‘Preman’


Di Zaman Resesi dunia, pekerjaan sangat sukar juga pendidikan. Di sudut-sudut jalan banyak pengangguran, jadi preman untuk cari makan…
(Ikang Fawzi lagu Preman  bait ke 4)

Satu-satunya lagu Ikang Fawzi yang masih saya ingat betul, mungkin hanya Preman! Lirik lagu suami Marissa Haque tersebut pernah melegenda di paruh tahun 1987 sampai era 1990.  Kala itu, Ikang Fawzi adalah idola anak muda Indonesia. Ikang tampil dengan ikat kepala, jeans robek selutut, jaket kulit, serta berbagai emblem seperti kalung dan rantai besi. Membawa pesan komunikasi visual yang merepresentasi fashion vintage yang unik, antik, sekaligus sangar.

Lengkingan suaranya menggelegar di jagad musik rock tanah air, lengkap dengan salam metal tiga jari. Nada-nada satir dari lagu preman yang dibawakan ikang juga mengandung kritik sosial bagi orde baru masa itu. Apalagi dengan sangat baik, Ikang  menggambarkan sebuah realitas dibalik lahirnya premanisme; Zaman Resesi dunia, pekerjaan sangat sukar juga pendidikan. Di sudut-sudut jalan banyak pengangguran, jadi preman untuk cari makan!

Mungkin karena lirik inilah, orde baru dengan ‘politik lebelisasinya’ menjadi semakin geram. Dibangunlah framing bahwa musik rock adalah musik para preman dan para preman adalah mereka yang mendengarkan musik rock!

Preman dalam masa kolonial

Entah dari mana awalnya istilah Preman. Tapi dari banyak literatur, dijelaskan kata preman dilekatkan pada bahasa belanda  yakni ‘vrijman’.  'vrij' yang artinya bebas atau merdeka, dan 'man' yang artinya orang, sama dengan istilah dalam bahasa Inggris, free man, ‘orang yang bebas atau merdeka’.

Pada zaman kolonial, mereka yang tidak ingin patuh dengan belanda dan senantiasa melawan untuk terlibat kerja paksa dilekatkan sebagai kelompok preman. Para preman biasanya adalah kelompok orang-orang sakti, jagoan, pemberani yang menolak untuk patuh pada aturan dan  ancaman bedil senjata belanda.
Penjajah kemudian menuduh bahwa para jago atau ‘vrijman’ sebagai biang keladi dari setiap kegaduhan yang terjadi, namun bagi rakyat Indonesia para jagoan sebenarnya adalah penolong mereka dari kekejaman serta kesewenangan penjajah belanda. Misalnya saja kisah si pitung dan si conet di Batavia.

Namun dengan politik ‘devide et impera’ (pecah belah) belanda. Satu persatu para jagoan kampung  tersebut di rekrut oleh para tuan tanah, pemilik lahan partikulir, untuk  dijadikan tukang pukul atau centeng. Tugas lainnya adalah mereka memunguti pajak dari rakyat seraya bekerjasama dengan penjajah melawan kelompok pejuang atau ditugasi sebagai mata-mata.

Soeharto, Seno Gumira,  dan Penembak Misterius
Orde baru yang mendewakan tertib sipil menjadikan preman sebagai musuh yang mesti diberantas karena membuat resah. Selain itu, para preman juga menjadi sebuah kekuatan yang dipandang berbahaya karena memiliki potensi untuk mengganggu tertib rezim Soeharto pada masa itu.

Adalah Seno Gumira yang mampu merekam  kisah tragis terhadap mereka yang dituduh preman melalui kumpulan cerpenya yang berjudul ‘penembak misterius’(1993; PT. Pustaka Utama Grafiti). Petrus memang menjadi momok yang begitu menakutkan pada masa itu.Melakukan eksekusi tanpa peradilan dan hanya menyisakan mayat dijalanan. ‘Kekerasan harus dihadapi dengan kekerasan’, itulah pikiran Soeharto. Bahkan sang Jenderal membuat istilah khusus bagi hukuman tanpa peradilan yang disebutnya sebagai treatment sebagaimana ditulis dalam  autobiografi Soeharto ; pikiran, ucapan dan tindakan saya (1989; 69).

Bukan itu saja, Rezim Soeharto bersama ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia)  melakukan sebuah oprasi yang diberi nama oprasi celurit pada paruh 1980-an. Dengan dalih mengatasi ganguan keamanan ratusan korban jiwa yang dituduh sebagai pelaku kejahatan dibantai di Jakarta, Jawa Tengah ataupun kota-kota lainya.
Mayat-mayat itu ketika masih hidup dianggap sebagai penjahat kriminal yang tak perlu melalui proses peradilan. Walau secara taktis juga sering dimanfaatkan bagi berbagai kepentingan politik. Ibarat mainan, para preman  ketika tidak lagi berguna maka akan segera dieksekusi oleh Petrus. Mereka diberi label ‘Gabungan Anak Liar (Gali) yang mesti di tertibkan lewat OPK (oprasi penumpasan kejahatan) .

Petrus yang tidak lagi misterius
Jika dimasa ‘orde baru eksekusi tanpa hukuman dilakukan secara sembunyi-sembunyi’, maka di era reformasi yang serba telanjang, ekesekusi mereka yang dilebel preman dilakukan terang-terangan. Seperti juga korupsi, dimasa orde baru yang dilakukan dibawah meja, di era saat ini mejanya juga dikorupsi!

Jika Soeharto melakukan eksekusi senyap melalui Penembak misterius. Maka era reformasi para eksekutornya kongkrit dan nyata. Itulah yang terjadi di lapas cebongan, ketika sejumlah anggota komando pasukan khusus (KOPASSUS) melakukan pembantaian secara sadis sambil menyanyikan lagu mars mereka.

Bahkan dengan ‘gagah berani’, sejumlah jenderal TNI-AD menyatakan tindakan yang dilakukan oleh para anak buah mereka tersebut merupakan kisah kepahlawanan yang dilandasi semangat ‘Korps Kesatuan’(KORSA).  Sebuah watak yang tak jauh berbeda dengan pola Soeharto  pada tahun 1982. Ketika itu, Presiden Soeharto memberikan penghargaan kepada Kapolda Metro Jaya, Mayjen Pol Anton Soedjarwo atas keberhasilannya melancarkan OPK untuk membantai mereka yang dituduh Preman.

Sebuah hal yang jauh dari tindakan nalar sehat. Bukti bahwa kekuasaan masih melakukan kekerasan pada rakyat dimana preman dipandang sekedar sebagai public enemy (musuh bersama). Bukan sebagai manusia Indonesia yang hadir karena kegagalan Negara dalam mengurus hajat hidup orang banyak. Sebuah pandangan yang juga tak jauh berbeda dengan prespektif kolonial, mereka yang tidak ingin patuh pada logika kekuasaan lantas mesti dibungkam, dibuang atau dibunuh. Padahal sejatinya para preman juga merupakan anak-anak kandung republik ini. Rakyat, yang ditelantarkan oleh Negara. Manusia-manusia yang  sebenarnya tak pernah memilih untuk menjadi preman.

Mereka hadir akibat gagalnya pemerintah mewujudkan cita-cita Negara yang berkeadilan dan melindungi segenap rakyat dan tumpah darah Indonesia. Seperti kata bait akhir lagu preman, dibalik wajah yang seram tersimpan damba kedamaian. Di balik hidup urakan mendambakan kebahagian, bahagia…bahagia…


Posting Komentar

0 Komentar