makassar idol’untuk mencari wakilnya, mirip audisi sebuah ajang pencari bakat stasiun televisi. Dalam ranah kreatifitas untuk mensosialisasikan diri, tentu saja ini merupakan sebuah sterategi yang cukup kreatif. Walau pada titik tertentu juga membuat cibiran, karena publik bukan sedang memilih artis tapi calon pemimpin dengan kapasitas yang mumpuni untuk memimpin sebuah kota besar sekelas Makassar.

Politik memang bukan sekedar debat menyangkut visi, tapi politik juga merupakan seni mengelola kesan kepada pemilih. Setidaknya itu yang bisa kita lihat dari para bakal calon walikota yang kini bermunculan. Tapi semua kandidat yang memiliki niat bertarung dalam pilkada Makassar juga hendaknya tidak hanya mengusung kreativitas tanpa isi, atau dalam bahasa sederhananya bukan hanya casingnya ji, tapi isinya!

Hendak kemana Makassar akan dibawa ? apa program yang mereka tawarkan secara kongkrit yang bisa dilakukan? bagaimana cara mewujudkan hal tersebut ?
Karena pada titik tertentu masyarakat sebenarnya sedang jenuh pada gaya kampanye popularitas apalagi sekedar model pencitraan.

Publik sedang menanti langkah apa yang bisa ditawarkan oleh para calon walikota untuk mengatasi kemacetan kota Makassar, banjir atau pengelolaan kota yang lebih manusiawi. Karena menjadi walikota, bukan sekedar ‘bermain dadu atau seni kemungkinan’ seperti hukum‘probabilitas’. Menjadi pemimpin kota adalah sebuah tanggung jawab besar untuk mewujudkan kesempatan bagi banyak orang, memberiguidance, yang memungkinkan penduduk  didalamnya mencapai impian dan cita-cita mereka.

Mewujudkan Kota Impian
                                                                    
Ide tentang kota yang unggul telah hadir sejak peradaban Yunani. Penguatan demokrasi, pembentukan social reforms, pengentasan kemiskinan, penciptaan ruang kebudayaan adalah gagasan universal yang merupakan impian tentang sebuah kota.

Singkatnya sebuah kota impian adalah‘City magnifty human strengths’ ungkap Edward Glaeser. Sebuah kota yang memberikan kesempatan bagi semua penduduknya bisa maju, sejahtera dan bahagia. Kota yang mampu membuat kesempatan bagi warganya untuk bisa memenuhi kebutuhan dasarnya dan menjadi inspirasi ‘A Learning City’.

Tanpa perencanan yang baik, apalagi ditopang oleh keberpihakan atas ruang, jangan berharap kita bisa menghadirkan sebuah kota impian, apalagi menciptakan kota dunia. Setidaknya seorang pimpin Makassar masa depan adalah mereka yang memiliki kapasitas perencana yang memiliki daya laksana. Pemimpin  yang dengan kekuasaan yang diberikan secara politis oleh rakyat, mampu menerjemahkan kepentingan manusia atas ruang dan ruang atas manusia.

Itulah dialog peradaban yang harusnya dibangun dalam menyongsong pemilihan walikota Makassar kedepan. Karena hajatan politik, bukanlah kontestasi untuk memilih artis. Sudah seharusnya demokrasi mampu melahirkan sebuah ruang untuk kebaikan-kebaikan bersama. Salah satunya melahirkan pemimpin kota Makassar yang memiliki visi yang baik bagi kemajuan kota, sekaligus mampu memberikan ruang dan kesempatan yang sama bagi rakyat untuk dapat hidup.

Bukan sekedar Positioning tapi juga Policy

Membaca sterategi politik para kandidat yang cenderung berada pada pesan-pesan permukaan membuat kita menjadi miris. Karena para kandidat lebih sibuk untuk membangun positioning diri tanpa membangun policy (kebijakan), apa yang mereka lakukan setelah dipilih oleh rakyat.

Para kandidat yang muncul lebih sibuk berteriak ini saya! bukan ini program saya. Padahal jika disadari, tipologi pemilih kota yang pada umumnya memiliki kualitas pendidikan yang baik, cenderung mengharapkan  identitas kebijakan personal seorang kandidat.

Alangkah eloknya jika seorang kandidat terkenal oleh programnya bukan terkenal karena kenarsisan politiknya! Karena menjadi walikota Makassar bukan sekedar perlombaan siapa yang jumlah balighonya paling banyak, siapa yang paling gagah atau paling cantik, menjadi walikota adalah siapa yang paling layak menjadi manajer bagi kita semua untuk mencapai kota impian.

Posting Komentar

0 Komentar