‘Dukun Politik’


Dukun, cenayang, sanro, orang pintar, guru spiritual, adalah sejumlah istilah yang banyak dilekatkan bagi  mereka yang dipandang bisa meramalkan sebuah kejadian. Menguak tabir yang tak terjangkau oleh rasionalitas. Kehadiran mereka dalam panggung politik indonesia telah melintasi waktu, dari orde ke orde. Melingkari kekuasaan dari kepala desa di pelosok negeri sampai presiden di ibu kota negara.

Baru-baru ini, saya diundang oleh salah satu pasangan calon Walikota Makassar. Seperti biasa, saya dan team peneliti diminta memperesentasikan hasil penelitian kami menyangkut sikap pemilih kota Makassar menjelang masa pemunggutan suara pada bulan September 2013 nanti.

Belum lagi lima menit berbicara, menjelaskan bagian awal fenomena yang kami analisis berdasarkan fakta penelitian. Seorang lelaki paruh baya yang saya taksir umurnya diatas lima puluh tahun langsung memotong pembicaraan. ‘Begini nak, kalau saya tidak usah pake survei-survei.  Apalagi analisis-analisis, saya yakin bahwa kandidat ini pasti menang’. Saya sudah mengumpulkan seluruh foto kandidat, hasilnya foto kandidat ini yang naik. Tegas lelaki dengan kepulan asap rokok di bibirnya.

Karena diminta menghentikan pembicaraan, mata saya menoleh mencari kandidat yang mengundang kami. Ternyata kandidat walikota tersebut hanya diam seribu bahasa. Tak berani menyela keputusan lelaki yang sepertinya adalah konsultan perdukunan pasangan tersebut.

Karena sudah sering berhadapan dengan kondisi seperti ini. Tanpa berpikir panjang, apalagi hendak berdebat, laptop segera saya tutup. Team segera berkemas, proyektor langsung shutdown, kami pamit pulang! Apalagi secara material kami belum menjalin kontrak dan komitmen apa-apa dengan pasangan kandidat yang mengundang. Ini mempermudah untuk pergi tanpa beban.

Dukun Politik VS Konsultan Politik

Dalam perjalanan pulang saya tertawa dalam hati. Setidaknya ini merupakan pengalaman kesekian berhadapan dengan para ‘calon kepala daerah dengan mentalitas klenik’. Pada beberapa pilkada, teramat sering rasanya mesti berhadapan dengan para dukun politik yang menjual mimpi kepada calon kepala daerah baik yang baru akan mencalonkan atau sudah pernah menjabat sebelumnya (incumbent).

Dari selusin Pilkada, dimana kami diminta untuk melakukan survei dan pemetaan pemilih para dukun pasti senantiasa hadir dalam panggung politik. Gaya dan pola yang kami temui juga  berbeda-beda. Mulai dari yang bersurban dan rajin berdoa, dukun yang hobinya membakar kemenyan dan komat –kamit sembari meniupkan jampi-jampi ke foto ataupun secara langsung di wajah calon, bahkan ada pula yang  menggunakan benda-benda yang dipandang ghaib seperti keris  yang bisa berputar ibarat kompas yang mengarah pada wajah kandidat.

Biasanya para dukun ini hadir atas permintaan kandidat ataupun tim sukses. Tidak jarang para dukun ini  memiliki kekuasaan yang besar dalam memutuskan banyak hal. Misalnya saja untuk penentuan gambaran visual optic baik foto kandidat maupun tema kampanye yang akan digunakan.

Para dukun biasanya akan sangat berperan, utamanya dalam menentukan foto kampanye yang akan digunakan. Alasanya sederhana, untuk memunculkan kharisma dan pamor kandidat. Tak hanya sampai disitu, para dukun politik ini  juga sering membenturkan hasil survei yang  diperoleh dari  multistage random sampling dengan wawancara langsung ke pemilih, dengan hasil wawancara mereka kepada roh-roh yang katanya diperoleh dari  hasil tirakat.

Kalau sudah seperti ini, kadang saya bercanda kepada teman-teman sesama peneliti,  ‘mungkin sebaiknya kita menggunakan para roh sebagai tenaga surveyor, pasti lebih cepat dan murah’. Cukup dibayar pake kemenyan data segera muncul, tak perlu tabulasi, analisis parametrik, atau uji korelasi dan berbagai metode statistika yang melelahkan.

‘Being lonely (manusia kesepian)’

Erich Fromm mungkin paling pas menjelaskan fenomena mengapa dukun dan konsultan Politik senantiasa dibutuhkan oleh sejumah kandidat yang ingin bertarung dalam pilkada. Dalam Escape from Freedom (1941) Erich Fromm , menjelaskan bahwa kebebasan yang ditemukan oleh manusia modern telah melahirkan manusia-manusia yang kesepian (being lonely).

Manusia-manusia kesepian ini,  kemudian menciptakan satu ketergantungan baru, yakni kebutuhan ‘reseptif’. Di mana manusia modern dengan corak hidup modern akan selalu mengharapkan dukungan dari luar dirinya untuk meyakinkan, memberikan dukungan moral, atau hal yang sangat sederhana sebagai teman untuk berbagi kegelisahan.

Fenomena politik saat ini, apalagi dalam era demokrasi langsung seperti Pemilukada, di mana ketidakpastian adalah rumus utamanya, maka ketergantungan akan informasi menjadi sangat penting bagi personalitas seorang kandidat. Disinilah konsultan politik dan para dukun memiliki kesamaan peran. Mengisi ruang personalitas kandidat yang penuh cemas.

Bedanya, para konsultan memberikan pertimbangan dengan menggunakan hukum probabilitas (Peluang/kemungkinan) dengan sejumlah pertimbangan ilmiah. Sedangkan para dukun memakai pendekatan mistis.  Dua ruang yang sama-sama berada pada taraf ‘kemungkinan’ .

Memang teramat sulit mencari kepastian dari sebuah realitas politik yang setiap menit dan detik bisa berubah. Termasuk juga mengukur persepsi publik menyangkut kepastian suara dukungan bagi pasangan kandidat. Karena ada banyak faktor dibalik lanscap politik yang bisa jadi melahirkan gaya saling tarik menarik atau tolak menolak.


Itulah fenomena politik hari ini, di mana antara yang rasional dan yang mistis bisa berbaur menjadi satu. Saling bertukar tempat dan ruang, atau bisa jadi bercampur. Seperti juga banyak konsultan yang berubah menjadi dukun atau dukun yang menjadi konsultan politik.

Jika sudah seperti ini, maka jangan heran jika banyak walikota/ bupati sampai presiden dalam mengelola negeri ini senantiasa gamang untuk mengambil keputusan yang tegas,  antara keputusan yang berdasarkan pertimbangan rasionalitas ataupun pertimbangan mistis. Antara pertimbangan para pakar universitas dan petunjuk ahli nujum.  

Seperti juga pasangan calon walikota yang mengundang kami malam itu, yang ragu apakah akan menggunakan metode ilmiah untuk menjadi cermin yang jujur, apa adanya dan mungkin tragis ataukah dukun yang membangun kepercayaan  bahwa pasangan tersebut telah terpilih ?





Posting Komentar

0 Komentar