‘Comandante’



Venezule berduka. Selama sepekan Negeri Bolivarian mendeklarasikan hari berkabung Nasional. Kabar ini datang, setelah selasa 5 maret 2013 sang comandante Hugo Chavez kalah dengan penyakit kangker yang mengerogotinya. Rakyat  Venezuela  berteriak, ‘kita semua adalah Chavez’! Rintihan para pengikut yang kehilangan pemimpinya terdengar dimana-mana.

Bahkan, rasa pilu itu, bukan hanya terjadi di Venezuela. Namun keberbagai belahan dunia, menyentuh pikiran mereka yang pernah mengenal gagasan-gagasanya.Tak terkecuali puluhan sahabat saya yang menjadi bagian dari  pengagum chaves. Mereka menulis di jejaring sosial ‘kita kehilangan sang Revolusioener’!
Pasalnya, sang comandante bukan sekedar idola bagi rakyat venezula, tapi juga menjadi idola dunia. Chaves adalah sedikit dari para pemimpin dunia yang berani melakukan langkah-langkah besar atas  negerinya. Lewat kebijakan agrarisnya menyangkut reformasi kepemilikan tanah, Chaves menetapkan pengambilalihan lahan-lahan tidur, tanah milik swasta dan mengembalikan sebagai hak milik Negara.
Lingkaran Bolivarian.
Dalam bidang ekonomi, melalui program Revitalisasi dan Nasionalisasi perusahaan asing yang selama ini memegang kendali atas faktor-faktor produksi Venezuela,  seperti minyak bumi dan tambang emas, Chaves bergerak membangun  bangsa Berdikari (berdiri di kaki sendiri).
Chaves juga  mempelopori lahirnya sebuah model baru bagi transformasi kerakyataan melalui Lingkaran Bolivarian. Dimana pemberdayaan komunitas yang terdiri dari 7-10 individu yang menikmati status yang setara. 

Fungsi langsung yang dimiliki setiap lingkaran adalah keterlibatan komunitas sesuai dengan kebutuhan dan kekhususan tempat tinggal mereka.
Lewat lingkar Bolivarian, partisipasi rakyat bisa berwujud. dalam beragam bentuk perbaikan infrastruktur lingkungan, mempromosikan acara-acara kebudayaan, atau berpartisipasi dalam program-program nasional. 

Chaves dengan berani mampu membangun kesetaraan kelas ditengah rakyat melalui pemberdayaan masyarakat secara kongkrit.
Saat ini, terdapat 2,2 juta rakyat yang terdaftar sebagai anggota Lingkaran Bolivarian. Bahkan, Rumah Bolivarian (Casas Bolivarianas) telah berkembang ke berbagai program regional. 

Terlepas dari kritik bahwa chaves merupakan seorang diktator karena menduduki jabatan Presiden dalam masa yang panjang, fakta yang tak bisa juga dibantah bahwa Chaves adalah pemilik suara mayoritas rakyat Venezuela yang dipilih melalui mekanisme pemilihan umum secara langsung.

Chaves dan Soekarno
Jika dunia memiliki Chaves sebagai pemimpin yang mampu mengetarkan, melawan  kebijakan  imprealisme asing dengan melakukan nasionalisasi di dalam negerinya. Sangat berbeda dengan Indonesia, dimana asset-aset sterategisnya justru dikuasai perusahaan asing seperti Freeport, E&P, Newmont serta sederet nama-nama korporasi multi nasional lainya.
Padahal Chaves untuk melakukan nasionalisasi tersebut mesti mengubah konstitusi negara mereka. sedangkan Indonesia secara jelas dalam undang-undang dasar 1945   yakni pasal 33 menyatakan;  ‘Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai dikuasai oleh Negara dan digunakan secara penuh untuk kepentingan Negara’.
Bedanya Venezuela melahirkan chaves sebagai pemimpin di tengah gurita kapatalisme saat ini. Dimana kapitalisme tak lagi memiliki lawan, sementara Indonesia telah ke hilangan soekarno di masa lalu, saat hukum konstitusi ini baru saja dibentuk dan diberlakukan. Sebuah hukum yang jauh lebih tegas dan lebih dahulu  dibandingkan gagasan chaves untuk negeri Venezuela.

Belajar dari chaves
Harusnya para politisi negeri ini, menjadikan chaves sebagai salah satu teladan.  Melalui program pro rakyatnya Chaves mampu membuat pemilih tetap mencintainya. Walau tidak adil memang menyamakan kondisi politik Venezuela dan indonesia. Tapi setidaknya kita bisa membaca, bagaimana seorang pemimpin dapat dipercaya oleh rakyat.
Konstitusi negeri ini pada dasarnya mengharapkan suatu kualitas kepemimpinan yang bisa lebih baik dari  Hogo Chaves. Namun sayangnya pemimpin-pemimpin yang  kini berkuasa malah terjebak pada hedonisme singkat yang membuat kekuasaan mereka cenderung korup. Ini mengindikasikan tidak selamanya konstitusi yang baik akan melahirkan kualitas kepemimpinan yang baik pula.
Inilah fakta mendasar yang melingkupi para pemimpin-pemimpin politik Indonesia saat ini.  Gaya hidup, prilaku hedonisme, telah menghilangkan integritas mereka dimata rakyat. Itulah alasan mengapa rakyat tak lagi menghormati pemimpinya karena prilaku para pemimpin itu sendiri.  
Rakyat tidak lagi merasakan 'adanya pemerintah' yang hadir di tengah kehidupan mereka. Stigma pemerintah tidak lebih dari ‘segerombolan penjarah uang rakyat’ telah membuat kepercayaan terhadap lembaga-lembaga politik dan pemerintahan semakin melemah.
Dalam kondisi seperti ini, dimana krisis kepercayaan telah merebak dimana-mana . Antara rakyat dan pemimpinya saling curiga, liberalisasi asset-asset sterategis negara semakin meluas, kita hanya bisa berharap semoga dimasa akan datang, akan lahir sang comandante di negeri ini. 
Ia yang mampu bersuara lantang dan berpihak kepada kaum mustadh'afin ! 

Semoga!

Posting Komentar

0 Komentar